Sunday, 20 October 2019

Aku, (Korban) Cintanya dan Dia

Semester ganjil telah usai. Rajutan soal telah selesai. Seperti kebanyakan universitas, libur segera dimulai. Tidak terkecuali Kos Fifa, kos perempuan ini selalu heboh dengan persiapan liburan.

"Ri kapan pulang?", Tanya Tata.
"Lusa kayaknya Ta, masih ada acara rutinan"
Ria adalah sahabat Tata, sejak mereka bertemu diatap jurusan kampus itu. Persahabatan mereka semakin erat. Tidak jarang Ria main kerumah Tata, mereka sudah seperti saudara. Alasan utamanya, asal Ria yang lebih jauh dari Tata. Bahkan, libur Sabtu  Minggu tidak cukup mengupas rindu kota dibesarkannya itu.

"Mau ikut kerumah tidak?", lanjut Ria.
"Mau-mau", suara antusias, "dari tadi kek", ucapnya dalam hati.
"Oke, lusa ya"
"Siap", sambil senyum-senyum bahagia.

Tidak seperti biasanya, Tata menanyakan hal ini. Biasanya dipaksa dulu baru mau pergi apalagi jauh. Meski seperti keluarga, Ria tidak bertanya, bisa-bisa Tata tidak jadi ikut kerumahnya.

Hari itu telah tiba, Ria dan Tata berangkat ke kampung halaman Ria. Ria selalu berkata "ijin orang tua mu dulu", dan jawaban yang tidak asing lagi, "iya", dari Tata.
"Ri nanti main ke tempat wisata ya? Yang terkenal itu didaerahmu"
"Nanti tanya emak dulu ya"
Wajah Tata tampak kurang puas. Ria adalah anak yang patuh pada orang tuanya. Jangankan untuk bermain ketempat wisata, beli makan di warung sebelah, dia ijin ibunya. Sejak kecil dia diajarkan untuk ijin ketika bepergian.  Jelas, dia adalah anak satu-satunya.

Enam jam telah berlalu, mereka berada di kendaraan umum. Mulai dari becak, kapal sampai ojek dinaiki. Iya kampung Ria memang pelosok, desa. Keesokkan harinya Tata menanyakan hal yang sama.
"Ri ketempat wisata yang terkenal itu", dia memelas penuh harap.
"Iya, nanti aku bilang emak dulu ya"
Merasa tidak enak dengan Tata, Ria mencoba membujuk ibunya. Terkenal tidak mudah memberikan ijin keluar terutama untuk hal yang tidak penting.
"Mbok masak apa?, Ria bantu ya", sambil memegang wajah masakan".
Ibunya mengangguk, tanda sepakat sebagai jawaban.
"Mak, Tata pengen ketempat wisata, yang terkenal itu, boleh?"
Tatapan tajam.

~Bersambung~

6 comments:

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...