Friday, 4 October 2019

Bersihkan Otakku

"Selamat malam" ucapku dan kedua orang tua ku pada lelaki dan perempuan tua itu

"Iya silahkan masuk, duduk Nak, sini lho, maaf kurang rapi" jawab si Mbah Dok sambil menebas kursi

Sementara Mbah Nang sedang melahap makan malam.
"Ini Mbah yang Bapak ceritakan"
Aku manggut-manggut meng iya kan kalimat Bapakku. Handphone Bapak berbunyi seperti biasa panggilan kerja. Kami ditinggal pergi.

Berawal dari cerita keluarga, mencari silsilah mana Nabi Adam mempersatukan kami dengan alur supernya. Mulai dari Mbah Buyutku, sampai nama-nama yang bahkan tidak pernah ku dengar bermunculan. Begitulah silsilahnya menjadikan kami keluarga, terlampau dekat lebih mudah perantara Nabi Adam As.

Selesai makan malam Mbah Nang duduk disamping Mbah Dok sambil berbincang-bincang.

"Malam Jum'at pahing ya?" Celetuk pelan Mbah Nang

"Iya" jawab Mbah Dok sambil melipir melanjutkan cerita silsilah keluarga yang panjangnya jangan ditanya.

Aku merasa ada yang janggal tapi sudahlah hanya perasaanku saja. Tiba-tiba Mbah Nang membuka lemarinya, keluarlah benda persegi panjang dengan penutupnya. Lebih mirip penutup wadah air jaman dulu. Tatapan ku tidak sopan nyelonong saja membidik wadah yang tidak ku tahu apa. Sambil berpura-pura mendengar cerita silsilah keluarga aku mengamatinya.

Benda kotak lebih kecil keluar, ternyata wadahnya. Berisi benda berbungkus kain putih, seperti mori. Ditaruhnya diatas meja, sebelum itu Mbah Nang mendekatkan pada keningnya. Layaknya sesembahan. Huss otakku mulai salah jalan. Keluarlah wadah kecil seperti minyak wangi, dioleskan hanya sekali. Aku tidak mengerti tetapi otakku mulai berjalan keluar dari zona nyaman. Wadah itu dikembalikan dalam wadah besar.

Keluarlah benda kedua, lebih mirip dengan barang antik masa lampau berbentuk keris. Aku mengira akan dioleskan seluruh permukaan bisa habis minyak wangi yang  lebih kecil dari ukuran obat tetes mata itu. Ternyata hanya bagian kiri dan kanannya, lagi-lagi mulutku tidak mampu bertanya. Hal ini berulang sampai yang ketiga. Otakku menerka-nerka, sepertinya Mbah Nang memiliki aliran yang tidak ku mengerti. Tetapi dia terlihat sangat sopan dan ramah. Apa mungkin, bisik tetangga, bukanlah, bisikku pada hati. 

Dua perempuan ini ternyata sangat senang mempelajari dunia silsilah yang tidak ku mengerti. Acara televisi anak muda terus berlanjut begitu pula perbincangan mereka.

"Iya beli tanah jauh dari peradaban di oro-oro sana" sependengaranku akan ucapan Ibuku, maklum fokus pada televisi.

"Rejeki itu Allah yang memberi" Sahut Mbah Nang

Aku sontak melihat wajahnya tersenyum percaya akan ucapan itu. Hatiku tersayat, betapa jahatnya otakku bahkan senyumnya terlihat lebih yakin akan kekuasaan Sang Maha Pencipta.

No comments:

Post a Comment