Tuesday, 26 November 2019
Bertamu Muhammad
Ku kira malam robiul awal akan melihatmu
Tatkala malam menutup cahaya surya
Cahaya lain meremang menampakkan dunia
Barisan anak muda berdendang
Ku rasa gravitasi Newton tengah memperdayai ku
Aku melihatnya tepat diatap lantai tiga
Terusik manja dengan aroma kebisingan kota
Menjamu dendang dengan secercah lantunan sholawat badar bergema
Proses lakrimasi melelehkan mata hati
Kala Khalaf bercengkrama perjuangan Nabi Muhammad SAW
Buramkah dunia instan berlatar maya?
Gemelut kesibukan insan dunia
Lagi, Ku tatap nanar bertabur angkasa di pusar kota
Angin malam laksana surga
Aku pemerhati yang merindu
Menerka tamu adalah dirimu
Lalu?
Kutemukan Kau dilubuk hati umatmu
Nganjuk, 2019
Sunday, 17 November 2019
Ulasan Cerpen Achmad Ikhtiar : Cerita Seorang Lelaki yang Sedang Bermimpi tentang Dirinya yang Sedang Bermimpi
![]() |
| Selengkapnya : |
Tema
Kebahagiaan tidak bisa terbeli dengan uang.
Tokoh atau Penokohan
Aku : Tokoh utama yang mengetahui segalanya dimana Aku mengetahui segala cerita dari Aku dalam mimpi dan Dia, sementara Aku juga masuk dalam cerita tersebut. Termasuk tokoh protagonis terlihat dari sikapnya yang menolak Aku dalam mimpi yang semena-mena menghabiskan uang untuk membeli mimpi.
Aku dalam mimpi : Tokoh utama sebagai pelaku utama dimana Aku dalam mimpi menghabiskan hadiahnya untuk membeli mimpi demi melanjutkan mimpinya. Termasuk tokoh antagonis terlihat dari sikapnya yang tidak mengingat pesan orang tua sehingga ketika memenangkan lotere, habis untuk membeli mimpi.
Dia : Tokoh utama sebagai pelaku utama dimana Dia sebagai tokoh yang kaya raya yang mengingat orang tuanya. Termasuk tokoh protagonis terlihat dari sikapnya yang sejalan dengan Aku yang mewujudkan keinginan orang tuanya.
Emak : Tokoh utama sebagai pelaku utama dimana sejak awal terlihat kisah anak yang menceritakan tentang ibunya. Termasuk tokoh protagonis melihat dari kesabarannya, kelembutan hatinya dan mengutamakan Allah dalam hidupnya.
Bapak : Tokoh utama sebagai pelaku utama, hal ini sama dengan ibunya. Termasuk tokoh protagonis dimana sosok Bapak yang baik menemani perjuangan istrinya.
Narti : Tokoh utama sebagai pelaku utama. Termasuk tokoh protagonis karena tidak membiarkan Aku yang baik berkesimpulan salah pada uang dan kebahagiaan, sabar, ke ibuan dan cerdas.
Mantan Kekasih Narti : Pelaku tambahan.
Mbak-Mbak Agen Perjalanan : Pelaku tambahan.
Penjual Kerbau : Pelaku tambahan.
Orang Tua Narti : Pelaku tambahan.
Alur Cerita
Alur yang digunakan adalah alur maju melihat didalamnya ada pembukaan berisi - Aku yang menceritakan Aku dalam mimpi dan Dia berasal dari mana - kemudian ke konflik - kehilangan kerbau, batal naik haji dan diselingkuhi Narti - dan klimaks pada kata - Narti "Kamu tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan" - dan penutupan - kelahiran bayi aku yang membuat kebahagiaan bapak dan emaknya.
Latar
Waktu : Malam hari, hal ini dijelaskan diawal bahwa suatu malam aku bermimpi sehingga pelaku utama yang serba tahu menunjukkan hal ini terjadi dimalam hari.
Tempat : Peternakan kerbau, agen penjualan haji, jalanan tepi sawah, rumahku (cerita dimimpi) dan rumah sakit, melihat akhir cerita karena cerita ini menceritakan mimpinya.
Suasana : Kesedihan (dalam mimpi) dan Kebahagiaan.
Sudut Pandang dan Amanat
Sudut Pandang cerita adalah sudut pandang orang pertama. Amanat cerita adalah kebahagiaan tidak terbeli oleh uang, cukup dengan kelahiran putranya menjadi kebahagiaan bagi orang tua.
Unsur Ekstrisik
Latar Belakang Masyarakat
Terlihat bahwa penulis menonjolkan sisi perekonomian Indonesia sebagai negara berkembang yang terbatas, menengah kebawah membuat penulis sepertinya lebih suka berimajinasi dengan keadaan keuangan dan kehidupan sekitar.
Latar Belakang Penulis
Dari opini saya penulis cerpen ini memang sudah mahir dalam penulisan cerpen terlihat ide cerpen yang dibuat sama sekali tidak tertebak.
Nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen
Nilai Agama
Dari cerpen ini terlihat Emak tengah memelintir biji tasbih sampai hatinya tenang. Hal ini menjadi pelajaran bahwa dengan mengingat Allah hidup akan menjadi lebih tenang.
Nilai Sosial
Secara sosial cerpen ini menunjukkan bahwa tidak semua hal dapat dibeli dan bahagia dengan banyaknya uang yang dimiliki.
Nilai Moral
Secara moral cerpen ini memiliki sisi pembelajaran bahwa sisi alam bawah sadar manusia pasti terdapat sisi positif dan negatif sehingga sisi positif berupa kebaikan harus ditingkatkan. Hal ini terlihat dari kalimat "Suara Narti pelan namun terdengar sangat jelas seolah-olah suara itu bukan berasal dari mulut Narti tapi keluar dari dalam kepalaku dan kepala orang yang membeli mimpi dalam mimpiku".
Nilai Budaya
Budaya di Indonesia terutama desa bahwa hukum adat atau teguran yang berulang oleh lingkungan sangat mempengaruhi kejeraan seseorang.
Jika terjadi kesalahan dalam ulasan, sebagai pemula, penulis mohon koreksinya. Terimakasih
Tanganku mengelitik layar
Layar menyala tanpa dugaan
Pertanyaan terlontar dalam aksara
Jalan Tuhan tersipu aku
Aku terbungkam dalam perjalanan
Sengaja diam, tangan Tuhan bergerak lancar
Aku terpana diakhir cerita
Bukan
Percaya adalah kekuatan
Menikmati setiap jengkal lenggang kaki
Karena dia mencari pemiliknya
Alamat tidak pernah salah
Tersesat sekali dua kali
Cepat kembali sebelum semua selesai
Layar menyala tanpa dugaan
Pertanyaan terlontar dalam aksara
Jalan Tuhan tersipu aku
Aku terbungkam dalam perjalanan
Sengaja diam, tangan Tuhan bergerak lancar
Aku terpana diakhir cerita
Bukan
Percaya adalah kekuatan
Menikmati setiap jengkal lenggang kaki
Karena dia mencari pemiliknya
Alamat tidak pernah salah
Tersesat sekali dua kali
Cepat kembali sebelum semua selesai
Monday, 4 November 2019
Patah
Sepuluh menit, cukup waktu merubah arahmu
Cukup sepuluh menit Tuhan merobek hatiku
Lagi dan lagi
Sakit, Perih
Aku tahu Tuhan tetap memelukku
Dengan kata
Semua akan baik-baik saja
Mungkin lunglai ku layu
Tetapi aku bukan yang dulu
Tuhan tengah mengokohkan dinding hatiku
Terlena 5
Hidup di kota, aku menyadari keganjalan kehidupan Lina. Berawal dari ajakan ke tempat karaoke. Yah mungkin aku pertama kali kesana, rasanya aneh. Bukan masalah kenapa namun banyaknya wanita penghibur didalamnya. Ini adalah menu utamaku. Sehari saja tanpa ke dunia fana seperti tidak makan.
Setiap malam ku lihat teman-teman ku menjadi booking an para om om. Berbagai karakter kutemui, merokok, minuman keras adalah makanan sehari-hari baginya. Namun baik mereka bukan seperti kebanyakan yang dimuka.
"Plakkk...", Tangan Lina pas mengenai muka Si Om.
"Jangan ganggu temanku", tatapnya tajam dan membawaku pergi.
Lelaki tua itu terguyup akibat kendali minuman beralkohol tadi.
"Ayo aku antar pulang"
"Tapi kamu?", tanyaku padanya.
"Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini, ayo cepat!"
Aku yang benar-benar sadar bergegas pergi. Meninggalkan Lina yang mengantarkan ku sampai jalan kota dan kendaraan menghampiri. Dia tidak ingin aku sepertinya.
Mustahil, lingkungan ku beradu pada keadaan ini. Aku terbiasa karaoke, nongkrong hingga larut malam. Hal ini lebih penting dari kebutuhan sehari-hari ku. Keuanganku harus stabil, dari sini ku temukan peran baru, pemorot uang lelaki. Jangan ditanya berapa laki-laki yang dekat dengan ku. Tidak ada yang om om tetapi anak konglomerat semua.
Suatu ketika, tempat kerjaku sedang pada masa failed. Disinilah hidupku benar-benar sulit. Aku hidup dari kiriman orang tua dikampung. Tiga bulan gaji ku tidak dibayar. Aku mulai merasakan bosan.
Handphone ku yang lebih sering berdering dari biasanya. Orang tua ku. Ibuku tidak pernah tahu aku seperti ini. Namun Bapakku dia tahu semua kenakalan ku.
"Nduk, sudah tidak usah kerja, pulanglah, Ibu ingin melihat mu menikah"
Kalimat yang terus mengiang ditengah himpitan ekonomi kota metropolitan. Ku teringat kejadian dimana pelukan Ibu meredam amarah ku kala itu.
Setiap malam ku lihat teman-teman ku menjadi booking an para om om. Berbagai karakter kutemui, merokok, minuman keras adalah makanan sehari-hari baginya. Namun baik mereka bukan seperti kebanyakan yang dimuka.
"Plakkk...", Tangan Lina pas mengenai muka Si Om.
"Jangan ganggu temanku", tatapnya tajam dan membawaku pergi.
Lelaki tua itu terguyup akibat kendali minuman beralkohol tadi.
"Ayo aku antar pulang"
"Tapi kamu?", tanyaku padanya.
"Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini, ayo cepat!"
Aku yang benar-benar sadar bergegas pergi. Meninggalkan Lina yang mengantarkan ku sampai jalan kota dan kendaraan menghampiri. Dia tidak ingin aku sepertinya.
Mustahil, lingkungan ku beradu pada keadaan ini. Aku terbiasa karaoke, nongkrong hingga larut malam. Hal ini lebih penting dari kebutuhan sehari-hari ku. Keuanganku harus stabil, dari sini ku temukan peran baru, pemorot uang lelaki. Jangan ditanya berapa laki-laki yang dekat dengan ku. Tidak ada yang om om tetapi anak konglomerat semua.
Suatu ketika, tempat kerjaku sedang pada masa failed. Disinilah hidupku benar-benar sulit. Aku hidup dari kiriman orang tua dikampung. Tiga bulan gaji ku tidak dibayar. Aku mulai merasakan bosan.
Handphone ku yang lebih sering berdering dari biasanya. Orang tua ku. Ibuku tidak pernah tahu aku seperti ini. Namun Bapakku dia tahu semua kenakalan ku.
"Nduk, sudah tidak usah kerja, pulanglah, Ibu ingin melihat mu menikah"
Kalimat yang terus mengiang ditengah himpitan ekonomi kota metropolitan. Ku teringat kejadian dimana pelukan Ibu meredam amarah ku kala itu.
Terlena 4
Ini adalah undangan terakhir ibu dan ayahku. Kelulusanku. Kelulusanku dari pondok dengan hafalan dan kelulusan dari sekolah menengah atas. Atau aku akan tetap disini selamanya menjadi tetua. Ah tidak itu bukan aku.
Kuliah atau kerja, kali ini mereka memberikanku pilihan. Iya aku memilih bekerja. Kenakalan ku dulu mungkin terdengar olehnya, orang tua ku.
***
Tempat pemberangkatan TKI, awal gadis lulusan SMA seperti ku pergi ke kota. Aku tidak sendiri, Bapakku kerja disana. Aku meninggalkan ibu dan ke dua saudara laki-laki ku.
Dunia ku biasa saja sebelum aku mengenal Lina. Gadis asli kota apel yang merantau dikota. Bersamanya kini aku memilih jauh dari Bapakku, kos sendiri. Hal ini mengingat tempat kerjaku yang lebih jauh.
"Hati-hati dikota, senakal-nakalnya kamu jaga kesucian mu", hiruk pikuk kota menjadi kekhawatiran tersendiri darinya. Melihat dunia bandara yang diketahuinya. Bebas tanpa batas.
Kalimat pertama dan terakhir sebelum aku meninggalkan kos Bapak. Semenjak saat itu Bapakku pensiun dari kerjanya. Disinilah hidupku bersama Lina.
Bersambung
Kuliah atau kerja, kali ini mereka memberikanku pilihan. Iya aku memilih bekerja. Kenakalan ku dulu mungkin terdengar olehnya, orang tua ku.
***
Tempat pemberangkatan TKI, awal gadis lulusan SMA seperti ku pergi ke kota. Aku tidak sendiri, Bapakku kerja disana. Aku meninggalkan ibu dan ke dua saudara laki-laki ku.
Dunia ku biasa saja sebelum aku mengenal Lina. Gadis asli kota apel yang merantau dikota. Bersamanya kini aku memilih jauh dari Bapakku, kos sendiri. Hal ini mengingat tempat kerjaku yang lebih jauh.
"Hati-hati dikota, senakal-nakalnya kamu jaga kesucian mu", hiruk pikuk kota menjadi kekhawatiran tersendiri darinya. Melihat dunia bandara yang diketahuinya. Bebas tanpa batas.
Kalimat pertama dan terakhir sebelum aku meninggalkan kos Bapak. Semenjak saat itu Bapakku pensiun dari kerjanya. Disinilah hidupku bersama Lina.
Bersambung
Terlena 3
Aku pasti dihukum, menunggu dipanggil Bu Nyai dan tok..tok..tok... dari balik pintu. Jantung ku berdegup kencang. Tuhan, jangan sampai aku diusir dari sini. Bagaimana orang tua ku nanti.
Suara itu menjelma bagai perangai yang akan menghujam jantungku. Ku pasang mukena secepat kilat dan keluar.
"Wa...waa.. waalaikumsalam Ibu"
"Lena dipanggil ke ruang tengah segera kesana ya"
"Ii...iya Bu", suaraku masih berbata-bata.
Melangkah keruang utama dan aku dihukum berat. Apa yang sudah aku lakukan.
Lorong panjang seolah lebih dekat dari jarak awal. Ruang utama terlihat jelas disana. Berjejer pengurus dan semuanya. Dasar aku nakal, nakal. Kalimat itu terus mengiang diujung lidah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, ayo Lena duduk", kalimat halus Bu Nyai. Denyut jantungku berdetak lebih kencang lagi. Ini bukan cinta pertama tetapi hukuman pertama. Pertama kali masuk.
"Ibu, Bapak, besok lagi kalau menjemput putrinya hubungi kami terlebih dahulu ngeh"
"Iya Bu Nyai, mohon maaf sebelumnya"
Demi membebaskanku dari hukuman, mereka melakukan itu. Tempat ini memang bukan mauku tetapi demi mereka.
***
Dua tahun berlalu, bahkan aku hampir tidak pernah pulang. Pondok putri dua, terkenal dengan pondok anak nakal. Termasuk aku. Kalian pasti bertanya, kenapa aku tidak ingin pulang seperti pertama kali disini. Tugasku belajar, sudah itu saja. Cuci baju saja ada petugas. Aku memang nakal tetapi cukup satu kali orang tua ku dipanggil karena kenakalanku. Selebihnya kedatangannya adalah ulasan rindu.
Sekolahku pada masa penjurusan, ada tiga jurusan, IPA, IPS dan Bahasa. Tidak ada tata boga, jurusan yang ku inginkan. Pilihan terakhir yang bagiku tidak banyak berfikir, Bahasa.
Ini adalah undangan terakhir ibu dan ayahku.
Bersambung
Suara itu menjelma bagai perangai yang akan menghujam jantungku. Ku pasang mukena secepat kilat dan keluar.
"Wa...waa.. waalaikumsalam Ibu"
"Lena dipanggil ke ruang tengah segera kesana ya"
"Ii...iya Bu", suaraku masih berbata-bata.
Melangkah keruang utama dan aku dihukum berat. Apa yang sudah aku lakukan.
Lorong panjang seolah lebih dekat dari jarak awal. Ruang utama terlihat jelas disana. Berjejer pengurus dan semuanya. Dasar aku nakal, nakal. Kalimat itu terus mengiang diujung lidah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, ayo Lena duduk", kalimat halus Bu Nyai. Denyut jantungku berdetak lebih kencang lagi. Ini bukan cinta pertama tetapi hukuman pertama. Pertama kali masuk.
"Ibu, Bapak, besok lagi kalau menjemput putrinya hubungi kami terlebih dahulu ngeh"
"Iya Bu Nyai, mohon maaf sebelumnya"
Demi membebaskanku dari hukuman, mereka melakukan itu. Tempat ini memang bukan mauku tetapi demi mereka.
***
Dua tahun berlalu, bahkan aku hampir tidak pernah pulang. Pondok putri dua, terkenal dengan pondok anak nakal. Termasuk aku. Kalian pasti bertanya, kenapa aku tidak ingin pulang seperti pertama kali disini. Tugasku belajar, sudah itu saja. Cuci baju saja ada petugas. Aku memang nakal tetapi cukup satu kali orang tua ku dipanggil karena kenakalanku. Selebihnya kedatangannya adalah ulasan rindu.
Sekolahku pada masa penjurusan, ada tiga jurusan, IPA, IPS dan Bahasa. Tidak ada tata boga, jurusan yang ku inginkan. Pilihan terakhir yang bagiku tidak banyak berfikir, Bahasa.
Ini adalah undangan terakhir ibu dan ayahku.
Bersambung
Terlena 2
Wajahku menengadah, kupeluk serta tubuhnya yang kian ringkuh. "Maafkan aku Ibu telah membuatmu khawatir, aku hanya rindu padamu", tangannya mengusap-usap kerudung baruku. Besok aku kembali dalam tekat yang berbeda. Aku tidak akan pulang sebelum menang.
Mereka selalu memaklumiku. Memaklumi sikapku yang jelas berbeda dari tempat itu. Disini, atap ini mengajariku sebagai gadis satu-satunya dari tiga bersaudara. Jelas saja aku adalah pujaan, berbeda dengan disana, aku tidak tahu bagaimana gambarannya.
"Nduk besok diantar Ibu sama Bapak ke pondok lagi ya?", Nada manis bak gulali kesukaanku tersuguh dengan indah. Aku mengangguk tanda setuju. Meskipun aku tidak tau bagaimana hidup disana.
***
"Assalamualaikum Ibu", kata ibuku pada pengesuh dipondok putri ini, kira-kira berusia sepuluh tahun diatasku.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah Lena, kami benar-benar khawatir Ibu"
"Iya Mbk, kami minta maaf".
"Terimakasih ya Ibu atas kerjasamanya, monggo Bu", sambil menunjuk ruang tunggu untuk keluargaku.
Mereka berkumpul diruang tunggu utama sedangkan aku diminta untuk kembali ke kamar. Dikawal senior, sudah seperti tahanan saja. Ditambah dengan dalil dan hadist yang dipaparkan. Mana kamarku paling ujung lagi. Bisa-bisa seisi kitab tumpah dihadapanku.
Sudahlah, aku melangkah lebih cepat dan Ibu pengurus tertinggal. Melihat langkahku yang bersemangat dia hanya melihat dari titik itu sampai aku memasuki ruang ini lagi. Bismillah, kamar lama niat baru, kataku dalam hati sembari membukanya.
Aku pasti dihukum, menunggu dipanggil Bu Nyai dan....
Bersambung
Mereka selalu memaklumiku. Memaklumi sikapku yang jelas berbeda dari tempat itu. Disini, atap ini mengajariku sebagai gadis satu-satunya dari tiga bersaudara. Jelas saja aku adalah pujaan, berbeda dengan disana, aku tidak tahu bagaimana gambarannya.
"Nduk besok diantar Ibu sama Bapak ke pondok lagi ya?", Nada manis bak gulali kesukaanku tersuguh dengan indah. Aku mengangguk tanda setuju. Meskipun aku tidak tau bagaimana hidup disana.
***
"Assalamualaikum Ibu", kata ibuku pada pengesuh dipondok putri ini, kira-kira berusia sepuluh tahun diatasku.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah Lena, kami benar-benar khawatir Ibu"
"Iya Mbk, kami minta maaf".
"Terimakasih ya Ibu atas kerjasamanya, monggo Bu", sambil menunjuk ruang tunggu untuk keluargaku.
Mereka berkumpul diruang tunggu utama sedangkan aku diminta untuk kembali ke kamar. Dikawal senior, sudah seperti tahanan saja. Ditambah dengan dalil dan hadist yang dipaparkan. Mana kamarku paling ujung lagi. Bisa-bisa seisi kitab tumpah dihadapanku.
Sudahlah, aku melangkah lebih cepat dan Ibu pengurus tertinggal. Melihat langkahku yang bersemangat dia hanya melihat dari titik itu sampai aku memasuki ruang ini lagi. Bismillah, kamar lama niat baru, kataku dalam hati sembari membukanya.
Aku pasti dihukum, menunggu dipanggil Bu Nyai dan....
Bersambung
Terlena
Kakiku mengayun, menapaki jalanan aspal tanpa alas. Sengatnya tidak terasa oleh kaki, aku menunduk, air mataku mengalir disela-sela lumbung hidung. Sesekali ku usapkan dengan baju abu-abu.
Mataku menyergit pada angkot hijau, dia melambai menertawakanku. "Apa kau! kau tidak mengerti rasaku", angkot itu kian berbahak melaju. Rasanya aku benar-benar bodoh.
Tas ransel masih menempel tepat dipunggungku. Mana mungkin aku meninggalkannya sementara dia satu-satunya tempat yang bisa ku percaya disana. Tempat yang tidak kuinginkan itu.
Lima kilometer bukan lima centimeter, atap itu terlihat anggun tak menyeru. "Apa ini semua salahku!". Aku hanya ingin pulang menuntut mauku. Angin seolah melarang ku, menahan langkah ku dan berusaha menghentikan, tapi tidak mampu. "Punya hak apa kalian atas ku! Aku tidak ingin menyakitinya, aku hanya minta hakku".
"Assalamualaikum", kutekuk wajah lesuku, terlihat kekagetan wajah mereka. Dengan jawaban waalaikumsalam yang senada, bibirku segera bergetar ingin memuntahkan semua rasa.
"Kenapa pulang Nduk? Sama siapa kenapa tidak bilang biar dijemput", wajah itu memelas penuh makna. Oh Tuhan apa yang sudah aku fikirkan. Bagaimana bisa aku melihat dua wajah yang bahkan nyawanya saja rela diberikan untukku.
Aku terdiam, harus kukatakan apa. Mimikku melunak.
Bersambung
Mataku menyergit pada angkot hijau, dia melambai menertawakanku. "Apa kau! kau tidak mengerti rasaku", angkot itu kian berbahak melaju. Rasanya aku benar-benar bodoh.
Tas ransel masih menempel tepat dipunggungku. Mana mungkin aku meninggalkannya sementara dia satu-satunya tempat yang bisa ku percaya disana. Tempat yang tidak kuinginkan itu.
Lima kilometer bukan lima centimeter, atap itu terlihat anggun tak menyeru. "Apa ini semua salahku!". Aku hanya ingin pulang menuntut mauku. Angin seolah melarang ku, menahan langkah ku dan berusaha menghentikan, tapi tidak mampu. "Punya hak apa kalian atas ku! Aku tidak ingin menyakitinya, aku hanya minta hakku".
"Assalamualaikum", kutekuk wajah lesuku, terlihat kekagetan wajah mereka. Dengan jawaban waalaikumsalam yang senada, bibirku segera bergetar ingin memuntahkan semua rasa.
"Kenapa pulang Nduk? Sama siapa kenapa tidak bilang biar dijemput", wajah itu memelas penuh makna. Oh Tuhan apa yang sudah aku fikirkan. Bagaimana bisa aku melihat dua wajah yang bahkan nyawanya saja rela diberikan untukku.
Aku terdiam, harus kukatakan apa. Mimikku melunak.
Bersambung
Subscribe to:
Comments (Atom)
Serabut Mimpi
Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...
-
"Diam" Ruang persegi panjang menyudut beraturan Diam Jam berdenting akhir perjalanan Diam Kursi goyang kian menoleh ringan ...
-
Selengkapnya : https://bit.ly/37fJ6Fg Unsur intrinsik Tema Kebahagiaan tidak bisa terbeli dengan uang. Tokoh atau Penokohan Aku ...
-
Move on kata yang bikin parno dikalangan remaja dan pastinya identik dengan cinta. Romansa cinta, indah layaknya senja namun keindahannya ...
