Friday, 25 October 2019

Aku, (Korban) Cintanya dan Dia (Part II)

Ria menunduk, wajahnya memerah.
"Iya berangkatlah, sana siap-siap biar tidak kesiangan"
Bibir Ria melebar bagai bulan sabit. Dia bergegas ke kamar.
"Ta, buruan siap-siap"
Wajahnya terlihat kaget bercampur bahagia, begitu pula Ria.
"Mandi dulu ya Ri", sambil melipir ke kamar mandi.
"Mbok masih masak?", Sapa Tata yang berjalan ke arah kamar mandi.
"Iya Nduk", sambil bermanja dengan segenap sayuran dimeja.
"Byur...byur...", Terdengar suara air dari kamar mandi yang terlempar mesra kelantai.
Tata dikamar mempersiapkan barang-barang bawaannya nanti.
"Ri banyak benar"
"Eh... Sudah selesai Ta"
"Iya, sana mandi, jangan bilang tidak mandi"
Gelak tawa menggelegar dikamar. Ria memang paling rajin untuk tidak mandi, tidak lain angin di kotanya memang sangat dingin.
Beberapa saat mereka telah siap berangkat.
"Nduk sarapan dulu", suara Ibu Ria menggema dari dapur.
"Iya Mbok", balas Ria.
Mereka segera bergegas. Makan sudah, persiapan sudah, mereka berangkat.
Bersama motor tua peninggalan ayahnya, Tata mengendarainya.
"Ri sebenarnya aku ada janji lho"
"Hah... Janji, sama siapa?", Ria benar-benar kaget.
"Sama itu, cowok yang pernah ku ceritakan"
"Oh...", lanjut dalam hati "Jelas saja semangat kerumahku".
"Maaf ya Ri, orang tua ku tidak tau kalau aku kerumahmu"
"Lho, iya kah?", Ria lebih kaget lagi.
Bagaimana bisa sahabatnya yang sangat patuh pada orang tuanya tidak berpamitan. Bukan patuh lebih tepatnya takut. Tata memang patuh pada orang tuanya namun karena takut. Hukuman dari orang tuanya memang luar biasa. Bahkan bukan cuma dimarahi saja. Bapaknya memang sangat keras, wajar Tata seperti itu.
Perjalanan telah dimulai, angin sepoi-sepoi menemani perjalanan. Sekitar empat puluh kilometer jarak rumah Ria dan tempat wisata. Jalan berliku tajam bagai wahana permainan. Gerbang utama tempat wisata sudah terlihat.
"Kenapa Ta?"
"Dia belum kelihatan ya Ri?", Celingukan memandang kiri dan kanan.
Ria membisu, sedikit kekesalan hatinya. Bagaimana bisa sahabatnya seperti itu. Tidak lama kemudian datanglah sesosok laki-laki bermotor matic keluaran terbaru. Laki-laki itu berhenti didepan motor yang mereka kendarai.
"Hai..", kata Tata.
"Oh ini orangnya", gumam Ria dalam hati.
"Ayo lanjut perjalanan"
Gerbang utama telah terlewati, karcis masuk sudah lunas oleh lelaki tadi. Jalan berliku dan menanjak lebih menantang kali ini. Motor Ria berasap, seperti sudah tidak mampu lagi. Akhirnya bertukar motor, laki-laki itu menggunakan motor Ria. Gigi satu mengantarkan pada puncak tempat wisata. Tata terlihat bahagia. Acara disana cukup menyenangkan, berfoto bersama. Ria bagai lilin penunggu sistem pendekatan mereka.
Hari semakin menunjukkan waktu pulang. Tetap sesuai formasi. Ria dan Tata dengan maticnya sedang lelaki itu menggunakan motor Ria. Awalnya perjalanan indah sebelum bau durian menyempoyongkan kepala Tata.
"Ta, baik-baik saja"
"Pusing Ri, duriannya ngengat"
"Ganti aku yang didepan Ta?", Meski kurang enak karena terfikir pesan Ibunya.
"Iya Ri"
Motor matic siap dikendarai, Ria yang tidak pandai menggunakan matic sesekali kesulitan mengatur rem. Jalan menurun berliku dan "Brakkkk..." Ria kehilangan kendali.

~Bersambung~

No comments:

Post a Comment