Sunday, 15 September 2019

Rahasia Kopi

Google

Suara burung bersaut sautan bagai nyanyian pagi yang membangunkan tidur nyenyak para petani. Angin melambai manja mendukung sang surya yang malu-malu menampakkan wajahnya. Pagi itu benar-benar gelap, bahkan tetasan embun membasahi dedaunan dikebun. Ini adalah musim panen kopi Arabika. Para petani bersiap untuk memetik buah kopi.
Musim kopi memang telah dinanti. Para petani berjejer rapi menuju ladang masing-masing. Tiap petikan rapi mengayun  biji kopi tanpa terkecuali. Satu persatu telah masuk dalam ranjang kecil bertali kepang. Ditengah kesibukan petani, para kopi asyik bersenda gurau dengan sesamanya.
 "Hayooo... Masuk!"
"Masuk lagi!"
Teriaknya bersama kopi-kopi yang lebih dahulu menempati.
"Yaaapp!?" Semua terdiam saling melirik sesama teman.
Pada lemparan kesekian ini, terpental sebiji kopi. Kegelisahan berlanjut akan nasip sahabatnya si kecil kopi. Ditengah kebun berilalang ini tidak akan mungkin tertemui petani. Mereka berharap si kopi dimakan luwak dan bertamu petani untuk masa depan yang cerah. 
Penuhnya desa dimusim panen membuat macet jalanan. Begitu pun alur pemrosesan buah kopi yang memadati belantara desa ini. Dengan muka murung si kopi terangkat dan pergi meninggalkan sahabatnya itu.
......_____.......
Lambat laun tumbuhlah pohon kecil diperbatasan lahan pertanian. Pohon itu terus membesar, beberapa kali daunnya menutupi kedua kanopi kopi disampingnya. Para petani memotong sebagian dari dedaunan yang ada. Pohonnya semampai, rindang dengan bunga putih bermekaran. Para lebah tengah mendekatinya namun lagi dan lagi lebah tidak lagi ditanggapi si kopi. Hal ini melihat sekelilingnya yang dilindungi plastik oleh petani. Dia berusaha menjaga dirinya tanpa petani.
"Kejam!?" Itulah berontak si kopi
Demi mendapat perawatan petani, dia terus memperindah dan menampakkan bunga. Terfokus pada keindahan pemekaran bunga, dia terus mengelak dengan bermacam lebah yang datang. Lebah itu sangat dia inginkan namun gejolak dihatinya akan keindahan bunga yang menarik petani lebih diamkan. Bunganya benar-benar mekar indah dan megah lebih dari sekitarnya. Tertarik dengan keindahan bunga kopi yang tidak dihinggapi lebah, salah seorang petani menutup bunganya dengan plastik. Hujan akan segera datang dia tidak ingin bunga rontok sebelum bertemu lebah yang indah. Sore itu hujan benar-benar terjadi dengan lebatnya. Seluruh kopi basah kuyup dan terlihat segar, terkecuali si kopi.
"Kenapa kamu murung, bukankah selama ini kamu ingin dirawat petani?" Tanya air
"Bolehkah aku bertanya padamu air?" Sahut Si Kopi
"Tentu"
"Kenapa setelah petani memberi plastik, mereka membukanya lagi kecuali aku, sekarang semua lebah dibiarkan mendekati para bunga?"
"Kamu perlu tau lebah adalah teman dan sahabat semua bunga.  Dia akan menemani bunga sampai menjadi kopi yang dibanggakan petani, kopi disebelah sana tidak ada yang ditutup oleh petani karena bunganya telah dijaga oleh lebah"
Si kopi terdiam, "selama ini aku kira lebah hanya akan merusak mahkotaku" bisiknya pada diri.
Dengan segala tenaga Si Kopi meminta tolong kepada angin untuk melepaskan ikatan plastik dibunganya. Setelah bersusah payah, angin datang dengan kencangnya. Bunganya berjatuhan, dia sangat sedih, tidak ada yang berpihak padanya. Seekor lebah yang indah datang, sangat indah lebih indah dari sebelumnya. Si Kopi menengok dan berkata.
"Aku tidak lagi punya bunga, pergilah carilah bunga yang indah diluar sana" pandangannya menunduk.
Lebah hanya diam dia masuk dalam celah daun, membukanya, sungguh indah bunganya segar tertutup daun yang rindang tanpa perawatan petani. Keduanya tersenyum lebar.
"Bolehkah bunga indah ini untuk ku?" Pinta lebah
"Jagalah, aku percaya padamu"
Beberapa bulan kemudian pohon ini berbuah lebat. Kedua petani yang memanen pohon kopinya tidak pula menyentuh si kopi hingga seluruh kopi terpanen. Dari jauh terdengar percakapan petani.
"Pohon siapa lebat tidak dipanen"
"Bukan aku yang menanamnya" serempak kedua petani ini
"Diperbatasan tanah kalian itu"
Selesai kejadian itu mereka memutuskan untuk membagi dua dan menggunakan biji untuk konsumsi sendiri dan benih pengganti tanaman tua. Rasa kopi pekat yang nikmat terhirup membelai hidung. Tatapan tajam penuh ancaman kini menjadi senyum indah. Dialah Si Kopi Kecil yang terbuang.

#tantangan1
#odopbatch7
#weekend
#odop
#daretodare
#Satnit
#holiday
#challenge
#Fiksi

15 comments:

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...