Thursday, 31 October 2019

Biografi Eko Endri Wiyono : Penebar Semangat dan Inspirasi Berkarya

Karya BP. Eko Endri Wiyono

Eko Endri Wiyono, penghuni grup Kairo di one day one post batch tujuh ini adalah seorang Bapak yang bergelut di dunia bimbingan konseling. Beliau akrab dipanggil Bapak Eko. Sebagai lulusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di Universitas Negeri Surabaya telah mengabdikan diri sejak tahun 2001 didunia pendidikan. Sebagai putra kelahiran Nganjuk, setelah selesai studi beliau kembali mengabdi ketempat kelahirannya. Apakah beliau orang asli Nganjuk?, dugaan seperti itu namun belum tahu juga melihat kesibukan beliau.

Beberapa lembaga tempat beliau mengabdi antara lain SMPN 1 Brebek, MI Al Huda Bogo, MTsN Bagor, MTsN Lengkong dan saat ini di MtsN 2 Nganjuk. Seluruh lembaga tersebut berada di Kabupaten Nganjuk. Selain sebagai Guru Bimbingan konseling beliau sebagai pemimpin redaksi majalah Pekerti.

Dibalik  kesibukannya, beliau paling rajin posting di Odop bahkan diluar acara Odop. Tidak lain ide beliau selalu ada, selaras dengan hobinya membaca, menulis, traveling dan tidak lupa broadcast. Sosok yang tidak luput dengan pagar semangatnya ini, aktif pula dalam kegiatan Pengiat Anti Narkoba, Pusat Informasi Konseling dan Literasi. 

Beliau telah tergabung dalam Kopling yaitu komunikasi literasi Nganjuk. Tidak main-main sebagai pengguna #semangat ini berpengaruh dalam karya-karya dan penghargaan yang didapatkan. Sepatah kata semangat yang selalu beliau sematkan dalam setiap komentar memberikan dampak positif terutama bagi penulisnya.

Karya-karya yang telah di bukukan antara lain Tentang Bapak, Resolusi 2019, Kumpulan Cerita Anak, Jangan Pernah Berhenti Mengajar,  Menyelamatkan Generasi Emas Bangsa, Artikel Kesehatan, Dear Mantan dan Kau Selalu Punya Alasan untuk Bahagia. Selain karya juga terdapat penghargaan-penghargaan  yang didapatkan antara lain juara satu dan dua website sekolah secara berturut-turut serta juara tiga website Guru Indonesia. Tidak berhenti disitu banyak Challenge yang diikuti dan door prize nya dipublikasikan di sosial media seperti dari Kick Andy Show Metro TV berupa buku Reasons to Stay Alive yang berisi kisah nyata melawan depresi dan berdamai dengan diri sendiri. Meskipun beliau bukan pemateri atau PJ dalam acara ODOP, semangatnya memberikan inspirasi terlihat nyata. Bahkan Buku Tentang Bapak yang berisi Pemateri dan Senior Odop mampang bersama nama beliau, jadi jangan berhenti untuk #semangat.













Hilang persahabatan dan pertemanan
Ucapan berderai menggoda
Terikat fatamorgana
Abaikan persaudaraan

Naluri pengoda iman
Gengsi yang diutamakan
Dengan kepura-puraan
Itu godaan zaman

Bercerita seakan memiliki segalanya
Angan-angan Tuan lupa sesama
Yang menjauhkan semua
Akal diperbudak olehnya

Riba tidak dipedulikan
Hutang berderai awalnya
Akhirat menolaknya
Ruginya tuan didunia

Uang pembawa petaka
Sadarlah, selesaikan hutang segera
Yang menghalangi surga
Amalkan kebaikan untuk sesama

Wednesday, 30 October 2019


Merah dan hitam di dinding putih
Merah ku menunggumu
Hitam terkadang ku benci padamu
Dasarmu selalu putih dan bersih

Menunjukkan waktu yang terus berlalu
Kulingkari satu angka
Angka kau dan aku disatukan Tuhan
Dengan ikrar suci-Nya

Ku harap kau tidak lupa
Menyemai benih-benih cinta
Kesepakatan awal bersama

Bukan sajak rindu
Panah itu bukan mauku
Bukan pula maumu

Hanya Tuhan telah menyeru
Kau dan aku takdir yang tidak ku tahu
Percayalah aku menyayangimu

Terangkan apa yang ingin kau terangkan
Pada bangku kosong yang kau biarkan
Anak negeri terusir kreasi
Hanya demi tuntutan nilai

Karakter negeri terbengkalai
Keperdulian tercerai berai
Mana Pancasila?
Mana bineka tunggal ika?

Kita dituntut sama tanpa menghargai sesama
Lihatlah ini bukan negara satu suku dan agama
Bahasa kita beragam
Adat dan budaya berseberangan

Sama rata dihadapan bangsa
Hapuskan penjajahan maya
Merusak generasi muda
Tanpa ampun atau hancur segera

Anak bangsa harus merdeka
Bukan bebas tanpa batas
Bebas berkarya membangun bangsa
Pengentas kemiskinan negara

Sunday, 27 October 2019

Efec Cinta Salah Cerita

Bicara cinta, manusia bisa bodoh seketika, gila segila gilanya, tetapi jeniusnya, teori Einstein terkalahkan juga. Jika Anda tidak dapat menjelaskan sesuatu hal secara sederhana, itu artinya Anda belum cukup paham (Albert Einstein). Fakultas Ekonomi. Nama besar terpampang di langit-langit bangunan persegi panjang. Pakaian hitam putih lengkap dengan atribut kerjaan senior. Katanya masa pengenalan, orientasi mahasiswa.
"Dasar Gendut, bibir kecil, jadi panitia pula", Kata Pita dengan nada samar bercampur kesal.
Pasalnya setiap ada senior pasti pasal satu, senior selalu menang, bukankah kita diajarkan untuk mengalah terutama pada adik.
"Emang gue adiknya", mikir. Iya adik senior.
Dan anehnya pasal dua, jika senior salah maka kembali ke pasal satu. Bodohnya kita semua, iya, iya, saja. Nurut saja, padahal dalam hati keluar doa sapu jagat biar tidak lulus tepat  waktu kuliahnya.
***
"Gendut lagi?", Fikir Pita.
Unit kegiatan mahasiswa, English Community, komunitas bergengsi di Fakultas Ekonomi mempertemukan Pita dengan Si Gendut, Arif Diantara. Nama yang  cukup keren jika melihat lenggok badannya yang aduhai jempol semua. Diklat anggota baru di Batu Malang melanjutkan dinginnya perseteruan antar keduanya. Tidak ada sapa, malam inagurasi yang panjang hingga berakhirnya diklat tidak pula mengakrabkan keduanya.
"Eemmbekk...!", Teriak riang komunitas diatas bak truk bersamaan. Arif duduk dibelakang bersantai menjaga juniornya. Sebelum Pita muntah dan mengenai bajunya.
"Uwwekkk...", sembari menutup mulutnya.
"Eich...", Arif berdiri dan menyingsingkan bajunya.
Dia memintakan kresek pada senior lainnya. Sambil memijat-mijat leher bagian belakang Pita, diatas truk yang terus berjalan. Kejadian ini tidak cukup mengakrabkan keduanya, namun mampu membuat keduanya melemparkan senyum ketika berpapasan.
***
Satu bulan kemudian mereka resmi sebagai pasangan, bisa dibilang pacaran. Hal ini terdengar oleh Komunitas Efec, Economy Faculty English Community, tidak terkecuali teman Arif, Braham. Braham adalah lelaki yang menyukai Pita, sejak diklat pertama. Fitnah bertebaran, Braham menyebut bahwa Arif merebut Pita dari dirinya. Namun gosip ini tidak berangsur lama, setelah Pita mendapat sidang komunitas dan menjelaskan semua.
Selang empat bulan, harusnya cinta pada fase indah-indahnya , namun berbeda, ada duri cantik diantara mereka. Linda, senior satu jurusan Pita, dibidik sempurna oleh Arif berbahan akun Facebooknya. Untung saja Pita yang tidak sengaja membuka akun Facebook Arif memergokinya, dan bodohnya Arif tidak menghapus chattingnya dengan Linda.
Halaman samping perpustakaan awalnya senyap menjadi gaduh karena pertemuan mereka.
"Maksudnya apa?!", Menunjukkan handphone berisi pesan dari Linda.
"Cuma bercanda sayang", bujuknya pada Pita.
"Jaga jarak mulai sekarang!"
Terlalu sayang, kata yang tepat menggambarkan keadaan Pita dengan hati tercabik-cabik pisau pengantar pesan mampu memaafkan Arif. Berdamai dengan hati, membuang egonya, membuat mereka membaik kembali.
Dua bulan selanjutnya, Pita melihat Arif bersama seorang gadis cantik. Mereka jalan berdua, setelah diamati ternyata dia Sila. Mantan pacar Arif sebelum menjalin kisah dengan Pita.
"Enak ya jalan sama mantan!", Handphone Arif berbunyi suara  khas pesan dari Pita.
Dia celingukan memandang kesana kemari. Terlihat gadis berkerudung merah muda disudut utara dekat dermaga.
"Sebentar ya Sil", Arif pergi menemui Pita.
"Kenapa kirim pesan seperti itu?", Nada Arif meninggi menatap Pita.
"Tanya pada dirimu sendiri", jawab Pita memalingkan wajahnya.
"Dia lagi sedih, ayahnya baru saja meninggal, aku kasihan", jelas Arif.
"Apa dia tidak punya keluarga lain, atau sahabat perempuan!", Kali ini Pita benar-benar dimabuk cemburu. Arif diam dengan tatapan kemarahan dihadapan Pita, seolah ingin menerkamnya saat itu juga.
"Kamu pilih aku atau dia?!", Tegas Pita tanpa perduli semuanya.
Arif pergi, dia melangkahkan kaki ke arah Sila dan membawanya menjauh dari pandangan Pita. Dermaga saksikan berakhirnya cinta mereka. Angin kencang dermaga tidak mampu mengeringkan keringat dan air yang keluar dari matanya.


#ODOP Batch 7
#Tantangan 7
#Cerpen

Saturday, 26 October 2019

Membatik Mimpi

Kain putih polos mengawali sucinya niat
Lembar demi lembar terbuka jalan hebat
Kuteguhkan pada kayu penguat
Hasil tenun tangan para ahli mujarab

Ku siapkan canting dan malam perjuangan
Ku tuangkan malam pada canting semangat
Penuh terisi malam pembawa keajaiban
Angun melambai putihnya kain kesempatan

Kugores kan malam demi cita-cita
Ku tinggalkan canting harapan lama
Memulai warna pada polesan pertama
Kuning jingga warna pilihan awal cerita

Berteman canting dan malam penyemangat
Ku rajut lembar per lembar aksara
Melenggak-lenggok jalan cita-cita
Motif bunga berwarna tercipta

Bukan proses seindah kata-kata
Tangan gemetar canting semangat gugur berulang
Mengawali berkali-kali
Hingga membatik mimpi tercapai

Friday, 25 October 2019

Aku, (Korban) Cintanya dan Dia (Part II)

Ria menunduk, wajahnya memerah.
"Iya berangkatlah, sana siap-siap biar tidak kesiangan"
Bibir Ria melebar bagai bulan sabit. Dia bergegas ke kamar.
"Ta, buruan siap-siap"
Wajahnya terlihat kaget bercampur bahagia, begitu pula Ria.
"Mandi dulu ya Ri", sambil melipir ke kamar mandi.
"Mbok masih masak?", Sapa Tata yang berjalan ke arah kamar mandi.
"Iya Nduk", sambil bermanja dengan segenap sayuran dimeja.
"Byur...byur...", Terdengar suara air dari kamar mandi yang terlempar mesra kelantai.
Tata dikamar mempersiapkan barang-barang bawaannya nanti.
"Ri banyak benar"
"Eh... Sudah selesai Ta"
"Iya, sana mandi, jangan bilang tidak mandi"
Gelak tawa menggelegar dikamar. Ria memang paling rajin untuk tidak mandi, tidak lain angin di kotanya memang sangat dingin.
Beberapa saat mereka telah siap berangkat.
"Nduk sarapan dulu", suara Ibu Ria menggema dari dapur.
"Iya Mbok", balas Ria.
Mereka segera bergegas. Makan sudah, persiapan sudah, mereka berangkat.
Bersama motor tua peninggalan ayahnya, Tata mengendarainya.
"Ri sebenarnya aku ada janji lho"
"Hah... Janji, sama siapa?", Ria benar-benar kaget.
"Sama itu, cowok yang pernah ku ceritakan"
"Oh...", lanjut dalam hati "Jelas saja semangat kerumahku".
"Maaf ya Ri, orang tua ku tidak tau kalau aku kerumahmu"
"Lho, iya kah?", Ria lebih kaget lagi.
Bagaimana bisa sahabatnya yang sangat patuh pada orang tuanya tidak berpamitan. Bukan patuh lebih tepatnya takut. Tata memang patuh pada orang tuanya namun karena takut. Hukuman dari orang tuanya memang luar biasa. Bahkan bukan cuma dimarahi saja. Bapaknya memang sangat keras, wajar Tata seperti itu.
Perjalanan telah dimulai, angin sepoi-sepoi menemani perjalanan. Sekitar empat puluh kilometer jarak rumah Ria dan tempat wisata. Jalan berliku tajam bagai wahana permainan. Gerbang utama tempat wisata sudah terlihat.
"Kenapa Ta?"
"Dia belum kelihatan ya Ri?", Celingukan memandang kiri dan kanan.
Ria membisu, sedikit kekesalan hatinya. Bagaimana bisa sahabatnya seperti itu. Tidak lama kemudian datanglah sesosok laki-laki bermotor matic keluaran terbaru. Laki-laki itu berhenti didepan motor yang mereka kendarai.
"Hai..", kata Tata.
"Oh ini orangnya", gumam Ria dalam hati.
"Ayo lanjut perjalanan"
Gerbang utama telah terlewati, karcis masuk sudah lunas oleh lelaki tadi. Jalan berliku dan menanjak lebih menantang kali ini. Motor Ria berasap, seperti sudah tidak mampu lagi. Akhirnya bertukar motor, laki-laki itu menggunakan motor Ria. Gigi satu mengantarkan pada puncak tempat wisata. Tata terlihat bahagia. Acara disana cukup menyenangkan, berfoto bersama. Ria bagai lilin penunggu sistem pendekatan mereka.
Hari semakin menunjukkan waktu pulang. Tetap sesuai formasi. Ria dan Tata dengan maticnya sedang lelaki itu menggunakan motor Ria. Awalnya perjalanan indah sebelum bau durian menyempoyongkan kepala Tata.
"Ta, baik-baik saja"
"Pusing Ri, duriannya ngengat"
"Ganti aku yang didepan Ta?", Meski kurang enak karena terfikir pesan Ibunya.
"Iya Ri"
Motor matic siap dikendarai, Ria yang tidak pandai menggunakan matic sesekali kesulitan mengatur rem. Jalan menurun berliku dan "Brakkkk..." Ria kehilangan kendali.

~Bersambung~

Hujan menghujam jantungku
Menjatuhkan setitik demi titik rindu
Kala langit yang membiru menjadi kelabu
Mengumpulkan awan pekat berderu

Aku dihujam cemburu
Air yang jatuhkan rindu menyakitkan ku
Cemburu pada langit yang selalu didekatmu
Melihat senyum bulan sabit mu

Aku cemburu
Dia Menguyurku dengan sejuta titik rindu
Aku cemburu
Gemelegar petir pengetar jiwaku

Langit dan bumi saksikan kau dan aku
Terlihat indah dari mata lain
Tidak mata kita
Yang kau terpa hujan rindu bersama petir luka

Cemburu menghanguskan sejuk hujan itu
Membendungnya menjadi kelabu
Awan membiru di langit dan kelabu di bumi
Menawarkan indahnya hujan janji bisu
Hanya tulang belulang kayu batangan
Terdampar ditengah-tengah kota perantauan
Tanah tandus kian gersang
Terbawa angin perjalanan

Seperti dongeng dalam kehidupan
Itulah nama tersohor dijalanan
Pilihan tempat perkumpulan
Seolah dunia mampu tergenggam

nyata jalan menikung tajam
Seukuran pelipis
Mengemban tugas dunia
Bercerita kisahnya

Pulas ku usap cendela mata
Membekas jelaga
Berteman uap senja
Mimpi nyata

Angin, hantarkan rinduku padanya
Pada tanah kelahiran
Tanah perjuangan
Tanah perantauan


Busur itu telah menancap
Tepat pada jantung umat
Aku tidak mampu mengangkat
Ku takut dia hanya salah tempat

Hingga saat dia lenyap
Tanpa tangan ku berbuat
Membuat luka dan sekarat
Busur itu terlalu kuat

Akankah aku mengelak
Tangan Tuhan tidak mungkin berkhianat
Memasang busur tanpa sebab
Cucuran darah mendekap

Siapa Dia?
Melesatkan panah tanpa permisi
Aku mengelak semampu hati
Dia terus mengejar tanpa henti

Akankah aku berhenti?
Sosok yang tidak pernah ku mengerti
Salahkah diriku ini?
Aku hanya takut terluka kembali

Putri Pandan Berduri versi Batin Lagoi

"Cier...cier", suara bayi.
Namaku Batin Lagoi, suara itu mengantarkan ku pada semak belukar pandan yang penuh duri.  Bayi perempuan terlihat disana.
"Siapa yang tega meninggalkan bayi perempuan secantik ini"
Sebagai pemimpin suku laut di pulau Bintan ini sudah tugasku menjaga dan mengayomi rakyatku. Begitu juga bayi ini.
"angkatlah dia sebagai anak" bisik angin laut
Akhirnya aku membawanya pulang dan menjadikannya anak perempuanku.
Waktu sangat cepat berlalu, bayi kecil menjadi gadis yang sangat cantik. Aku yang mengajarkannya berbicara, makan dan segala hal menjadikan putriku Pandan Berduri yang anggun bak putri kerajaan yang sebenarnya. Aku sangat bahagia.
Gadisku, tidak ada lelaki yang berani meminangnya, aku yang menghalanginya.
"Aku sangat menyayangimu putriku"
Putriku tersenyum melihat indahnya bola mata. Aku ingin dia menikah dengan megat. Tidak lain untuk melanjutkan kepemimpinanku nanti.
Sebagai usahaku menyeleksi satu persatu lelaki yang berusaha mendekati putriku. Aku terus mengamati berbagai lelaki yang sekiranya tertarik pada putriku. Si Pitung pemuda pulau Bintan yang sempat ku amati. 
"Baik, sopan santun namun dia bukan keluarga megat, tidak", kataku.
"Jangan-jangan dia sopan dihadapanku saja"
Aku sudah seperti orang gila berbicara sendiri dan ku jawab sendiri.
Usiaku semakin berkurang putriku belum juga bertemu pendamping hidupnya. Diapun sepertinya sudah ingin menikah.
"Putriku, ku serahkan padamu, siapapun lelaki yang kau pilih, ayah akan menyetujui", ucapku pada gadisku itu.
"Tidak ayah, aku percaya padamu. Sesuai keinginanmu aku akan menikah dengan megat"
Aku kaget dari mana gadisku tahu. Senyumku ragu menatapnya.
Suatu ketika kudengar nama lelaki muda pedagang ikan di pulau Bintan ini. Dia adalah Jenang Perkasa, pendatang yang sangat ramah. Sikapnya mencerminkan seorang megat.
"Mana mungkin megat kepulau ini untuk berdagang"
Keesokan harinya aku perintahkan pengawal untuk menyebarkan undangan makan malam sebagai caraku mengamati pemuda-pemuda yang pantas mendampingi putriku.
Malam itu tiba, aku persilahkan seluruh pemuda pulau Bintan. Sama persis dengan megat, pemuda ini sangat sopan tutur katanya lembut. Aku tidak ragu lagi, dia cocok untuk Putri Pandan Berduri. Malam itu juga ku temui pemuda itu.
"Wahai pemuda, dari mana asalmu?"
"Maaf Raja kenapa menanyakan hal ini?
"Aku terpesona melihat sopan santun mu"
Dia terlihat bergejolak dengan pertanyaanku.
"Aku hanya pedagang Raja"
"Sebenarnya aku ingin menikahkan mu dengan putriku"
Jenang Perkasa sangat kaget dengan ucapan ku
"Bukankah Putri Pandan Berduri hanya akan dinikahkan dengan megat Raja?"
"Iya, ku rasa sikapmu cukup mencerminkan seorang megat pemuda pedagang ikan"
Beberapa saat keluarga Jenang Perkasa mendengar kabar tersebut. Ayahnya sangat bahagia. Tidak dengan Kakak kandungannya, dia belum puas melihat Jenang Perkasa keluar dari pulaunya. Dia berniat merebut Putri Pandan Berduri. Namun gagal, pernikahan Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri sudah berlangsung. Peperangan saudara terjadi. Akhirnya Kakak kandungan Jenang Perkasa meninggal dunia di perang saudara. Jenang Perkasa memimpin Pulau Bintan dan Pulau peninggalan ayahnya.

Ending cerita telah diubah untuk memenuhi penulisan ODOP batch 7

Sunday, 20 October 2019

Cilok di Taman Pandan Wilis

Berawal dari pemadam listrik oleh PLN di wilayah Desa Sugihwaras Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur sekitar jam 11.30 WIB (10/10/2019). Pemadaman listrik dijam istirahat kerja membawa pada kuliner cilok di Taman Pandan Wilis. Taman Pandan Wilis adalah salah satu taman kota di Area Sawah Werungotok Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Lokasinya tidak jauh sekitar tiga puluh menit dari Kecamatan Rejoso. Dekat dengan jalan raya, sekitar sepuluh menit dari Gerbang Toll Nganjuk.

Taman yang sejuk dengan kolam ditengah menambah keunikan. Sebelah selatan kolam terdapat rumput hijau dan pepohonan yang biasa untuk berkumpul dan bermain keluarga. Mushola dan toilet juga berdekatan, memudahkan ibadah. Tidak kalah dengan jejeran penjual disudut utara dengan lapak resmi. Disebelah timur dekat loket dan parkir, berjejer penjual cilok, sempol dan es teh.

Kelezatan cilok yang diceritakan rekan kerja berhasil mengoda saya untuk ikut serta kesana. Pertama masuk gerbang tidak ada penunggu gerbang utama. Rekan kerja menginformasikan bahwa tidak ada ongkos masuk, seperti taman-taman pada umumnya jadi gratis.

Setelah masuk, tidak ada tempat parkir yang sebenarnya, motor berjejer rapi beratap langit dibawah pohon. Tenang, cukup dengan dua ribu rupiah, motor akan aman, diawasi pedagang yang lapak disampingnya juga. Namun kita tidak beruntung, cilok yang diceritakan tidak ada.

Gb. Taman Pandan Wilis

Akhirnya kami nongkrong dibawah pohon bersama rumput-rumput. Rekan kerjaku melipir ke utara memboyong es krim, krupuk pecel lengkap dengan gorengan, sempol dan tidak lupa minuman. Cukup dengan dua puluh ribu rupiah bisa refreshing dan kami kenyang. Angin kencang membebaskan diri dari panas siang itu.


#Feature Tempat Wisata
#Tantangan VI
#ODOP Batch 7



Aku, (Korban) Cintanya dan Dia

Semester ganjil telah usai. Rajutan soal telah selesai. Seperti kebanyakan universitas, libur segera dimulai. Tidak terkecuali Kos Fifa, kos perempuan ini selalu heboh dengan persiapan liburan.

"Ri kapan pulang?", Tanya Tata.
"Lusa kayaknya Ta, masih ada acara rutinan"
Ria adalah sahabat Tata, sejak mereka bertemu diatap jurusan kampus itu. Persahabatan mereka semakin erat. Tidak jarang Ria main kerumah Tata, mereka sudah seperti saudara. Alasan utamanya, asal Ria yang lebih jauh dari Tata. Bahkan, libur Sabtu  Minggu tidak cukup mengupas rindu kota dibesarkannya itu.

"Mau ikut kerumah tidak?", lanjut Ria.
"Mau-mau", suara antusias, "dari tadi kek", ucapnya dalam hati.
"Oke, lusa ya"
"Siap", sambil senyum-senyum bahagia.

Tidak seperti biasanya, Tata menanyakan hal ini. Biasanya dipaksa dulu baru mau pergi apalagi jauh. Meski seperti keluarga, Ria tidak bertanya, bisa-bisa Tata tidak jadi ikut kerumahnya.

Hari itu telah tiba, Ria dan Tata berangkat ke kampung halaman Ria. Ria selalu berkata "ijin orang tua mu dulu", dan jawaban yang tidak asing lagi, "iya", dari Tata.
"Ri nanti main ke tempat wisata ya? Yang terkenal itu didaerahmu"
"Nanti tanya emak dulu ya"
Wajah Tata tampak kurang puas. Ria adalah anak yang patuh pada orang tuanya. Jangankan untuk bermain ketempat wisata, beli makan di warung sebelah, dia ijin ibunya. Sejak kecil dia diajarkan untuk ijin ketika bepergian.  Jelas, dia adalah anak satu-satunya.

Enam jam telah berlalu, mereka berada di kendaraan umum. Mulai dari becak, kapal sampai ojek dinaiki. Iya kampung Ria memang pelosok, desa. Keesokkan harinya Tata menanyakan hal yang sama.
"Ri ketempat wisata yang terkenal itu", dia memelas penuh harap.
"Iya, nanti aku bilang emak dulu ya"
Merasa tidak enak dengan Tata, Ria mencoba membujuk ibunya. Terkenal tidak mudah memberikan ijin keluar terutama untuk hal yang tidak penting.
"Mbok masak apa?, Ria bantu ya", sambil memegang wajah masakan".
Ibunya mengangguk, tanda sepakat sebagai jawaban.
"Mak, Tata pengen ketempat wisata, yang terkenal itu, boleh?"
Tatapan tajam.

~Bersambung~

Saturday, 19 October 2019

Misi Tuhan

Nada menawan bersautan
Menandakan panggilan
Berdiri ditepi hati
Merdu suara menusuk diri

Menjelma diantara senja yang tengah melenyapkan diri
Membawa sejuta pesan abadi
Menertawakan malam yang mencekam
Nama yang sama terus terdengar

Seolah mengatakan
"Aku tidak takut malam"
Beberapa sadar
Banyak yang bungkam

Tertutup mata dan telinga
Oleh belis dunia fana
Menjelma berbentuk keadaan
Rengsa jiwa dan kesibukan

Panggilan yang indah
Tidak terlupakan
Sebelum datang penyesalan
Tunaikan panggilan

Rindu Kirana

Titik pudar memudar
Pupil mengecil
Menutup retina
Menghilangkan jejak kerinduan

Hitam gelap pekat
Secercah cahaya
Menampakkan titik kerinduan
Membesarkan pupil

Bayangan terlihat nyata
Sosok tinggi menjulang
Tersenyum
Melambai

Katakan
Duduklah
Beristirahat tanpa tapi
Bersandar tanpa nanti

Merindukan cahaya illahi
Katakan
Membaca fikiran
Bukan aku Tuhan

Senyum Negeri

Google

Bintang membentang ditengah gelapnya malam
Ditengah hamparan bumi pertiwi
Tampak indah tersenyum berseri

Berteman bahana dan binar motor usang
Ku dekati satu persatu bintang
Hanya lampu-lampu perumahan

Jalan berbatu terjal
Rumah berbahan kayu tradisional
Sunyi sepi hiruk pikuk kota negeri

Terlihat gadis kecil tertawa
Bersama segerombolan temannya
Memainkan bola-bola

Menikmati indahnya suasana desa
Tanpa terkontaminasi hawa kota
Indahnya Desa Negeri Indonesia

Sunday, 13 October 2019

Pohon Waktu


Goresan tinta ini cukup mewakili diriku
Kesan yang tidak berkesan
Ataukah Pesan yang beralasan
Tidak perlu seribu
Cukup satu karena aku
Bukan kebencian akan waktu
Penyesalan akan kamu
Deraian harap tidak berujung satu
Bukan tentang teori perkodeanmu
Bukan pula logaritma yang kau ucapkan padaku
Bukan tentang rindu yang memudar pilu
Bukan pada nada sendu
Kau hanya perlu tau
Ketika angin mematahkan ranting dahanku
Aku terluka, sakit bahkan tidak tahu
Kamu mungkin sama
Bahkan bisa sebaliknya
Namun, tunas baru akan tumbuh lebih rimbun dari kamu
Akankah ku salahkan angin
Dia hanya perantara lukaku

Sampaikan pada Hujan

Google

Gerimis, gravitasi memang salahku
Jarak kau dan aku terlalu dekat
Newton telah bercerita
Langitmu lebih dekat padaku bukan Sang Surya

Air matamu sengaja ku tarik
Pilumu tergambar, redup awan petir menggelegar
Menggambarkan betapa muram hatimu
Tidak terbayangkan betapa banyak lisan yang ingin kau ucapkan

Kau boleh marah
Murka pun tidak ku larang
Kau boleh membawa apapun yang kau inginkan
Tetapi cukup sebagai teguran insan

Aku tidak menyesal hujan
Tamparanmu memang mengenaskan bahkan menewaskan
Tidaklah kau lihat sekuntum bunga indah bermekaran
Karena kedatanganmu dinantikan

Hujan, kaulah anugerah Tuhan
Setelahnya ku harap kau tidak muram
Tergambar dengan warna-warna terdampar diawan
Merah, kuning, hijau warna khas paparan


#Tantangan 5
#Odop Batch 7
#Hujan

Saturday, 12 October 2019

Panggilan Tuhan

Google

Kereta dorong ini siap ditinggalkan. Badannya yang kian usang penuh debu bergelantungan. Persahabatan membawa pada arena ini.

Pertemuan berawal dari sini.
"Salam kenal, saya Tia"
"Saya Mila, salam kenal juga Mbk"
Singkat cerita, kami duduk berjajar dengan jarak satu meja saja.

Sunyi, sepi, hanya beberapa kali berbunyi.
"nginggg, ngredek...ngredek..."
Lembar demi lembar keluar bersama angka dan huruf yang terangkai. Rutinitas sehari-hari.

"Waktunya beberes", celetuk Mila
Tia nampak tidak peduli, sederet angka dan simponi cerita telah menunggu dalam waktu.
"Mbk, pulang dulu ya"
Tia mengangguk, tetap pada ekspresi yang sama.
"Jangan khawatir banyanganku akan menemanimu"
"Iya", tetap dengan ekspresi yang sama.
Mila beranjak dan meninggalkannya.

Deretan angka telah selesai. Hawa dingin tiba-tiba merasuk ruangan.
"Bayangan?", Ucapnya.
"Bagaimana bisa orangnya dan bayangannya", ucapnya dalam hati.
Tia menoleh ke kanan tepat bangku Mila. Bulu kuduk berdiri sesosok wanita tampak hitam rata disana. Duduk sama persis sesuai kebiasaan Mila.
Keringat dingin mengucur, berlahan Tia mendekatinya. Tertapaki kaki yang kian mendingin pada keramik ini.

Tangan menganyun dipundak benda hitam.
"Brakkkk...!".
Tangan Tia terhenti, terhentak, menoleh jendela. Bayangan menghilang. Segera berlari ke arah jendela sumber suara. Terlihat kerumunan manusia.

Tangannya menggigil mengetik beberapa angka.
"Tut...Tut...", Lama dan tidak ada jawaban.
"Sial, kemana manusia-manusia ini."
"Srek..", jendela depan terbuka.
"Jum (panggilan sayang untuk semua), Mila", lelaki kerempeng kecil.
Kaget bukan main.
"Kenapa? Itu ada apa?", Borongan pertanyaan.
"Keluarlah"
Sambil menoleh ke kanan dan beranjak keluar.
"Aku tidak berani kesana, bukan Mila kan?"
"Cobalah kesana", bujuknya.
Kakinya seperti otomatis menuju kerumunan, semakin mendingin tertapaki.
"Mila", terulang kata itu dalam hati.
Tidak perlu membuyarkan kerumunan, terlihat wajah itu.
"Aku!, mirip wajahku!".
"Ayo, sudah  waktunya pulang".

End


Thursday, 10 October 2019

Aku terpaku pada sebuah kata nisan
Kala dunia menghimpit dengan problema kehidupan
Lidah ingin marah dan lelah
Terguyur derasnya tertawaan

Kala pecut maut memanggil
Tubuhku tersungkur
Akankah aku mundur
Hawa panas terus menghibur

Kala tarikan tepat diujung jemari
Makian bukan
Tertawaan apalagi
Hanya nafas terhempas

Mendingin dan kaku terbujur
Sudah bersiapkah
Sudah cukupkah
Sudah apa?

Sepotong kain putih
Bukan!
Sepotong amal yang tertatih
Menunggu taat semua pergi



Rasa

Kita dalam sebuah kisah
Terbelenggu oleh waktu
Mendobrak pintu
Bersemayam dalam titipan

Mendadak bukan tersedak
Akankah pemenang di akhir cerita
Jangan kan menunggu senja
Melihat lunglaimu serasa ingin pergi tak jumpa

Ponten berpacu volume berderu
Bagai pengawal kerajaan berbatu
Mata hati berkata bukan salahmu
Dunia bergumam semua salahmu

Sebenar-benarnya aku
Kamu tetap terbenar
Sesalah-salahnya kamu
Kamu adalah raja

Raja, penguasa meski tidak punya
Penguasa melindungi rakyatnya
Berbeda dalam kata bisnis
Raja adalah segalanya

Paradigma Kehidupan


Kamu adalah aku
Kamu yang kupandang
Kamu yang tak tersentuh
Berkontur bercahaya

Tiga dimensi seukuran tubuh ini
Setiap ku tersenyum kau begitu
Setiap ku marah kau pun sama
ketika ku menangis kau juga

Tidak ada yang mengalah
Karena kamu adalah aku
Aku yang tidak bisa mengalahkan mu
Kamu yang tidak akan pernah bisa mengalahkanku

Parasmu memukau diri
Sering ku dekati kau bagai sepenggal hati
Kita sama, sama dalam tatap dan ekspresi
Sering ku singgahi pastikan baik-baik raut paras ini

Terkadang kau pasok, berbekal gemerlap pendar
Kau jadikan berbinar
Kau terbawa setiap hawa
Berbeda versi bulat, persegi sama sisi

Pirsa buntut menoleh muka
Tidak perlu, terlalu banyak kebaikan mu
Ketika kau murka, patah oleh diri
Ku berdarah, insan sejati yang membuat mu lebih indah dari hari ini


Angin kencang menampar
Selembar plastik terdampar

Menari-nari bersama air
Menghancurkan kemegahan
Tangan-tangan jahil tidak peduli
Dia melenggang butuh pertolongan

Merusak tanah, air dan lingkungan
Organik anorganik dapat didaur ulang
berjuta tahun mikroba menghancurkan

Haruskah angin yang mengantarkan
Alam indah cukup mudah
Masihkah tidak perduli

Biarkan plastik bersemayam
air menari-nari tenang tanpa ombak berdiri
Suara burung berkicau sunyi
Redam fikiran dan emosi



Sunday, 6 October 2019

Sangkuriang : Jawa Barat (Part 2)

Part 1 https://bit.ly/2ImEEdh

Lanjutan

Sangkuriang keluar rumah dan lari menjauh meski dengan luka dijidatnya. Aku terbawa amarah dan membiarkannya. Keesokan harinya, Sangkuriang tidak juga pulang. Aku menunggunya, bagaimanapun dia anakku. Dia juga tidak tahu kalau Tumang adalah ayahnya. Bukan sepenuhnya kesalahannya. Dengan penuh rasa bersalah aku meninggalkan gubuk tempat tinggalku. Aku berjalan sampai kaki lelah dan terhenti pada Goa. Aku tinggal dan bersemedi di dalam Goa. Dewa menganugerahkan kesaktian untuk ku yakni awet muda. Aku menjadi gadis selamanya.
 Gb.Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Google
Suatu ketika aku sedang memetik buah dihutan, tanpa sengaja seorang pemuda mendekati ku.
"Biarkan aku membantumu Nona"
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Dia lelaki yang tampan, baik pula. Seiring berjalannya waktu aku jatuh hati padanya. Ternyata dia merasakan hal yang sama.
"Sumbi, apakah kau mau menikah dengan ku?"
Aku tidak langsung menjawabnya. Gengsi, aku kan perempuan harus menguji dulu keseriusannya.
"Beri aku waktu"
Akupun lantas pergi meninggalkannya. Seperti biasa aku memetik buah, pemuda ini selalu datang.
"Sumbi bisakah kau kenakan ikat kepalaku"
Ikat kepala Sangkuriang kurang pas, aku membantunya dan menemukan bekas luka.
"Sangkuriang"
"Anakku" bisikku dalam hati
"Sumbi kau tau nama asliku?"
Sangkuriang terkejut
"Nak maafkan Ibu, aku Ibumu, aku tidak bisa menikah dengan mu"
Sangkuriang lebih terkejut, mukanya memerah muram dia marah.
"Jangan jadikan alasan lukaku ini Sumbi, aku tidak percaya kau Ibuku!"
Dia terus memaksaku, dia tahu aku memang tertarik padanya.
"Baiklah aku akan menikah dengan mu tetapi dengan dua syarat"
"Apa itu?!"
"Buatkan aku danau dan kapal besar dalam waktu satu malam" dengan keyakinan putraku tidak mungkin sanggup memenuhinya.
"Baiklah"
Malam harinya aku lihat Sangkuriang tengah memanggil bala tentara jin atau Guriang untuk membantunya. Aku tidak menyangka benar-benar tidak kuduga putraku hampir menyelesaikannya. Rupanya dia telah menjadi lelaki perkasa. Aku mulai khawatir.
"Sang Hyang Tunggal bantulah aku, aku tidak mungkin menikah dengan putraku" terus memohon hingga aku teringat akan kain tenunan ku. Kujejer dia, sorot merah tanda pagi terpancar dari sana.
"Cukurukuk..." Ayam-ayam berkokok bersautan
"Apa ini kenapa sudah pagi" teriak dan kebingungan Sangkuriang. Guriang menghilang meninggalkan danau dan kapal besar yang hampir jadi. Merasa kecewa Sangkuriang mencari penyebabnya. Dia tahu kalau itu ulahku. Aku berlari ketakutan. Tanpa sengaja marahnya membuka penutup danau dan menendang kapal besar. Begitu kuatnya Sangkuriang, kapal sampai  telungkup dan menutupiku. Sangkuriang tersadar Ibu yang disayanginya terjebak. Dia meraung sekuat tenaga, mendengkur dan meratapi perbuatannya. Sangkuriang berusaha menyelamatkanku namun terlambat. Dia pun terhanyut oleh air danau yang tumpah. Akhirnya menjadi Sungai Citarum dan Gunung Tangkuban Perahu.

Cerita menggunakan Pov Dayang Sumbi dan ending telah diganti oleh penulis untuk memenuhi tantangan pekan 4 ODOP Batch 7.
#Tantangan 4
#Odop Batch 7

Sangkuriang : Jawa Barat (Part 1)

POV : Dayang Sumbi Improve
Gambar Kerajaan
Google

Ayahku membuang ku dihutan.
"ayah, kenapa setega ini padaku" sambil ku usap air yang berderai dimataku.
***
Namaku Dayang Sumbi terlahir dari keluarga Raja. Aku adalah anak satu-satunya Raja Sumbing Perbangkara. Aku tidak pernah tahu siapa ibuku. Ayahku selalu mengelak akan pertanyaan itu.
Sejak kecil ayahku, Sang Raja, sangat menyayangiku. Suatu hari ayah mengajakku ke pasar. Aku sangat bahagia.
"Ayah mangga"
Ayahku membelikannya
"Ayah pisang"
Banyaknya permintaan ku membuat ayah berkata
"Putriku sayang buahnya sudah banyak ayo pulang"
***
Tidak terasa aku beranjak dewasa. Rambut ku panjang terurai, kulit putih,  orang bilang gerakan ku blarak sempal. Banyak yang berkata aku gadis sempurna. Hal ini tidak lantas membuatku berbangga. Banyak pemuda kalangan raja mendekati dengan perantaraan ayahku. Aku bingung dengan mereka semua yang memperebutkanku. Hingga suatu ketika ayahku berkata.
"Dayang Sumbi, putriku siapakah diantara raja-raja itu yang ingin kau terima sebagai suamimu"
Aku diam, menatap ayahku yang tengah memberikan tatapan penasaran akan jawaban ku.
"Aku tidak menerima mereka semua Ayah, aku belum ingin menikah"
"Taukah kau Nak jika kau tidak segera memilih salah satu dari mereka kerajaan ini akan terancam bukan hanya itu akan terjadi peperangan yang lebih besar" Nada ayahku meninggi. 
Aku benar-benar tidak mengerti kenapa mereka sampai seperti itu padaku. Aku meminta untuk pergi namun tiba-tiba ayah membuangku dihutan. Dia meninggalkanku sendiri dengan Si Tumang, anjing peliharaan istana. Dia menjagaku di gubuk hutan. Ditemani alat tenun aku melanjutkan kebiasaanku menenun. Setiap hari aku menenun dan terus menenun menghasilkan banyak kain. Aku meluapkan kesedihan dan kekecewaan pada ayahku. Kekawatiran ayah akan kerajaan kami. Mungkin aku dianggap hilang atau melarikan diri karena diminta memilih seseorang yang tidak ku inginkan.
Pada tenunan kesekian benangku terjatuh. Aku terbiasa akan pelayanan kerajaan membuat ku malas mengambilnya.
"Jika ada yang menemukan benangku dan mengembalikannya padaku, kalau laki-laki dia akan kejadikan suami kalau perempuan akan kujadikan saudara" celetukku kala itu.
Tanpa sadar kalimat itu didengar para dewa. Datanglah seekor anjing, Si Tumang, dia membawa benang tersebut.
"Tumang" nada kagetku
Sebagai wujud janji ku aku memutuskan untuk menikah dengan Tumang. Mengetahui hal tersebut ayah sangat marah dan kecewa. Dia tidak lagi memperdulikanku.
Suatu malam purnama, aku melihat sosok lelaki tampan membereskan tenunanku. Dia Tumang, suamiku, aku tidak menduga ternyata Tumang adalah jelmaan dewa. Tidak lama kemudian aku hamil. Kami memiliki anak laki-laki yang tampan seperti Tumang. Ku beri nama Sangkuriang.

Gambar Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Google
Waktu terus berlalu Sangkuriangku sudah semakin besar dia sudah pandai memanah. Suatu ketika aku ingin sekali memakan daging rusa.
"Sangkuriang putraku, Ibu sangat ingin makan daging rusa, apakah kau mau memburukkan untuk Ibu?"
"Tentu Ibu, aku akan pergi bersama Tumang"
Mereka berangkat dengan semangat ke tengah hutan. Aku menunggunya dengan harapan dia pulang dengan daging rusa.  Hari semakin gelap, aku benar-benar khawatir pada putraku dan ayahnya. Beberapa saat terdengar suara Sangkuriang.
"Ibu... Ini dagingnya" dengan wajah sumringah Sangkuriang memberikan daging yang dibawa.
Aku tersenyum bangga keturunan Raja Sumbing Perbangkara pandai memanah seperti kakeknya. Putraku satu-satunya berhasil mendapatkan buruan rusa.
Saat memasaknya aku merasa ada yang mencurigakan dari daging ini.
"Sangkuriang, sini nak?!" Aku berteriak kencang dan putraku mendekat.
"Ada gerangan apa ibu memanggil ku"
"Ini daging apa nak, ibu rasa ini bukan rusa?"
Aku masih belum juga percaya padanya namun tidak sepantasnya aku terus bertanya seperti itu. Tiba-tiba teringat Tumang, aku tidak melihatnya dari tadi.
"Oh iya Tumang kemana?"
Sangkuriang bingung wajahnya.
"Kemana Nak?" Aku mulai geram pada putraku
"Tu... Tumang tadi tidak sengaja terkena busur panahku"
 "Lalu dimana dia?"
"Dia aku minta mengejar babi hutan buruanku tetapi tidak mau Ibu, dia mati dan itu dagingnya" sambil menunjuk arah daging
"Prakkkk...!!!" Entongku melayang dijidatnya.
Hatiku hancur, anakku membunuh bapaknya sendiri. Tidak kuasa ku bendung rasa aku benar-benar marah padanya.
Sangkuriang keluar rumah dan lari menjauh meski dengan luka dijidatnya.

~Bersambung~
Part II https://bit.ly/357UZfA

#Tantangan 4
#Odop Batch 7



Saturday, 5 October 2019

Ilusi Semata

Tepian jalanku terhenti
Apakah kau mendengar berita?
Tentang dia
Dia bersama orang barunya

Nafasku panjang menjulang
Dia bersamanya?
Cinta pandangan pertama
Dengan sosok sempurna

Hancurkah?
Tidak
Tidak, sesempurna kaca manusia
Jika dunia arahnya, sempurna

Kasta, tahta dia punya
Paras rupa memikat jiwa
Matamu bisa buta karenanya
Hanya agama yang membuat mulia

Alarm berbicara tepat jam tiga
Nostalgia alam bawah sadar bercerita
Ilusi macam apa?!
Kepastian penelantaran nyata


Friday, 4 October 2019

Ruang Kepeng

Berbondong-bondong insan berdatangan
Bukan acara hajatan
Bukan pasar perbelanjaan
Bukan pula tempat peribadahan

Waktu dikorbankan
Tenaga digunakan
Demi kau semua terelakan
Nyawa pun terlupakan

Apakah kau racun insan?
Menipu paras tuan
Berkuasa bagi yang tidak faham
Tidak berkah bagi yang mampu memanfaatkan

Apakah kau racun insan?
Berkedok keindahan dan kekuasaan
Mencekam membius kesadaran insan
Dengan bunga besar-besaran

Sedikit demi sedikit kau ringkus kebahagiaan
Tidak ada ampun tuan
 Terlambat dan berat
Sekali terhambat bunga membesar berlipat-lipat

Bersihkan Otakku

"Selamat malam" ucapku dan kedua orang tua ku pada lelaki dan perempuan tua itu

"Iya silahkan masuk, duduk Nak, sini lho, maaf kurang rapi" jawab si Mbah Dok sambil menebas kursi

Sementara Mbah Nang sedang melahap makan malam.
"Ini Mbah yang Bapak ceritakan"
Aku manggut-manggut meng iya kan kalimat Bapakku. Handphone Bapak berbunyi seperti biasa panggilan kerja. Kami ditinggal pergi.

Berawal dari cerita keluarga, mencari silsilah mana Nabi Adam mempersatukan kami dengan alur supernya. Mulai dari Mbah Buyutku, sampai nama-nama yang bahkan tidak pernah ku dengar bermunculan. Begitulah silsilahnya menjadikan kami keluarga, terlampau dekat lebih mudah perantara Nabi Adam As.

Selesai makan malam Mbah Nang duduk disamping Mbah Dok sambil berbincang-bincang.

"Malam Jum'at pahing ya?" Celetuk pelan Mbah Nang

"Iya" jawab Mbah Dok sambil melipir melanjutkan cerita silsilah keluarga yang panjangnya jangan ditanya.

Aku merasa ada yang janggal tapi sudahlah hanya perasaanku saja. Tiba-tiba Mbah Nang membuka lemarinya, keluarlah benda persegi panjang dengan penutupnya. Lebih mirip penutup wadah air jaman dulu. Tatapan ku tidak sopan nyelonong saja membidik wadah yang tidak ku tahu apa. Sambil berpura-pura mendengar cerita silsilah keluarga aku mengamatinya.

Benda kotak lebih kecil keluar, ternyata wadahnya. Berisi benda berbungkus kain putih, seperti mori. Ditaruhnya diatas meja, sebelum itu Mbah Nang mendekatkan pada keningnya. Layaknya sesembahan. Huss otakku mulai salah jalan. Keluarlah wadah kecil seperti minyak wangi, dioleskan hanya sekali. Aku tidak mengerti tetapi otakku mulai berjalan keluar dari zona nyaman. Wadah itu dikembalikan dalam wadah besar.

Keluarlah benda kedua, lebih mirip dengan barang antik masa lampau berbentuk keris. Aku mengira akan dioleskan seluruh permukaan bisa habis minyak wangi yang  lebih kecil dari ukuran obat tetes mata itu. Ternyata hanya bagian kiri dan kanannya, lagi-lagi mulutku tidak mampu bertanya. Hal ini berulang sampai yang ketiga. Otakku menerka-nerka, sepertinya Mbah Nang memiliki aliran yang tidak ku mengerti. Tetapi dia terlihat sangat sopan dan ramah. Apa mungkin, bisik tetangga, bukanlah, bisikku pada hati. 

Dua perempuan ini ternyata sangat senang mempelajari dunia silsilah yang tidak ku mengerti. Acara televisi anak muda terus berlanjut begitu pula perbincangan mereka.

"Iya beli tanah jauh dari peradaban di oro-oro sana" sependengaranku akan ucapan Ibuku, maklum fokus pada televisi.

"Rejeki itu Allah yang memberi" Sahut Mbah Nang

Aku sontak melihat wajahnya tersenyum percaya akan ucapan itu. Hatiku tersayat, betapa jahatnya otakku bahkan senyumnya terlihat lebih yakin akan kekuasaan Sang Maha Pencipta.

Thursday, 3 October 2019

Cerita Puisi

"Diam"

Ruang persegi panjang menyudut beraturan
Diam
Jam berdenting akhir perjalanan
Diam

Kursi goyang kian menoleh ringan
Diam
Betapa beratnya putaran
Diam

****
"Sepertiga Malam"
Putihku bergerigi memahat hati berlafal mantra suci

"Bicara Rindu"
Ketukan sajadah berderai dengan lidah itu aku

(Puisi 2,7)

***
"Surat-Nya"

Mengapa kau tanya bulan
Sementara disini ada bintang
Teori evolusi tidak mampu menjawabnya
Teori Darwin mengundang tanya

Sederet barisan ayat mampu bercerita
Bagaimana terbentuknya nyawa
Bagaimana bisa ragumu tak malu
Surat takdir sudah direncanakan-Nya

Wednesday, 2 October 2019

Kumbang Bertanya

Akankah kau bunga indah itu
Sejak bunga yang ku hinggapi menghilang dan pergi
Tidak kulihat senyum itu merekah seperti saat ini
Berbeda dengan mu
Ku lihat mahkota kian merekah
Lepas penat dalam dada
Akankah kau penggantinya
Makhluk yang memulai senyum diluka
Bunga-bunga  kian menawan mempesona
Menawarkan sejuta makna
Senyum itu merekah darimu kumbang muda
Sederhana kian bersahaja
Bertanya dan bertanya
Apakah ini fajar yang dinantikan
Seperti merekahnya bunga-bunga
Ataukah senja yang berpamitan
Bagai tertidur tidak terbangunkan
Akankah perjalanan masih panjang
Bunga akankah kau menorehkan luka?
Luka pada kumbang muda

Aku Menjodohkan Jodohku

Putih abu-abu terkenal dengan masa paling indah. Masa pertama aku melihat gadis manis dengan pesona menawan memikat hati. Dialah Ema si gadis kota yang modis dengan tampilan sederhana.

Singkat cerita aku mencintainya. Tidak banyak pendekatan yang kulakukan. Akhirnya kami menjadi pacar. Berawal dari kelas XI disekolah menengah kejuruan itu cinta kami bersemi indah. Akhirnya kami dinyatakan lulus sekolah. Aku melanjutkan studiku ke luar daerah. Ema memutuskan untuk kerja di Bank Perkreditan Rakyat diluar kota. Jarak menghalangi kisah cinta kami. Tiga pekan sekali kami bertemu dikota tinggal. Rindu tentu sudah tidak terbelenggu.

Anak kuliahan, aku sudah terkontaminasi dengan dunia kuliah yang merasakan betapa indahnya kebebasan. Begitu pula dengan Ema dia menjadi gadis pekerja yang mulai keluar malam. Bahkan pertemuan kami berubah di malam hari. Aku merasa tidak nyaman, kurang sopan membawa anak perempuan keluar malam bahkan sampai larut malam. Namun itu keinginannya.

Suatu ketika, aku diajak teman mainku keacara kelompok kampusnya. Awalnya ogah nanti berasa Maba ditahun ajaran baru tetapi kurang enak menolaknya jadi kuterima saja. Tidak seburuk dugaanku ternyata disana ada teman semasa SMP ku. Dia Lidia, gadis cantik yang pandai bersolek kian terlihat anggun mengoda.

Berawal dari pertemuan itu kami sering keluar bersama, bahkan tidak menunggu tiga pekan aku sudah pulang ke kampung halaman. Sebatas teman keluar, mengingat ada Ema gadis yang sangat ku cinta. Demi menjaga persahabatan dengan Lidia aku tidak bisa menolak ajakannya keluar meski sekedar nongkrong.

Cintaku dan Ema berjalan hampir lunas untuk membayar cicilan mobil beserta perabotannya. Aku sudah lulus kuliah. Hobi traveling bersama teman-teman sepakat membuat agenda ke Bromo. Lidia mengetahui hal itu, dia minta untuk ikut serta. Sebagai teman yang baik tentu aku mengizinkan, agar tidak terjadi salah faham aku tidak mengajak Ema yang notabene pacarku.

Satu Minggu kemudian acara berlangsung, kami sampai di puncak Bromo. Seperti umumnya Selfi dulu ya. Tanpa sengaja Lidia ikut narsis dibelakangku, upload deh di sosmed. Cengkling, komentar status baru ku. 
 "traveling gk ajak-ajak" tidak lain Ema
"sama temen-temen ini"
 Beberapa menit komentar selanjutnya
 "siapa cewek jilbab pink"
 "mau kenalan?" 
"Lid temanku mau kenalan tak kasih nomor mu ya". Lidia mengangguk meski terlihat hanya tidak enak bilang tidak.

Tidak butuh waktu lama Lidia dan Bram terlihat semakin akrab saja. Aku yang awalnya dekat dengannya berangsur menjauh. Bram sebagai temanku meminta untuk ditemani ke rumah Lidia, lagi lagi aku tidak bisa menolaknya.

"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Lidia ada Bu?"
"Ada silahkan masuk, ada perlu apa mas?" Tanya Ibu paruh baya pada ku dan Bram
"Saya teman Lidia Bu, mau silaturahmi"
Seperti insting seorang Ibu yang tidak mau anaknya didatangi laki-laki ibunya lanjut bertanya
siapmenikah?
Wajahku ikut memerah
Siap Bu jawab Bram
Lidia pun keluar dan obrolan berlanjut.

Selang beberapa minggu Lidia menghubungi ku sepertinya dia merasa aku menjauhinya.
"Aku ingin cerita apa kamu bisa?"
"Iya cerita saja"
"Aku belum yakin dengan Bram, aku tidak tahu harus jawab apa dengan keseriusannya"
"Kenapa begitu"
"Apa kamu tidak ada perasaan padaku?"
"Tentu ada"
"Kamu sudah tahu kan jawabannya"
"Maafkan aku, aku sudah punya Ema, dan Bram adalah temanku"
"Iya aku mengerti"
Handphone tertutup, akhir tahun ini Lidia dan Bram akan bertunangan.

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...