Tuesday, 1 September 2020

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan

Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan

Tiada mungkin ku biarkan lelahmu mendarah di hati

Sementara ku tahu kau tengah tertikam diketiak darah mu sendiri


Dengarkan kerasku bukan penghancurmu

Batuku bukan untuk membunuhmu

Apalagi menikam dengan hasrat ku

Lihatlah titik ini adalah nol


Kau dan aku disini

Disini memijak deretan monopoli kehidupan

Kau dengan segala serabut-serabut mimpi

Aku menganyamnya sembari menunggu mu kembali


Ku tahu tak jarang kau membakar serabutmu sendiri

Aku menyiraminya berkali-kali hingga lelah mendera diri

Namun keyakinan akan hati memberikan setitik arti

Menguatnya serabut perlu kau dan aku merajutnya tanpa henti


Kota Angin, 01.09.2020


No comments:

Post a Comment

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...