![]() |
| Jejak Kaki |
Pagi itu terdengar isak tangis perempuan. Ku lepas kain putih bersih selepas bersujud. Dia ibuku. Ku dekati dan kurekatkan tangan kecil mungil ini meski tak sampai disekeliling tubuhnya.
"Ibu kenapa?" Mencoba menenangkan
"Kenapa kotak nasi tidak berkurang isinya?"
Aku tertunduk diam. Air mengalir tak tertahankan dipelupuk mata.
"Ibu percayalah aku baik-baik saja, perutku sedikit kurang lega"
Tatapan tajam seolah tidak percaya. Pura-pura dihadapan sejuta orang bahkan sahabat lain lebih mudah tetapi tidak dengan sahabat ku ini. Dia Ibuku. Sesosok wanita layaknya teman, sahabat dan segalanya.
Sahabatku memang banyak selain Ibu, kupercayakan pada mereka setiap lembar tulisan. Menemui untuk menertawakan disaat sedih, mungkin itulah sahabat. Tugasmu berhasil membuatku melebarkan pipi meski sesaat. Kalimat kasar, tertawaan, bahkan tamparan berhak kalian lakukan hanya untuk mengingatkan akan kebaikan.
Sejak dua hari yang lalu perutku berasa begah, mata tidak terarah bahkan makanan berbahan tepung tidak lagi tertelan ludah. Persahabatanku berada diujung tombak kehancuran. Masalah sepele yaitu cinta. Tidak ku sangka dia bernama sahabat ,bermain hati dengan orang yang ku cinta. Dia sebenarnya sangat baik, menunjukkan bahwa lelaki itu tidak pantas untukku, kesetiaannya bagai air di atas daun talas. Bersimpuh-simpuh ku meminta maaf tetapi mereka (sahabatku) tidak lagi mendengar, baginya aku hanya salah sangka, salah menduga dan akulah pemilik kesalahannya.
#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day11
#Sahabat
*Tulisan ini hanya fiktif belaka bila terjadi kesamaan tempat, tokoh ataupun kejadian semua adalah tanggung jawab anda 😁

No comments:
Post a Comment