![]() |
| ~Cahaya masih ada~ |
Sudah 3 tahun Alifa ditinggalkan Ibu merantau sebagai TKI di Malaysia. Ayahku tidak mampu menghentikan kepergian ibu. Larangan dari Ayah tidak lagi dihiraukan. Waktu kepergiannya umurku masih 7 tahun. Aku baru masuk SD dan Ibuku mengambil kontrak 5 tahun dinegeri orang. Kini aku tinggal bersama kakek dan nenek.
Ayahku tinggal dengan orang tuanya dikota sebelah. Pekerjaan membuat ayah tidak bisa merawatku. Sebulan sekali ayah menjengukku, sejak kecil aku lebih dekat dengan ayah. Hari ini puasa ke delapan dan ayahku menjenguk untuk jatah bulanan.
"Yah... baru sampai kah?" Sambil mengusap-usap mata yang baru membuka dari tidur. Ayah hanya diam sambil mengangguk, sebagai tanda setuju.
"Mandi sana, sholat... Sudah hampir jam 5" perintah ayah sambil sibuk memegangi handphone. Bau harum terhirup dari dapur, sambal terasi buatan Nenekku menjadi sajak kerinduan akan Ibu. Kuangkat kaki melangkah ke kamar mandi sambil menahan rindu itu.
"Yah...(ayahku mengangkat kepalanya) enak ya baunya" hati kecilku tidak tega melihat ayah, pasti lebih merindukan ibu.
Setengah jam kemudian adzan Maghrib berkumandang, kami berkumpul dimeja makan.
"Sambal terasi Ibu" keceplosan, mulut kecilku terdiam. Ayah dan yang lainnya terlihat kaget.
"Harusnya Ibu disini bersama kita" lanjut ucapan ku. Ayah tidak berdaya, dia mengerti tetapi tidak mampu berbuat apa-apa.
"Maafkan aku" Air mataku menetes, aku tertunduk.
"Ayo dilanjut makannya" saut Nenekku memecah suasana tegang sore itu.
Tangan ku sibuk menebas air yang keluar dari mata, sepucuk sendok mendarat di mulut, nasi putih bersama sambal terasi bergoyang ria.
***
Keesokan harinya, handphone baru dari ayah sebagai kado ulangtahun ku berbunyi. Nomor baru, langsung saja kutekan warna hijau dilayar ponselku.
"Assalamualaikum" suara ibu-ibu paruh baya terdengar disana.
",Waa... waalaikumsalam Ibu" suaraku berbata-bata, Ibu, ini suara ibuku.
"Selamat ulang tahun sayang, sekolahnya yang pintar, nurut sama kakek, nenek dan bapak ya Nak" suara itu keluar dari ponsel yang 3hari lalu dibelikan oleh ayah.
"Ibu kapan pulang?" Pernyataan Ibu tidak lagi ingin aku jawab, ternyata Ibu tidak lupa hari ulang tahunku.
"Sabar ya Nak, 2tahun lagi Ibu pulang" nada manis merayuku.
"Ineng....!!!" Terdengar suara dari kejauhan memanggil Ibuku.
"Sudah dulu ya Nak, Ibu dipanggil majikan, nanti Ibu telfon lagi, Assalamualaikum" nada cepat terlihat ibu terburu-buru.
"Tet.." belum sempat aku menjawab handphone sudah mati.
Tangan ku sibuk menebas air yang keluar dari mata, sepucuk sendok mendarat di mulut, nasi putih bersama sambal terasi bergoyang ria.
***
Keesokan harinya, handphone baru dari ayah sebagai kado ulangtahun ku berbunyi. Nomor baru, langsung saja kutekan warna hijau dilayar ponselku.
"Assalamualaikum" suara ibu-ibu paruh baya terdengar disana.
",Waa... waalaikumsalam Ibu" suaraku berbata-bata, Ibu, ini suara ibuku.
"Selamat ulang tahun sayang, sekolahnya yang pintar, nurut sama kakek, nenek dan bapak ya Nak" suara itu keluar dari ponsel yang 3hari lalu dibelikan oleh ayah.
"Ibu kapan pulang?" Pernyataan Ibu tidak lagi ingin aku jawab, ternyata Ibu tidak lupa hari ulang tahunku.
"Sabar ya Nak, 2tahun lagi Ibu pulang" nada manis merayuku.
"Ineng....!!!" Terdengar suara dari kejauhan memanggil Ibuku.
"Sudah dulu ya Nak, Ibu dipanggil majikan, nanti Ibu telfon lagi, Assalamualaikum" nada cepat terlihat ibu terburu-buru.
"Tet.." belum sempat aku menjawab handphone sudah mati.
Aku ingin berontak, kapan aku punya Ibu? Sosok Ibu seperti teman-teman ku. Ketika pergi main ada yang meminta pulang untuk mandi, untuk makan, menyisirkan rambut setiap pagi sebelum sekolah. Aku tidak dapat semua itu, aku iri pada mereka.
#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day07
#Terasi
***********Lanjutan**********
"Brum...Brum....!!" Terdengar suara motor ayah diteras rumah. Aku keluar melihat ayah dengan kantong kresek dimotor.
"Apa itu Yah?" Sambil menghampirinya.
"Ini..." Diulurkan tas kresek padaku
"Yey... Martabak manis" senyumku melebar, sambil menggandeng ayah masuk kerumah. Ayah sengaja dari tempat kerja langsung kerumah sore itu. Kami duduk bersebelahan sambil menunggu adzan Maghrib.
"Main HP terus... Sini Ayah pinjam".
"Nih..." kujulurkan tangan dengan muka masam tanda tidak suka.
"Nomor baru siapa ini, pagi-pagi sudah telfon, adek sekolah yang pintar" tatapan tajam setengah cuek dan tegas.
"Ibu Yah, coba saja telfon" dengan nada sedikit ketus sebagai bentuk berontak ku.
Ayahku terdiam seperti menyembuyikan sesuatu sambil mengotak atik handphoneku. Isinya cuma game online pengusir kesendirianku. Ayah terpaksa menitipkanku, tidak mungkin meninggalkan Ibunya yang sakit dikota sebelah. Baginya bersama kakek dan nenek akan membuat ku memiliki sosok Ibu dan ayah.
Kakek dan nenekku terlihat semakin hari semakin bertambah kerutan di wajahnya. Kakek sudah pikun (bahasa jawa: pelupa) termakan usia. Nenekku yang selalu mengurusku, dia pun tidak kalah tua dengan kakekku. Meski sudah tidak tegak berdiri dialah yang menemaniku dan membesarkanku sejak Ibu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Waktu itu masih teringat jelas, ibu meminta ku segera tidur. Tengah malam dilelap tidurku dia pergi hingga kini wajahnya sudah tidak lagi terbayang. Tiga tahun bukan waktu yang sedikit bagiku.
***
Satu tahun kemudian usiaku akan genap sepuluh tahun. Pagi itu Nenek tidak seperti biasanya, dia melarangku sekolah sedangkan hari itu adalah hari Ujian Sekolah. Badannya menggigil, rupanya sudah 2 hari nenek tidak makan dan aku tidak tahu. Nenek selalu menyembunyikannya dari ku. Selama ini aku tidak pernah melihat nenek seperti ini bahkan untuk sakit rasanya tidak pernah. Buru-buru aku telfon ayah agar segera membawa nenek ke rumah sakit.
Aku duduk disampingnya, memberikan selimut tebal pemberian ibu sebelum pergi merantau.
"Fa... Jangan nakal ya, jaga sholat, temani kakek dirumah" kalimat sebelum terlepas pelukan terakhir. Rumah inilah saksi bisu hembusan nafas terakhirnya, tempat berbuka paling indah. Jantungku berdegup kencang, tangannya mendingin.
~Bersambung~
#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day08
#Rumah
#OneDayOnePost
#Day08
#Rumah

No comments:
Post a Comment