Monday, 3 June 2019

Halalku Hilang menjelang Hilal




"assalamualaikum" suara berjamaah dari depan pintu
"waalaikumsalam" ibuku cepat menjawabnya
"Monggo masuk, duduk" lanjut ibuku seraya mempersilahkan duduk.
Mereka masuk kerumah, seorang perempuan paruh baya, bapak-bapak dan seorang pria sesusiaku. Aku tidak berani keluar siang itu, iya pura-pura masih tidur. Sebenarnya kuping ku menempel erat pada tembok samping ruang tamu berharap mengetahui pembicaraan mereka. Ibu dan Bpk ku ternyata sudah berkumpul dan berbincang akan hal itu. Iya perjodohan kami. Aku terkejut mendengar suaranya, iya dia laki-laki yang dekat dengan ku akhir-akhir ini. Mataku berbinar, laki-laki yang ku kira sahabat ternyata berniat mengkitbahku.

Kami berteman, tidak ingin merusak persahabatan lebih baik diam meski sama tahu karena halalkan atau ikhlaskan menjadi prinsip kami dengan kisah kriteria calon pasangan yang pernah kami perbincangkan. Yah dag dig dug door rasanya, tidak lama kemudian ibuku membuka pintu kamar. Aku yang berpura-pura tidur dibangunkan oleh ibuku hanya untuk menyalami calon keluarga baruku. Tanpa pertanyaan iya atau tidak rupanya mereka sering memperhatikan kedekatan kami sehingga tidak lagi bertanya pasti kami akan menyetujui perjodohan itu.

Aku segera keluar, dia sudah tersenyum melihat ku, iya dia sering mengejekku tak jarang aku marah tapi itu caranya membuat ku tertawa di ending cerita. Percakapan kami berlangsung seru bahkan canda tawa terdengar begitu bahagia. Tanpa basa-basi tanggal pernikahan segera ditentukan, mendadak tapi sungguh itu diluar dugaan. Dua bulan lagi, patas super cepat ini namanya.

Dua bulan sejak saat itu kami tidak berkomunikasi, iya adat di daerah kami meminta agar terjadi pinggit. Pinggit adalah larangan
 calon mempelai berkomunikasi sebelum akad. 
Dua bulan serasa lama bukan, candaan, isengan yang biasanya dia lakukan sirnah bagai ditelan malam. Ditambah bulan ramadhan yang sebentar lagi berakhir maka semakin dekat pula tanggal itu.

Besok ini dia pulang, kabar dari ibuku yang
 tengah berbincang by phone dengan ibunya. Dia bekerja di luar pulau setelah kami resmi dipinggit katanya itu kesempatan terakhirnya menjadi abdi negara. Semua berjalan lebih indah dari rencana, dia berhasil. Sebelum pengumuman hilal dia sudah sampai rumah dan tentu akan datang bersama keluarga untuk melanjutkan rencana perjodohan kami.

Sore itu kami menonton TV menunggu bagaimana kabar Hilal menjelang hari kemenangan. Namun beberapa saat acara berhenti tertulis kabar duka pesawat penerbangan ke kejawa terhilang kontak dan dipastikan tidak selamat. Beberapa saat Ibu calon kelurga menghubungi Ibu ku mengabarkan bahwa pesawatnya jatuh dan belum diketahui. Isak tangis meraja ditengah keluarga


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day29

Bukan budaya kan?


Agenda tahunan atau sudah menjadi adat dan kebiasaan atau entah apalah namanya bahkan aku tidak bisa menamakan. Iya petasan, hal yang dulu aku anggap sesuatu yang tidak penting dan tidak diperlukan. Mengapa? Yang pasti aku takut kalau dekat-dekat memegang api yang tidak beraturan bahkan tidak segan-segan akan memangsa.

Ramdhan kali ini bukan sautan sahur atau kumandang lantunan ayat suci bahkan adzan serasa berkurang dari biasanya. Pagi sahur yang membangunkan petasan, setiap perayaan petasan. Bahkan tidak jarang orang tua yang sengaja membeli petasan untuk putra-putrinya.

Apakah sepuluh tahun mendatang budaya ini akan berlanjut dan menjadi sebuah sejarah turun temurun? Entahlah. Diantara mereka bisa jadi ada yang sadar akan bahaya dari petasan. Mengingat beberapa tahun terakhir dimana petasan merenggut nyawa, petasan membuat luka. Baiklah jika masih ingin bersama petasan, silahkan, mungkin tanpa petasan tahun baru terasa kurang lengkap tetapi jaga diri kalian baik-baik terutama putra-putri penerus bangsa awasi mereka sebelum petasan yang mengawasinya.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day28

Saturday, 1 June 2019

Dear Calon Imam



Sesekali ku buka buku lama yang bertuliskan kisah demi lembar cerita hidup. "Ini adalah terakhir tetesan kesedihanku", gumamku dalam hati. Membacanya perlembar membuat ku melebarkan pipi seketika. Iya kisah yang dulu menguras air mata sekarang mampu ku tertawakan begitu saja.

Terdapat bagian tebal dibelakang lembar kesekian. Ku temukan dua amplop satu pink dan satu kuning. Amplop kuning ini hasil rampokan ku pada kakak sepupu berapa tahun lalu. Iya warna dan gambar serta isi rupiah yang sangat tegak bak rambut selesai rebonding, lebih indah kalau ku simpan, mengingat itu terakhir ku dapat. Perjuangannya luar biasa untuk amplop terakhir mesti dibully, digoda adek-adek bahkan sampai merengek jadi anak kecil karena udah gede masih minta amplop lebaran. Sebenarnya bukan itu, melihat adek dan yang lainnya tertawa karena tingkahku lebih membahagiakan bukan. Sekarang aku yang bingung mencari penukar dolar tegak untuk sanak saudara.

Setelah puas mengenang beberapa masa, kembali ke amplop pink. Beberapa tahun lalu aku menulisnya, tertulis "Dear Calon Imam" sekali lagi semua membuat ku ingin tertawa. Iya pesan itu sengaja kutulis untuk dia pemenang, penenang dan pelengkap hidupku. "Nak... Sholat ashar" ku tutup buku kecil itu secepat kilat, bahaya jika emak melihatnya bisa ditertawakan kebiasaan konyol ku ini.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day27