Tuesday, 1 September 2020

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan

Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan

Tiada mungkin ku biarkan lelahmu mendarah di hati

Sementara ku tahu kau tengah tertikam diketiak darah mu sendiri


Dengarkan kerasku bukan penghancurmu

Batuku bukan untuk membunuhmu

Apalagi menikam dengan hasrat ku

Lihatlah titik ini adalah nol


Kau dan aku disini

Disini memijak deretan monopoli kehidupan

Kau dengan segala serabut-serabut mimpi

Aku menganyamnya sembari menunggu mu kembali


Ku tahu tak jarang kau membakar serabutmu sendiri

Aku menyiraminya berkali-kali hingga lelah mendera diri

Namun keyakinan akan hati memberikan setitik arti

Menguatnya serabut perlu kau dan aku merajutnya tanpa henti


Kota Angin, 01.09.2020


Wednesday, 1 July 2020

Membungkam Suara

Hadirku mungkin hanya pembungkus
Disanjung diawal keperluan
Dibuang setelah dimanfaatkan
Merana bukan?

Suatu saat kau akan mengerti
Bagaimana bungkus itu akan berjaya
Ketika tangan Tuhan mengolahnya
Membekas direlung jiwa

Menjadikan sayatan dibalik senyuman mu
Dibalik deretan kata terurai di pelupuk mata
Kau boleh bungkam seolah mendapatkan kemenangan
Mata Tuhan saksikan semua

Semua memang takdir Tuhan
Namun tidak semua takdir harus membunuh kehidupan
Tidak perlu dengan menampar sementara kau tidak mau ditampar
Ketahuilah setiap perbuatan adalah pertanggung jawaban

Thursday, 9 April 2020

Move On Level

Move on kata yang bikin parno dikalangan remaja dan pastinya identik dengan cinta. Romansa cinta, indah layaknya senja namun keindahannya akan menghilang dan tidak jarang mengundang luka seperti gelapnya malam. Beberapa cinta kerap berakhir bahagia, tentu lancar selancar jalan toll Surabaya-Jakarta yang dibangun era Presiden Jokowi itu.

Sejenak cobalah lihat cinta tidak melulu tentang pasangan, tidak harus move on pun dengan pasangan. Kehilangan adalah hal yang sulit, selain mengikhlaskan mengobati kekecewaan tidak semudah beli kerupuk dipasar. Penulis bukanlah orang yang berpengalaman dalam hal ini, dari salah satu judul buku best seller "move on come on" karya Riri Abdillah, dapat diambil pelajaran bahwa dengan mengikhlaskan akan memudahkan yang lebih baik datang.

Pernahkah kalian move on dengan seseorang yang harus pergi selamanya dan tidak mungkin akan kembali. Jika pernah, tentu sama. Bayangkan saja jika kalian dipertemukan dengan seseorang yang dalam waktu satu tahun, dia pergi untuk selamanya. Bahkan tidak bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir. Sekedar mengucapkan selamat tinggal, sampai jumpa dan semoga bertemu kembali.

Setelah pertemuan dibus kota, hubungan kami semakin dekat, seperti minum obat, tiga kali sehari handphone berbunyi dengan nama yang sama "Bapak Iskhan". Ayah angkat ku, seorang lelaki yang menganggapku anak lantaran tidak memiliki anak perempuan. Aku memanggilnya Bapak dan beliau selalu memanggilku sayang, anak sayang. Orang tua kandungku mengetahui hal ini, persaudaraan kami berlangsung hingga kini.

Pagi itu handphone ku berbunyi, sudah sejak satu Minggu yang lalu minum obat tidak lagi terdengar. Tepat pukul tiga pagi, "Bpk Iskhan" menelpon, setelah ku lekatkan di telinga terdengar suara memanggil manggil "ibu...ibu..." berulang ulang.

"Bpk..." Aku mencoba menenangkannya.

Perasaanku semakin tidak menentu, tidak biasanya Bapak menelponku seperti ini.  Penyakitnya memang sudah lama, bahkan beliau menyembunyikannya saat terakhir bertemu, menjemput ku pulang dari kota garam. Sudahlah, harus positif thinking bisik hati nurani. Selesai sholat subuh berjamaah dengan sahabat kamarku, handphone berbunyi untuk kedua kalinya, tentu dengan nama yang sama.

"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam, nak" suara serak Ibu angkatku, tidak biasanya ibu menelponku.
"Bapak sudah kembali, Mas tidak tahu, jangan diberi tau ya."
"Ngeh Ibu"
"Tut...Tut...Tut..."
Badan ku lemas
"Moon, Bapakku meninggal" dia memelukku yang berderai air mata.

Pagi itu acara praktikum, semua jadwal terisi surat ijin ku. Beberapa saat handphone ku berdering.

"Assalamualaikum adek, Bapak meninggal, mas menuju bandara"
"Waalaikumsalam,  mastidak bercanda kan?" Tanya ku untuk memastikan bahwa kakakku baik-baik saja.
"Tidak"
"Ketemu diterminal ya mas" dia mengakhiri telfon pagi itu.

Tahukah kalian saat kami tiba, Bapak sudah siap untuk dimakamkan. Keranda tertutup rapat, bahkan aku tidak bisa melihatnya. Air mata tertahan melihat adik laki-lakiku dikamar sendiri dan ibuku tengah bersedih dikamar lain.

Mengikhlaskan adalah bagian lain dari move on. Cobalah mencari kesibukan tetapi pada kenyataannya itu tidak juga membuat ikhlas, hanya lupa sementara. Kesibukan pun begitu, dengan dipaksa oleh rutinitas membuat seseorang melupakan beberapa hal namun tidak move on. Beberapa level dari kesedihan :
  1. Kecewa, saat itu kamu tidak merasa lapar, berbuat apapun seolah tidak mampu, level ini sangat berbahaya perbanyaklah istighfar, mengingat Sang Kuasa.
  2. Level kedua marah, ketika seseorang sudah marah dia sudah punya energi dan saat itu dia akan mulai untuk bangkit. Dari level marah inilah dia akan terus berkembang dan jangan sampai amarah membuat mu lupa bahwa Allah Maha Tau segalanya. 
  3. Level ketiga adalah berkembang. Semua istimewa sesuai kadarnya, cobaan pun beragam sesuai kemampuannya, apapun yang terjadi tetaplah positif thinking.

Card Invitation


Detail Locationhttps://bit.ly/2uTF1Io
NB:Mohon Klik Assalamualaikum Wr. Wb.

Friday, 27 December 2019

Malam Ke Dua


Akep.id

Aku pernah bermain dikala senja
Memainkan bola dengan lihainya
Hingga malam merenggutnya
Aku menangis tersedu

Bukan bola yang menghilang
Namun gelapnya malam yang mencekam
Menghanguskan mimpi dalam jemari
Menyisakan pedihnya sayatan hati

Kau menghilang bersama gelapnya malam
Aku terpaku pada sajak terakhir yang terucapkan
Deretan linang berliang tiada mampu ku hentikan
Bola yang ku punya harus ku relakan

Malam panjang mengurungku dalam rengkuh kesendirian
Hingga sinar fajar menyapa layaknya peri pujangga
Menorehkan senyum untuk pertama kalinya
Naluri berkata "aku takutkan malam adalah dia untuk kedua kalinya"


Akep_27 12 2019

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...