![]() |
| By Google |
Lonceng itu sudah ditabuh tiga kali dengan kuatnya oleh petugas, tanda ini waktu istirahat telah tiba. Hari itu terasa panas sinar mentari seperti menyusup kulit tipis ini. Ditambah dengan pakaian merah putih lengan pendek itu. Kantin sekolah tidak ada ditempatku namun warung dadakan yang akhirnya menetap selalu muncul. Aku adalah pribadi yang introvet lebih senang menyendiri bahkan kewarung pun sendiri. Warung Mbok Nem adalah warung langganan, ramah dikantong. Bayangkan saja nasi pecel lengkap dengan rempeyeknya hanya dibanderol harga 500 rupiah, kecuali aku hanya 300rupiah. Bisa dibilang aku adalah pelanggan kesayangan Mbok Nem, beliau menganggap ku seperti cucunya.
#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day18
#Sajadah
Mbok Nem hidup berdua dengan suaminya Mbah Jan, dua anaknya sudah menikah. Anak Sulung nya yang awal tinggal berdampingan dengannya pindah ke Malang. Biasa cek cok orang tua dan menantu, kurang lebih seperti itulah. Tujuh tahun yang lalu putra sulungnya meninggal, aku tidak tau beliau kenapa. Sedang Anak Ragilnya tinggal didesa sebelah, tiga tahun yang lalu telah pergi juga dari dunia. Stroke. Padahal baru saja diangkat PNS setelah bertahun-tahun mengabdikan diri disekolah taman kanak-kanak itu. Mbok Nem dan Mbah Jan memiliki 3 cucu, 1 dari Anak Sulung dan 2 sisanya dari Anak Ragil, tetapi semuanya berjauhan, usia mereka sepantaran dengan ku. Namun dibalik semua itu sedikit rasa syukurku (bukan karena diskon makan berkepanjangan ya).
"Nduk kamu bisa sholat ya? mau tidak mengajari Mbok?" Sedikit berbisik dan malu-malu. Akupun tersenyum.
"Alhamdulillah dengan senang hati Mbok"
Beliau tersenyum lega, bisa jadi cara ritualku memuja-Nya membuat tergoda, tapi tidak sungguh itu anugerah yang Kuasa. Dari sekian anak yang bermain dan membeli disana memang cuma aku yang terbiasa bantu-bantu sekalian biar boleh numpang sholat (mukenanya baru jadi mesti baik-baik sama Mbok Nem). Lonceng dua kali terdengar jam pelajaran terakhir segera dimulai tepat pukul 12.15 WIB.
Aku sudah kelas VI jadi ada jam tambahan persiapan UNAS setelah pulang sekolah, 13.00 WIB. Diselanya waktu yang tepat membantu Mbok Nem belajar gerakan sholat, sedikit-sedikit sudah bisa berkah Ramadhan di sholat tarawih bulan kemarin.
"Audubillah himinas saiton nirrojim, bismillah hirrohman nirrohim" kurang lebih seperti itulah aku menuliskan catatan kecil untuk Mbok Nem. Kejawen dan mesti bersahabat dilidah. Berbekal kaca mata kuda Mbok Nem tengah mengejah ayat perayat. Aku biarkan Mbok Nem mengulang sendiri, seperti kebiasaan ku yang tidak pernah menghafal cukup ku baca berkali-kali. Aku pun menerapkan metode itu pada wanita yang sudah mulai keriput itu. Hal ini kami lakukan sampai aku lulus.
Dua tahun kemudian aku main lagi kerumah Mbok Nem bukan lagi membantu belajar tetapi mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Mbah Jan. Mereka pasangan yang serasi ingin ku seperti mereka nantinya selalu bersama dan menguatkan. Kembali ke sholat Mbok Nem yang jauh membaik dari dua tahun lalu, pertanyaannya sekarang beralih ke doa-doa untuk suaminya. Wajah penuh harap Mbok Nem membuat ku tak tega jadi aku memutuskan untuk menemani sekaligus belajar berdoa bersama selama 7hari itu. Pada hari ke 7, pagi itu kami gantian untuk sholat subuh, aku masih menunggu Mbok Nem yang selalu lebih awal. Biasanya selalu memanggilku kalau sudah selesai. Namun sudah setengah jam beliau tidak balik-balik. Karena penasaran akhirnya aku lihat, beliau sujud disajadah merah kesukaannya. Coba ku dekati, kaki mukena terasa dingin. Aku segera keluar memanggil tetangga samping, tempat ibadah yang mini ini membuat ku kesulitan memastikan keadaan Si Mbok ditambah tubuh segernya. Tetangga pun berdatangan dan melihat Mbok Nem, "innalilahi wa innailaihi rojiun" hembusan nafas terakhir Mbok Nem tepat diatas sajadah itu.
#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day18
#Sajadah

No comments:
Post a Comment