Sunday, 6 October 2019

Sangkuriang : Jawa Barat (Part 1)

POV : Dayang Sumbi Improve
Gambar Kerajaan
Google

Ayahku membuang ku dihutan.
"ayah, kenapa setega ini padaku" sambil ku usap air yang berderai dimataku.
***
Namaku Dayang Sumbi terlahir dari keluarga Raja. Aku adalah anak satu-satunya Raja Sumbing Perbangkara. Aku tidak pernah tahu siapa ibuku. Ayahku selalu mengelak akan pertanyaan itu.
Sejak kecil ayahku, Sang Raja, sangat menyayangiku. Suatu hari ayah mengajakku ke pasar. Aku sangat bahagia.
"Ayah mangga"
Ayahku membelikannya
"Ayah pisang"
Banyaknya permintaan ku membuat ayah berkata
"Putriku sayang buahnya sudah banyak ayo pulang"
***
Tidak terasa aku beranjak dewasa. Rambut ku panjang terurai, kulit putih,  orang bilang gerakan ku blarak sempal. Banyak yang berkata aku gadis sempurna. Hal ini tidak lantas membuatku berbangga. Banyak pemuda kalangan raja mendekati dengan perantaraan ayahku. Aku bingung dengan mereka semua yang memperebutkanku. Hingga suatu ketika ayahku berkata.
"Dayang Sumbi, putriku siapakah diantara raja-raja itu yang ingin kau terima sebagai suamimu"
Aku diam, menatap ayahku yang tengah memberikan tatapan penasaran akan jawaban ku.
"Aku tidak menerima mereka semua Ayah, aku belum ingin menikah"
"Taukah kau Nak jika kau tidak segera memilih salah satu dari mereka kerajaan ini akan terancam bukan hanya itu akan terjadi peperangan yang lebih besar" Nada ayahku meninggi. 
Aku benar-benar tidak mengerti kenapa mereka sampai seperti itu padaku. Aku meminta untuk pergi namun tiba-tiba ayah membuangku dihutan. Dia meninggalkanku sendiri dengan Si Tumang, anjing peliharaan istana. Dia menjagaku di gubuk hutan. Ditemani alat tenun aku melanjutkan kebiasaanku menenun. Setiap hari aku menenun dan terus menenun menghasilkan banyak kain. Aku meluapkan kesedihan dan kekecewaan pada ayahku. Kekawatiran ayah akan kerajaan kami. Mungkin aku dianggap hilang atau melarikan diri karena diminta memilih seseorang yang tidak ku inginkan.
Pada tenunan kesekian benangku terjatuh. Aku terbiasa akan pelayanan kerajaan membuat ku malas mengambilnya.
"Jika ada yang menemukan benangku dan mengembalikannya padaku, kalau laki-laki dia akan kejadikan suami kalau perempuan akan kujadikan saudara" celetukku kala itu.
Tanpa sadar kalimat itu didengar para dewa. Datanglah seekor anjing, Si Tumang, dia membawa benang tersebut.
"Tumang" nada kagetku
Sebagai wujud janji ku aku memutuskan untuk menikah dengan Tumang. Mengetahui hal tersebut ayah sangat marah dan kecewa. Dia tidak lagi memperdulikanku.
Suatu malam purnama, aku melihat sosok lelaki tampan membereskan tenunanku. Dia Tumang, suamiku, aku tidak menduga ternyata Tumang adalah jelmaan dewa. Tidak lama kemudian aku hamil. Kami memiliki anak laki-laki yang tampan seperti Tumang. Ku beri nama Sangkuriang.

Gambar Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Google
Waktu terus berlalu Sangkuriangku sudah semakin besar dia sudah pandai memanah. Suatu ketika aku ingin sekali memakan daging rusa.
"Sangkuriang putraku, Ibu sangat ingin makan daging rusa, apakah kau mau memburukkan untuk Ibu?"
"Tentu Ibu, aku akan pergi bersama Tumang"
Mereka berangkat dengan semangat ke tengah hutan. Aku menunggunya dengan harapan dia pulang dengan daging rusa.  Hari semakin gelap, aku benar-benar khawatir pada putraku dan ayahnya. Beberapa saat terdengar suara Sangkuriang.
"Ibu... Ini dagingnya" dengan wajah sumringah Sangkuriang memberikan daging yang dibawa.
Aku tersenyum bangga keturunan Raja Sumbing Perbangkara pandai memanah seperti kakeknya. Putraku satu-satunya berhasil mendapatkan buruan rusa.
Saat memasaknya aku merasa ada yang mencurigakan dari daging ini.
"Sangkuriang, sini nak?!" Aku berteriak kencang dan putraku mendekat.
"Ada gerangan apa ibu memanggil ku"
"Ini daging apa nak, ibu rasa ini bukan rusa?"
Aku masih belum juga percaya padanya namun tidak sepantasnya aku terus bertanya seperti itu. Tiba-tiba teringat Tumang, aku tidak melihatnya dari tadi.
"Oh iya Tumang kemana?"
Sangkuriang bingung wajahnya.
"Kemana Nak?" Aku mulai geram pada putraku
"Tu... Tumang tadi tidak sengaja terkena busur panahku"
 "Lalu dimana dia?"
"Dia aku minta mengejar babi hutan buruanku tetapi tidak mau Ibu, dia mati dan itu dagingnya" sambil menunjuk arah daging
"Prakkkk...!!!" Entongku melayang dijidatnya.
Hatiku hancur, anakku membunuh bapaknya sendiri. Tidak kuasa ku bendung rasa aku benar-benar marah padanya.
Sangkuriang keluar rumah dan lari menjauh meski dengan luka dijidatnya.

~Bersambung~
Part II https://bit.ly/357UZfA

#Tantangan 4
#Odop Batch 7



6 comments:

  1. sampai sini aku bingung mau sedih atau lucu.. lanjut baca bagian 2 dulu.

    ReplyDelete
  2. aku pengen ketawa takut dianggap makar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketawalah, cerpenis dadakan belum tau arah jalan pulang 😅 Makar apa Kak?

      Delete