Tuesday, 17 September 2019

IJINKAN AKU MENDUA KALI INI SAJA

"Reggg..tulit...tit..tit"
Benda persegi panjang itu melenggang indah membawa deretan kertas merah muda pengantar barang.
"Sudah...! Bang sudah!" Bilik kaca bergetar seolah muak dengan rutinitas yang ada.
Satu persatu truk besar pembawa barang melaju dan pergi menjauh.
Ruang kusam berbahan besi hanya terisi tiga makhluk kian menyempit disiang hari. Tumpukan kertas berserakan dimeja sebelah kiri. Rutinitas selalu seperti ini.
Kursi paling ujung selalu tersenyum sebelum dhuhur, kursi tengah selalu berbahak sesekali diduduki insan yang berbeda. Kursi paling jauh selalu merana, menangis seperti pemiliknya.
Sejak matahari mengintip pelan hingga senja menjelang tidak pula si pemilik meninggalkannya. Sama halnya dengan kertas di meja yang berkali-kali terbang terbawa hembusan kipas dinding inginkan pergi segera. Tidak kalah dengan komputer usang yang kerap diam sebagai tanda protes dan blue screen bermunculan dengan deret kode ala programmer masa depan.
"Ayo nak jangan lemot, mama mau pulang" menatap tajam benda kotak yang sering diam.
Memanusiakan benda adalah cara gadis ini menghibur diri. Sebut saja Mila, gadis yang tengah beranjak dewasa ini hampir dua pekan bergelut di dunia kerja. Bekerja dengan para pria menjadi tantangannya, belajar memahami, mengalah dan mungkin memilih bungkam menjadi pemikiran panjangnya. Berbekal kecuekan mampu membuatnya bertahan ditengah kerasnya dentuman dunia perproyekan.
Diusianya yang terus berkurang kerap kali para rekan datang membawa hati yang tidak digubris Mila. Mulai dari mekanik ahli sampai ketua beda divisi tidak luput dari gosip murahan. Cintanya memang  hancur beberapa bulan yang lalu, tidak lantas membuatnya memilih salah satu dari tawaran.
"Tambah cantik sekarang tetapi masih jomblo, percuma, nih sama Joko, ganteng kan dia" sahut atasan lain
"Jomblo itu banyak yang berkualitas yang sedikit" Gumam Mila
Cacian dan makian sudah menjadi makanan yang siap ditelan setiap harinya. Bosan, muak atau apa, sering dia berniat untuk pergi tetapi setiap kesempatan yang dinanti datang bos besar selalu menghentikan, seolah dia tau akan kehilangan.
"Aku ingin mendua! Tolong ijinkan kali ini saja"
Degupan keras yang tidak pernah terlontar dari mulut kecilnya.
"Aku berjanji akan pergi dan tidak akan menyakiti ku carikan kau pengganti!" Lagi dan lagi hanya terukir direlung hati.



Akep, 17 Sep 2019
#BayarUtang
#Odopbatch7

~sumbangan ide kelanjutannya diterima~

14 comments:

  1. Mencarikan pengganti itu mungkin yang gampang, tapi menyembuhkan hati itu yang susah. Nice ceritaπŸ‘

    ReplyDelete
  2. Setuju sama komen di atas πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

    ReplyDelete
  3. yuli sering baca tulisan seperti ini, banyak makna nya dan kata-kata nya tidak bisa langsung di fahami, jadi pas baca auto merenung, ini jenis apa ya? yuli sering baca di karya sastra kaya buku "horizon"

    maaf akan keawaman yuli hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asal nulis aja sih kak, belum tau ilmunya, yang penting mencoba sambil belajar saja

      Delete
  4. Wah..teknik showingnya kece...jadi bisa ikut memvisualkan situasi disitu...😍

    ReplyDelete
  5. Banyak majas personifikasinya..mantul. Buat cerita tentang peran wanita dalam pekerjaan proyek lagi dong. Di kotaku banyak yang seperti itu, betul-betul dahsyat perjuangannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inshaa Allah next ya hihi belum ada imajinasi

      Delete
  6. sudut pandang siapa yang bilang ingin mendua? katanya jomlo?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudut pandang Mila, Sepertinya banyak yang salah faham disini kata mendua diatas adalah majas, dan bukan untuk manusia atau pasangan manusia

      Delete
  7. Ayo, tebak "Reggg..tulit...tit..tit", bunyi benda apa hayo?

    sepedahcamat.blogspot.com

    ReplyDelete