Saturday, 21 September 2019

H-A-K-I-N-E-M BACA TERBALIK

Membahas tentang pernikahan sepertinya tidak pernah habis ya. Kalau sudah merujuk ke hal yang satu ini terasa sakral. Apalagi tidak jauh dengan namanya cinta.

Telah disahkannya revisi UU Perkawinan yang beriringan dengan pengesahan perubahan UU KPK. Tidak se-viral UU KPK yang bahkan sampai detik ini masih banyak pendapat yang diungkapkan. Sekali lagi pendapat adalah hak setiap manusia namun jangan sampai saling memecah sesama.

Kembali pada Revisi UU Perkawinan dimana usia minimal pernikahan untuk laki-laki ataupun perempuan adalah 19 tahun. Pada UU sebelumnya untuk perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun. Hal ini dirasa wajar, mengingat parempuan adalah tempat belajar pertama bagi anaknya nanti, dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat pernikahan dini.

Menikah selalu identik dengan cinta, lalu lebih baik menikah dengan orang yang dicintai atau mencintai orang yang kita nikahi. Sedikit ribet ya? Coba dibaca sekali lagi. Kalimat ini terdapat pada Umma apk yang beberapa hari lalu saya bahas. Baiklah ini adalah opini yang terjadi :

A. Menikah dengan orang yang dicintai
Bahagia ya bisa menikah dengan orang yang dicintai. Apalagi selain sudah merasa cocok, tentu sudah mengerti sifat satu sama lain. Namun jangan tertipu bahwa disini kebanyakan lebih pada nafsu atau rasa ingin memiliki "yang penting dia jadi milikku". Nah melihat hal tersebut ada baiknya luruskan niat terlebih dahulu.

B. Mencintai orang yang dinikahi
Kalau ini terkesan memaksa ya, hukum wajib memang. Nah ngapain nikah coba, kalau belum siap mencintai orang yang dinikahi. Dari kata terpaksa ini mungkin akan tumbuh kesadaran bahwa yang terjadi adalah kehendak Allah SWT, yang tentu mencintai orang yang dinikahi adalah pahala.

Jadi buat yang sudah menemukan orang yang dicintai segeralah luruskan niat untuk menikah. Sedangkan untuk yang belum menemukan, bersabarlah, mencintai orang yang dinikahi bukan hal buruk. Yang terpenting semua diniatkan karena Iman pada Allah SWT.

No comments:

Post a Comment

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...