![]() |
| by Google |
Namaku Panda itu namaku bukan julukan, mungkin ibuku ngidam panda saat hamilku atau berharap punya anak selucu panda. Sebagai anak rantauan kali ini tidak berbeda belanja diawal bulan adalah kebiasaan bukan karena baru gajian namun kebutuhan. Sempit dan sesaknya toko retail yang tidak kalah terkenalnya masa kini menjadi pilihan. Deretan sirop tengah berjejer rapi didepan menjadi tranding topik masa kini. Seperti jeritan untuk segera dipinang, seolah dia memanggil manggilku. Aku hanya pecinta sirop bukan penikmat sirop. Wajar saja Panda tidak suka sirop.
Teringat masa kecil kalau sudah iklan sirop bermunculan pertanda puasa disegerakan. Suka membelinya agar orang tersayang sebagai penikmatnya. Setidaknya kalau pulang bisa melihat senyum manis si emak dan bapak semanis delight. Lirik sedikit jadi ingat squash delight. Salah satu merk rekomendasi ini mengingatkanku pada salah satu cerpen yang pagi tadi sempat terbaca olehku. Iya, si anak kecil atau orang jawa medok seperti ku yang tidak pandai melafalkan bahasa Inggris membaca squash delight menjadi squaas delik. Logat medoknya terbayang diotakku. Sekilas saja cerpen itu membuatku tersenyum senyum tersipu malu.
Sembari memilih-milih si pelangi, sontak teringat kejadian berapa bulan yang lalu, pasti kalian ingatkan ada hal bersejarah di Indonesia, iya pemilu. Hal yang serentak dilakukan berapa bulan lalu, disana hanya ada dua warna tetapi tidak seindah demokrasi sebelumnya. Padahal kita beda warna tetapi tetap dalam satu gelas.
"Hemm...deretan warna warni dunia memang tidak sesingkat warna sirop", gregetku sembari menghela nafas panjang.
Sayangnya aku sendiri gumamkupun tidak ada arti. Empat warna hidup dalam sebotol sirop. Merah tandanya kamu tidak boleh mudah marah, menyerah apalagi sampai hilang arah. Dulu hijau, membuat semangat dan mau maju. Sekarang putih tidak berwarna tetapi tetap gigih dan mampu berfikir jernih. Namun esok adalah favorit karena kuning membuat hatimu tetap bening. Bagitulah celoteh tiruan Panda kecil kesayangan bapaknya. Mereka boleh berbeda warna namun toleransi antar sesama menjadi nikmat dan indah antar sesama.
"Hemm...deretan warna warni dunia memang tidak sesingkat warna sirop", gregetku sembari menghela nafas panjang.
Sayangnya aku sendiri gumamkupun tidak ada arti. Empat warna hidup dalam sebotol sirop. Merah tandanya kamu tidak boleh mudah marah, menyerah apalagi sampai hilang arah. Dulu hijau, membuat semangat dan mau maju. Sekarang putih tidak berwarna tetapi tetap gigih dan mampu berfikir jernih. Namun esok adalah favorit karena kuning membuat hatimu tetap bening. Bagitulah celoteh tiruan Panda kecil kesayangan bapaknya. Mereka boleh berbeda warna namun toleransi antar sesama menjadi nikmat dan indah antar sesama.
#OneDayOnePost
#Day02 #Sirop

No comments:
Post a Comment