Sunday, 27 October 2019

Efec Cinta Salah Cerita

Bicara cinta, manusia bisa bodoh seketika, gila segila gilanya, tetapi jeniusnya, teori Einstein terkalahkan juga. Jika Anda tidak dapat menjelaskan sesuatu hal secara sederhana, itu artinya Anda belum cukup paham (Albert Einstein). Fakultas Ekonomi. Nama besar terpampang di langit-langit bangunan persegi panjang. Pakaian hitam putih lengkap dengan atribut kerjaan senior. Katanya masa pengenalan, orientasi mahasiswa.
"Dasar Gendut, bibir kecil, jadi panitia pula", Kata Pita dengan nada samar bercampur kesal.
Pasalnya setiap ada senior pasti pasal satu, senior selalu menang, bukankah kita diajarkan untuk mengalah terutama pada adik.
"Emang gue adiknya", mikir. Iya adik senior.
Dan anehnya pasal dua, jika senior salah maka kembali ke pasal satu. Bodohnya kita semua, iya, iya, saja. Nurut saja, padahal dalam hati keluar doa sapu jagat biar tidak lulus tepat  waktu kuliahnya.
***
"Gendut lagi?", Fikir Pita.
Unit kegiatan mahasiswa, English Community, komunitas bergengsi di Fakultas Ekonomi mempertemukan Pita dengan Si Gendut, Arif Diantara. Nama yang  cukup keren jika melihat lenggok badannya yang aduhai jempol semua. Diklat anggota baru di Batu Malang melanjutkan dinginnya perseteruan antar keduanya. Tidak ada sapa, malam inagurasi yang panjang hingga berakhirnya diklat tidak pula mengakrabkan keduanya.
"Eemmbekk...!", Teriak riang komunitas diatas bak truk bersamaan. Arif duduk dibelakang bersantai menjaga juniornya. Sebelum Pita muntah dan mengenai bajunya.
"Uwwekkk...", sembari menutup mulutnya.
"Eich...", Arif berdiri dan menyingsingkan bajunya.
Dia memintakan kresek pada senior lainnya. Sambil memijat-mijat leher bagian belakang Pita, diatas truk yang terus berjalan. Kejadian ini tidak cukup mengakrabkan keduanya, namun mampu membuat keduanya melemparkan senyum ketika berpapasan.
***
Satu bulan kemudian mereka resmi sebagai pasangan, bisa dibilang pacaran. Hal ini terdengar oleh Komunitas Efec, Economy Faculty English Community, tidak terkecuali teman Arif, Braham. Braham adalah lelaki yang menyukai Pita, sejak diklat pertama. Fitnah bertebaran, Braham menyebut bahwa Arif merebut Pita dari dirinya. Namun gosip ini tidak berangsur lama, setelah Pita mendapat sidang komunitas dan menjelaskan semua.
Selang empat bulan, harusnya cinta pada fase indah-indahnya , namun berbeda, ada duri cantik diantara mereka. Linda, senior satu jurusan Pita, dibidik sempurna oleh Arif berbahan akun Facebooknya. Untung saja Pita yang tidak sengaja membuka akun Facebook Arif memergokinya, dan bodohnya Arif tidak menghapus chattingnya dengan Linda.
Halaman samping perpustakaan awalnya senyap menjadi gaduh karena pertemuan mereka.
"Maksudnya apa?!", Menunjukkan handphone berisi pesan dari Linda.
"Cuma bercanda sayang", bujuknya pada Pita.
"Jaga jarak mulai sekarang!"
Terlalu sayang, kata yang tepat menggambarkan keadaan Pita dengan hati tercabik-cabik pisau pengantar pesan mampu memaafkan Arif. Berdamai dengan hati, membuang egonya, membuat mereka membaik kembali.
Dua bulan selanjutnya, Pita melihat Arif bersama seorang gadis cantik. Mereka jalan berdua, setelah diamati ternyata dia Sila. Mantan pacar Arif sebelum menjalin kisah dengan Pita.
"Enak ya jalan sama mantan!", Handphone Arif berbunyi suara  khas pesan dari Pita.
Dia celingukan memandang kesana kemari. Terlihat gadis berkerudung merah muda disudut utara dekat dermaga.
"Sebentar ya Sil", Arif pergi menemui Pita.
"Kenapa kirim pesan seperti itu?", Nada Arif meninggi menatap Pita.
"Tanya pada dirimu sendiri", jawab Pita memalingkan wajahnya.
"Dia lagi sedih, ayahnya baru saja meninggal, aku kasihan", jelas Arif.
"Apa dia tidak punya keluarga lain, atau sahabat perempuan!", Kali ini Pita benar-benar dimabuk cemburu. Arif diam dengan tatapan kemarahan dihadapan Pita, seolah ingin menerkamnya saat itu juga.
"Kamu pilih aku atau dia?!", Tegas Pita tanpa perduli semuanya.
Arif pergi, dia melangkahkan kaki ke arah Sila dan membawanya menjauh dari pandangan Pita. Dermaga saksikan berakhirnya cinta mereka. Angin kencang dermaga tidak mampu mengeringkan keringat dan air yang keluar dari matanya.


#ODOP Batch 7
#Tantangan 7
#Cerpen

10 comments:

  1. Duuh kalimatnya, ada dibidik segala.. Beda dari yang lain nih

    ReplyDelete
  2. Geram sama si Arix, nih...

    Btw, aku kurang paham dengan kalimat ini :

    "Terlalu sayang, kata yang tepat menggambarkan keadaan Pita dengan hati tercabik-cabik pisau pengantar pesan mampu memaafkan Arif."

    Anyway, alurnya bagus, bikin geram.. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemahaman aku, si pita itu memaafkan s arif karena alesan terlalu syang umyy

      Delete
  3. Ah pesona Arif kebangetan...malah dipakai buat goda sana sini..hehe
    Bagus ceritanya..ngalir

    ReplyDelete
  4. S gendut ini genit rupanya Mmm..

    Btw, ini cerpen berdeskripsi ya hehe..

    ReplyDelete
  5. "Kamu pilih aku atau dia?!", Tegas Pita tanpa perduli semuanya.

    Jelas aku pilih 'aku' lahhhh 😊

    ReplyDelete

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...