Saturday, 25 May 2019

Satu Tahun Anak Bus Kota

https://www.imgrumweb.com/hashtag/W7094UZ

Saat melangkah dari toko sepatu dan 
accesories itu, semua mata tertuju padaku. Mereka menatapku seperti halnya pecundang yang kalah dalam peperangan. Siapa mereka, mereka tidak berhak atas hidupku. Angkot kuning terlihat mulai mendekatiku, “terminal Pak”. Ia mengangguk, isyaratkan seolah sependapat denganku. Hari itu terasa tidak ada yang berpihak padaku, tidak satupun mata yang melihat penuh kebahagiaan ditengah keputusan besar dalam hidupku. Seperti halnya sore lalu, dua pilihan yang berkecamuk dalam jiwaku hingga tak dapat lagi kutahan derasnya aliran dimataku. Aku hanya tertunduk lesu, malu pada sang malam, tidak ini adalah keputusanku!. “sudah sampai Mbk” sahut Sopir yang menghentikan lamunanku.

Setitik cahaya muncul dalam bus kota beriringan dengan meningginya sang surya. Bus kota arah Surabaya, bukan aku terlahir di bus kota atau hidup sebagai pegawai bus kota, penjual bahkan pengamen. Bayangkan saja jika kalian punya bapak yang tidak tahu asal usulnya, tiba-tiba kau dianggap anaknya. Nah itulah yang terjadi sekitar delapan tahun yang lalu. Seorang laki-laki bermuka seram dengan kerutan diwajahnya nampak semakin dekat dimuka. “boleh saya duduk?” ujarnya padaku dibangku nomor dua bus kota. “silahkan…” sambil mengangguk dan mempersilahkan. Saat itu bus umum masih satu kursi untuk tiga orang, sepertinya sekarang juga masih sama ya.

Suasana bus kota yang ramai riuh dipagi itu membuat laki-laki ini tidak enggan memulai percakapan. Dia sepertinya tahu kalau aku sedikit takut dengan perawakannya. Entahlah, mulai dari mana tiba-tiba dia bercerita bahwa dia ingin memiliki anak perempuan sepertiku. Sontak aku teringat akan kakekku. Sudah lama tidak berjumpa, laut memisahkan kami. Beliau memandangku seakan mengerti bahwa aku perlu cerocosan semangatnya. Muka polosku membuat Bapak Iskhan, iya itu nama beliau, menganggapku sebagai gadis yang hebat. Padahal tidak, aku bukanlah apa-apa, orang tuaku hanya mengajarkanku untuk menghormati semua orang, terutama yang lebih tua.

BERSAMBUNG
#Tugas Kopling

Lanjutan
                                         
Lalu lalang kendaraan bagai semut menyerang gula pasir yang berserakan, mentari semakin meninggi condong ke barat, sesaknya jalan menuju kota pahlawan. Aku yang tengah terburu, lagi-lagi melihat angka waktu dibenda kotak itu.  Kesibukanku membuat Beliau meminta nomor ponselku. Meski cerocosannya berhasil membangunkanku rasa takut masih ada. "Agar bisa Bpk antar ke tempat kerja" sahutnya membuat percaya serayaku menyebutkan angka-angka tujuan.

Tak  lama Bus sampai ditempat peristirahatan sebelum dikembalikan ke kandang. Kamipun bergegas keluar, "Ayo istirahat, minum sebentar" sambil menunjuk salah satu warung. Tanganku mengangkat, menolak sopan ajakannya "Maaf saya puasa, Bpk bisa mengantar saya ketempat bus kota?" Dengan sigap Beliau menuju terowongan seraya ku ikuti langkahnya, itu kali pertama aku kekota sendiri.

"Hati-hati Nak" pesan dari ponselku, tepat dari Bpk tadi. Aku hanya tersenyum kecil, fokusku pada pulau disana, iya pulau garam. Lagu demi lagu beralun ditengah laju bus dengan suara khas Surabaya an. Sesekali ku lihat ponsel, hiru cemas berharap agar ini bukan akhir cerita. Benda besar tertulis Jokotole terlihat disebelah, sebagian berlarian, takut tertinggal aku pun mengikutinya. Sekali lagi terompet berbunyi tanda kapal akan segera berangkat, nafas terengah-engah untung saja langkah kakiku bisa menjadi sepur kilat karena keadaan.

Hamparan kapal bagai tulang belulang tertata rapi nan indah dipandang. Pertama kali dalam hidupku melihat laut sedekat ini. Hembusan angin seolah membawa pergi kekhawatiranku, lepas seluruh penat. Alunan lagu dangdut jamur (Jawa Madura) meramaikan seisinya ditemani lalu lalang manusia, diantaranya ada yang sibuk mencari dermawan untuk sekedar membagi receh di kotak amal pendirian tempat ibadah muslim katanya.

Angkot kuning telah bersiap menjemputku didepan. Keputusan ku!! kalimat itu menghentak tiada henti direlung hati. Tidak lama gang kampus, abang-abang becak menyiapkan diri, berbaris rapi dengan bahasa mereka, sungguh aku tidak mengerti. Langsung saja duduk dan bilang kampus mungkin mereka akan mengerti.

Nama universitas terlihat besar, badanku gemetar, apakah aku akan menjadi mahasiswa?, "Lema..." Kurang lebih seperti itulah yang mengagetkan terdengar setelah berhenti. Aku keluarkan uang 5rb dan dia langsung pergi. "Pak ruang registrasi mahasiswa baru dimana ya?" Tanyaku pada penjaga pintu masuk itu. "Itu Mbk, lurus saja" sambil menunjuk salah satu gedung. Kubergegas sebelumnya ku ucapkan terimakasih sebagai akhiran.  Terlihat tidak banyak antrian sepertinya memang aku terakhir disini. Kuserahkan setumpuk kertas  harapan, sambil menunggu antrian. Sedikit berbincang-bincang anggap salam keakraban. Dia bernama Anis gadis asal Lamongan, kami berbeda jurusan.

Bersambung

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day19
#KotakAmal

Lanjutan

Hari mulai menggelap aku masih menunggu satu orang lagi, beliau adalah dosen. Penantian ku dimulai setelah pesan itu disampaikan lewat jendela kecil bertuliskan BAAK, didalam terdapat tamu tidak mungkin aku langsung nyelonong begitu saja. Beberapa saat kemudian beliau memanggilku dan laki-laki dihadapannya mengenggam tangannya. Aku mengangguk dan tersenyum sebagai sapaan, beliau pun membalas dengan senyuman. "Kamu tahu siapa yang keluar?" Aku menggeleng sebagai jawaban. "Dia sama seperti mu sekarang sudah mau lulus keren kan" aku mengangguk untuk kesekian kalinya. Iya tubuhku memang disitu tetapi tidak dengan otakku, bagaimana cara pulang dengan selamat kalau ada orang jahat bagaimana, kalau yang dikatakan orang-orang benar bagaimana dan sejuta pertanyaan mengiang tak bisa ku ungkapkan. Percakapan berlanjut hingga gedung mulai menggelap. Secercah motivasi, harapan dia tumpahkan pada pundak ini.

Kali ini nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan, becak yang berkeliaran tidak ada dan berjalan kaki satu-satunya cara tetapi Dia, Bpk dosen memberikan secuil tempat dibelakang motornya hingga sampai kapal penyeberangan. Sembari kalimat super dia ucapkan guna menyulut api yang sempat padam. Terimakasih kalimat yang berulang aku katakan dalam hening dan deburan ombak.

Kembali ku tapaki kenyataan bus kota awal teman seperjuangan. Kota ini memang indah bisik nurani pada akal. Semua belum selesai melainkan baru dimulai. Iya aku teringat pesan diponsel beberapa jam terakhir. Ibuku. Pak Lek menjemput mu diterminal, indahnya pertolongan Tuhan tepat disaat kamu butuhkan.

Tidak lama panggilan Tuhan datang menjelma ditengah gelap malam. Hati terhentak menuju sana. Masjid. Terselip toilet masjid disanalah kuselesaikan kewajiban. Tidak lama bersimpuh yang ku tunggu datang saatnya kami pulang.

Bersambung
#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day20

Lanjutan

Lambaian tangan kecil mungil nampak diujung sana, mobil hitam berplat W itu sampai, dia adik sepupu dan Pak Lek ku. Lagu pop indo terbaru diputar berkali-kali, membawa nuansa tenang, syahdu menjadi tegang karena interogasi berlangsung. Mulai jurusan dengan setumpuk gunjingan, letak kampus pedesaan bahkan orang yang baru ku kenal, interview yang seakan ingin ku muntahkan.

Beberapa saat jama'ah tarawih tengah keluar masjid. Rumah terlihat jelas persis disampingnya. Langkah ku memberat, mungkin kelelahan. Rengekan ponakan tidak terhindar kan padahal ini mata mau tenggelam saja.

Ruang berdebu itu berhasil lebih merengek dari ponakanku, baiklah malam yang indah. Bersihkan dan siap untuk tidur, meski bersin tak hentinya. Ponakan masih suka mengikutinku, baiklah aku ajak dia tidur bareng. Ternyata dia hanya ingin aku tahu kalau esok malam ada mabit disekolahnya. Dalam dekap kamipun menuju alam mimpi.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day21

Lanjutan

Dua hari berlalu saat kembali ketoko sepatu dan accesories itu. Warna baru, semangat baru, toko kian ramai diserbu masa. Lebaran semakin mendekat saja.

Takbir berkumandang, semua bersautan menyambut hari kemenangan. Mata kian berbinar esok bertemu emak dirumah. Kini toko lebih sesak dari demo pemilu serentak. Tepat jam 00:00 pintu ditempel pengumuman libur, akan ditutup. "Mas mau beli sendal, jangan tutup dulu ya" padahal kami sudah berbondong bondong dengan seabrek barang bawaan kekampung halaman.  Bisa dibilang setengah terpaksa karena membawa nama toko salah satu senior pramuniaga menunggunya. Beberapa saat mereka keluar, mobil box satu-satunya yang tersisa ya mau tidak mau.

Gelap tidak berlangsung lama, istana big bos telah sampai. Kami berjejer menunggu gaji, THR dan parcel. Dag dig dug door rasanya, iya bos terkenal tergalak seantero jagat ini. Ya mungkin bos mesti begitu biar terlihat berwibawa. Tidak lama namaku disebut, tampak wanita muda dewasa, itu istri tuan muda, anak big bos tepatnya. Gajiku dan teman-teman nya keluar "setelah lebaran bagaimana?" Tanya nya dengan tatapan selayaknya ibu pada anaknya. "Tidak, Maaf Bu saya mau lanjut kuliah" dia mengangguk dan tersenyum. "Gaji saya lebih" lanjut ku "ambil saja" sebelumku keluar penuh lega.

Avanza silver mengantarkan kami ke perkampungan, bersama 9orang lain beserta barang. Mudik yang mengasyikkan jangankan untuk tidur bergerak saja kami dapat sangsi teman. Rasanya jika nafas boleh ditahan akan ku lakukan jua.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day22

Lanjutan

Libur panjang dihari kemenangan, bukan sebenarnya potongan libur dalam cuti tahunan. Tidak untuk diriku yang memilih berhenti dari pekerjaan. Cuti sekali dan seterusnya, seperti itu lah rasa beban lama yang terlepas.

Takbir, tahmid berkumandang menemani perjalanan kekampung halaman. Satu persatu dari kami sampai tempat tujuan. Aku dan ke dua saudara ku adalah penumpang terakhir.

Perjalanan terakhir dengan deretan hutan, sesekali angin menggoyangkan tanaman. Mungkin kalau sendiri bakal lari. Bagaimana tidak penerangan sama sekali tidak ada kecuali lampu mobil Avanza silver ini. Sekali lagi jangan tengok ke belakang karena....

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day24

No comments:

Post a Comment