Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan
Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan
Tiada mungkin ku biarkan lelahmu mendarah di hati
Sementara ku tahu kau tengah tertikam diketiak darah mu sendiri
Dengarkan kerasku bukan penghancurmu
Batuku bukan untuk membunuhmu
Apalagi menikam dengan hasrat ku
Lihatlah titik ini adalah nol
Kau dan aku disini
Disini memijak deretan monopoli kehidupan
Kau dengan segala serabut-serabut mimpi
Aku menganyamnya sembari menunggu mu kembali
Ku tahu tak jarang kau membakar serabutmu sendiri
Aku menyiraminya berkali-kali hingga lelah mendera diri
Namun keyakinan akan hati memberikan setitik arti
Menguatnya serabut perlu kau dan aku merajutnya tanpa henti
Kota Angin, 01.09.2020
No comments:
Post a Comment