![]() |
Kereta dorong ini siap ditinggalkan. Badannya yang kian usang penuh debu bergelantungan. Persahabatan membawa pada arena ini.
Pertemuan berawal dari sini.
"Salam kenal, saya Tia"
"Saya Mila, salam kenal juga Mbk"
Singkat cerita, kami duduk berjajar dengan jarak satu meja saja.
Sunyi, sepi, hanya beberapa kali berbunyi.
"nginggg, ngredek...ngredek..."
Lembar demi lembar keluar bersama angka dan huruf yang terangkai. Rutinitas sehari-hari.
"Waktunya beberes", celetuk Mila
Tia nampak tidak peduli, sederet angka dan simponi cerita telah menunggu dalam waktu.
"Mbk, pulang dulu ya"
Tia mengangguk, tetap pada ekspresi yang sama.
"Jangan khawatir banyanganku akan menemanimu"
"Iya", tetap dengan ekspresi yang sama.
Mila beranjak dan meninggalkannya.
Deretan angka telah selesai. Hawa dingin tiba-tiba merasuk ruangan.
"Bayangan?", Ucapnya.
"Bagaimana bisa orangnya dan bayangannya", ucapnya dalam hati.
Tia menoleh ke kanan tepat bangku Mila. Bulu kuduk berdiri sesosok wanita tampak hitam rata disana. Duduk sama persis sesuai kebiasaan Mila.
Keringat dingin mengucur, berlahan Tia mendekatinya. Tertapaki kaki yang kian mendingin pada keramik ini.
Tangan menganyun dipundak benda hitam.
"Brakkkk...!".
Tangan Tia terhenti, terhentak, menoleh jendela. Bayangan menghilang. Segera berlari ke arah jendela sumber suara. Terlihat kerumunan manusia.
Tangannya menggigil mengetik beberapa angka.
"Tut...Tut...", Lama dan tidak ada jawaban.
"Sial, kemana manusia-manusia ini."
"Srek..", jendela depan terbuka.
"Jum (panggilan sayang untuk semua), Mila", lelaki kerempeng kecil.
Kaget bukan main.
"Kenapa? Itu ada apa?", Borongan pertanyaan.
"Keluarlah"
Sambil menoleh ke kanan dan beranjak keluar.
"Aku tidak berani kesana, bukan Mila kan?"
"Cobalah kesana", bujuknya.
Kakinya seperti otomatis menuju kerumunan, semakin mendingin tertapaki.
"Mila", terulang kata itu dalam hati.
Tidak perlu membuyarkan kerumunan, terlihat wajah itu.
"Aku!, mirip wajahku!".
"Ayo, sudah waktunya pulang".
End

Pertama lihat gambarnya aku dh kaget, terus masuk keceritanya aku berfikir keras, ngomong² dalam cerita itu ada yg mati kak?
ReplyDeleteIya ada
DeleteNah loh kenapa bisa ketemu sama jiwa sendiri?
ReplyDeleteImajinasi haha
DeleteIdenya menarik 🙃
ReplyDelete🙏
Deleteeh.? kok aku bingung?
ReplyDeleteKenapa gambarnya mata menangis ada 4??
ReplyDeleteIya Kak cuma lambang aja sih kalau ada 4 mata yang 2dirinya yang 2arwahnya
Delete