Monday, 4 November 2019

Terlena 3

Aku pasti dihukum, menunggu dipanggil Bu Nyai dan tok..tok..tok... dari balik pintu. Jantung ku berdegup kencang. Tuhan, jangan sampai aku diusir dari sini. Bagaimana orang tua ku nanti.

Suara itu menjelma bagai perangai yang akan menghujam jantungku. Ku pasang mukena secepat kilat dan keluar.
"Wa...waa.. waalaikumsalam Ibu"
"Lena dipanggil ke ruang tengah segera kesana ya"
"Ii...iya Bu", suaraku masih berbata-bata.
Melangkah keruang utama dan aku dihukum berat. Apa yang sudah aku lakukan.

Lorong panjang seolah lebih dekat dari jarak awal. Ruang utama terlihat jelas disana. Berjejer pengurus dan semuanya. Dasar aku nakal, nakal. Kalimat itu terus mengiang diujung lidah.

"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, ayo Lena duduk", kalimat halus Bu Nyai. Denyut jantungku berdetak lebih kencang lagi. Ini bukan cinta pertama tetapi hukuman pertama. Pertama kali masuk.

"Ibu, Bapak, besok lagi kalau menjemput putrinya hubungi kami terlebih dahulu ngeh"
"Iya Bu Nyai, mohon maaf sebelumnya"
Demi membebaskanku dari hukuman, mereka melakukan itu. Tempat ini memang bukan mauku tetapi demi mereka.
***
Dua tahun berlalu, bahkan aku hampir tidak pernah pulang. Pondok putri dua, terkenal dengan pondok anak nakal. Termasuk aku. Kalian pasti bertanya, kenapa aku tidak ingin pulang seperti pertama kali disini. Tugasku belajar, sudah itu saja. Cuci baju saja ada petugas. Aku memang nakal tetapi cukup satu kali orang tua ku dipanggil karena kenakalanku. Selebihnya kedatangannya adalah ulasan rindu.

Sekolahku pada masa penjurusan, ada tiga jurusan, IPA, IPS dan Bahasa. Tidak ada tata boga, jurusan yang ku inginkan. Pilihan terakhir yang bagiku tidak banyak berfikir, Bahasa.

Ini adalah undangan terakhir ibu dan ayahku.

Bersambung

No comments:

Post a Comment