Putih abu-abu terkenal dengan masa paling indah. Masa pertama aku melihat gadis manis dengan pesona menawan memikat hati. Dialah Ema si gadis kota yang modis dengan tampilan sederhana.
Singkat cerita aku mencintainya. Tidak banyak pendekatan yang kulakukan. Akhirnya kami menjadi pacar. Berawal dari kelas XI disekolah menengah kejuruan itu cinta kami bersemi indah. Akhirnya kami dinyatakan lulus sekolah. Aku melanjutkan studiku ke luar daerah. Ema memutuskan untuk kerja di Bank Perkreditan Rakyat diluar kota. Jarak menghalangi kisah cinta kami. Tiga pekan sekali kami bertemu dikota tinggal. Rindu tentu sudah tidak terbelenggu.
Anak kuliahan, aku sudah terkontaminasi dengan dunia kuliah yang merasakan betapa indahnya kebebasan. Begitu pula dengan Ema dia menjadi gadis pekerja yang mulai keluar malam. Bahkan pertemuan kami berubah di malam hari. Aku merasa tidak nyaman, kurang sopan membawa anak perempuan keluar malam bahkan sampai larut malam. Namun itu keinginannya.
Suatu ketika, aku diajak teman mainku keacara kelompok kampusnya. Awalnya ogah nanti berasa Maba ditahun ajaran baru tetapi kurang enak menolaknya jadi kuterima saja. Tidak seburuk dugaanku ternyata disana ada teman semasa SMP ku. Dia Lidia, gadis cantik yang pandai bersolek kian terlihat anggun mengoda.
Berawal dari pertemuan itu kami sering keluar bersama, bahkan tidak menunggu tiga pekan aku sudah pulang ke kampung halaman. Sebatas teman keluar, mengingat ada Ema gadis yang sangat ku cinta. Demi menjaga persahabatan dengan Lidia aku tidak bisa menolak ajakannya keluar meski sekedar nongkrong.
Cintaku dan Ema berjalan hampir lunas untuk membayar cicilan mobil beserta perabotannya. Aku sudah lulus kuliah. Hobi traveling bersama teman-teman sepakat membuat agenda ke Bromo. Lidia mengetahui hal itu, dia minta untuk ikut serta. Sebagai teman yang baik tentu aku mengizinkan, agar tidak terjadi salah faham aku tidak mengajak Ema yang notabene pacarku.
Satu Minggu kemudian acara berlangsung, kami sampai di puncak Bromo. Seperti umumnya Selfi dulu ya. Tanpa sengaja Lidia ikut narsis dibelakangku, upload deh di sosmed. Cengkling, komentar status baru ku.
"traveling gk ajak-ajak" tidak lain Ema
"sama temen-temen ini"
Beberapa menit komentar selanjutnya
"siapa cewek jilbab pink"
"mau kenalan?"
"Lid temanku mau kenalan tak kasih nomor mu ya". Lidia mengangguk meski terlihat hanya tidak enak bilang tidak.
Tidak butuh waktu lama Lidia dan Bram terlihat semakin akrab saja. Aku yang awalnya dekat dengannya berangsur menjauh. Bram sebagai temanku meminta untuk ditemani ke rumah Lidia, lagi lagi aku tidak bisa menolaknya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Lidia ada Bu?"
"Ada silahkan masuk, ada perlu apa mas?" Tanya Ibu paruh baya pada ku dan Bram
"Saya teman Lidia Bu, mau silaturahmi"
Seperti insting seorang Ibu yang tidak mau anaknya didatangi laki-laki ibunya lanjut bertanya
siapmenikah?
Wajahku ikut memerah
Siap Bu jawab Bram
Lidia pun keluar dan obrolan berlanjut.
Selang beberapa minggu Lidia menghubungi ku sepertinya dia merasa aku menjauhinya.
"Aku ingin cerita apa kamu bisa?"
"Iya cerita saja"
"Aku belum yakin dengan Bram, aku tidak tahu harus jawab apa dengan keseriusannya"
"Kenapa begitu"
"Apa kamu tidak ada perasaan padaku?"
"Tentu ada"
"Kamu sudah tahu kan jawabannya"
"Maafkan aku, aku sudah punya Ema, dan Bram adalah temanku"
"Iya aku mengerti"
Handphone tertutup, akhir tahun ini Lidia dan Bram akan bertunangan.
Lalu bagaimana dengan Ema dan aku?
ReplyDeleteNantikan season selanjutnya 😅
DeleteBegitu banyak typo mengganggu. Tapi pengguratan kalimat aktifnya keren. Aku suka. Aku suka
ReplyDeleteTerimakasih Krisan membangun sekali 😊
DeleteSemangat kak...
ReplyDeleteTerimakasih Kakak
DeleteJudulnya menarik. Makcoblangnya gak nyesek itu kak hihi. Keren like like like hihi
ReplyDeleteSayangnya yang punya cerita belum bercerita lebih lanjut nyeseknya haha
DeleteAda lanjutannyag?
ReplyDeleteAda Kak
Delete