Monday, 4 November 2019

Terlena 4

Ini adalah undangan terakhir ibu dan ayahku. Kelulusanku. Kelulusanku dari pondok dengan hafalan dan kelulusan dari sekolah menengah atas. Atau aku akan tetap disini selamanya menjadi tetua. Ah tidak itu bukan aku.

Kuliah atau kerja, kali ini mereka memberikanku pilihan. Iya aku memilih bekerja. Kenakalan ku dulu mungkin terdengar olehnya, orang tua ku.
***
Tempat pemberangkatan TKI, awal gadis lulusan SMA seperti ku pergi ke kota. Aku tidak sendiri, Bapakku kerja disana. Aku meninggalkan ibu dan ke dua saudara laki-laki ku.

Dunia ku biasa saja sebelum aku mengenal Lina. Gadis asli kota apel yang merantau dikota. Bersamanya kini aku memilih jauh dari Bapakku, kos sendiri. Hal ini mengingat tempat kerjaku yang lebih jauh.

 "Hati-hati dikota, senakal-nakalnya kamu jaga kesucian mu", hiruk pikuk kota menjadi kekhawatiran tersendiri darinya. Melihat dunia bandara yang diketahuinya. Bebas tanpa batas.

Kalimat pertama dan terakhir sebelum aku meninggalkan kos Bapak. Semenjak saat itu Bapakku pensiun dari kerjanya. Disinilah hidupku bersama Lina.

Bersambung


No comments:

Post a Comment

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...