Friday, 25 October 2019

Putri Pandan Berduri versi Batin Lagoi

"Cier...cier", suara bayi.
Namaku Batin Lagoi, suara itu mengantarkan ku pada semak belukar pandan yang penuh duri.  Bayi perempuan terlihat disana.
"Siapa yang tega meninggalkan bayi perempuan secantik ini"
Sebagai pemimpin suku laut di pulau Bintan ini sudah tugasku menjaga dan mengayomi rakyatku. Begitu juga bayi ini.
"angkatlah dia sebagai anak" bisik angin laut
Akhirnya aku membawanya pulang dan menjadikannya anak perempuanku.
Waktu sangat cepat berlalu, bayi kecil menjadi gadis yang sangat cantik. Aku yang mengajarkannya berbicara, makan dan segala hal menjadikan putriku Pandan Berduri yang anggun bak putri kerajaan yang sebenarnya. Aku sangat bahagia.
Gadisku, tidak ada lelaki yang berani meminangnya, aku yang menghalanginya.
"Aku sangat menyayangimu putriku"
Putriku tersenyum melihat indahnya bola mata. Aku ingin dia menikah dengan megat. Tidak lain untuk melanjutkan kepemimpinanku nanti.
Sebagai usahaku menyeleksi satu persatu lelaki yang berusaha mendekati putriku. Aku terus mengamati berbagai lelaki yang sekiranya tertarik pada putriku. Si Pitung pemuda pulau Bintan yang sempat ku amati. 
"Baik, sopan santun namun dia bukan keluarga megat, tidak", kataku.
"Jangan-jangan dia sopan dihadapanku saja"
Aku sudah seperti orang gila berbicara sendiri dan ku jawab sendiri.
Usiaku semakin berkurang putriku belum juga bertemu pendamping hidupnya. Diapun sepertinya sudah ingin menikah.
"Putriku, ku serahkan padamu, siapapun lelaki yang kau pilih, ayah akan menyetujui", ucapku pada gadisku itu.
"Tidak ayah, aku percaya padamu. Sesuai keinginanmu aku akan menikah dengan megat"
Aku kaget dari mana gadisku tahu. Senyumku ragu menatapnya.
Suatu ketika kudengar nama lelaki muda pedagang ikan di pulau Bintan ini. Dia adalah Jenang Perkasa, pendatang yang sangat ramah. Sikapnya mencerminkan seorang megat.
"Mana mungkin megat kepulau ini untuk berdagang"
Keesokan harinya aku perintahkan pengawal untuk menyebarkan undangan makan malam sebagai caraku mengamati pemuda-pemuda yang pantas mendampingi putriku.
Malam itu tiba, aku persilahkan seluruh pemuda pulau Bintan. Sama persis dengan megat, pemuda ini sangat sopan tutur katanya lembut. Aku tidak ragu lagi, dia cocok untuk Putri Pandan Berduri. Malam itu juga ku temui pemuda itu.
"Wahai pemuda, dari mana asalmu?"
"Maaf Raja kenapa menanyakan hal ini?
"Aku terpesona melihat sopan santun mu"
Dia terlihat bergejolak dengan pertanyaanku.
"Aku hanya pedagang Raja"
"Sebenarnya aku ingin menikahkan mu dengan putriku"
Jenang Perkasa sangat kaget dengan ucapan ku
"Bukankah Putri Pandan Berduri hanya akan dinikahkan dengan megat Raja?"
"Iya, ku rasa sikapmu cukup mencerminkan seorang megat pemuda pedagang ikan"
Beberapa saat keluarga Jenang Perkasa mendengar kabar tersebut. Ayahnya sangat bahagia. Tidak dengan Kakak kandungannya, dia belum puas melihat Jenang Perkasa keluar dari pulaunya. Dia berniat merebut Putri Pandan Berduri. Namun gagal, pernikahan Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri sudah berlangsung. Peperangan saudara terjadi. Akhirnya Kakak kandungan Jenang Perkasa meninggal dunia di perang saudara. Jenang Perkasa memimpin Pulau Bintan dan Pulau peninggalan ayahnya.

Ending cerita telah diubah untuk memenuhi penulisan ODOP batch 7

No comments:

Post a Comment

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...