Wednesday, 25 September 2019

Kotak Merah


"Selamat ya kamu selalu dibangga-banggakan" ucap ketus sambil memalingkan muka masuk plastik demi plastik dan pergi bersamanya.
Si kotak diam, melihat tamparan halus kenyataan.
"Kenapa kamu diam" tanya lainnya

Pagi itu seorang wanita bersama suaminya ditengah ladang. Mereka sengaja pergi dipagi buta sebelum anak perempuannya terbangun. Berbekal lampu senter satu persatu cabai merah diambilnya. Tidak terasa Si Merah memenuhi tas pasar yang dibawa.

"Hi..."
"Hi... Sudah sering diajak kesini ya?"
"Iya, enak ya kamu digendong kemana-mana, beda aku dinaikin kemana-mana" Sahut Brum-brum
Si merah tersenyum merekah, melihat dirinya seberuntung itu.

Tidak lama terdengar suara rame riuh.
"Aku mau dibawa kemana, apa aku tidak disimpan untuk kebutuhan sehari-harinya?" Tanya Si Merah pada Brum-brum
"Tidak, dia biasa membawa teman-temanmu ke tempat ini, akan banyak yang mengadopsi mu" Sambil terus melaju Brum-brum menjelaskan
"Adopsi, bagaimana mereka memperlakukan ku nanti" tanyanya dalam hati

Beberapa saat Si Merah dituang dalam wadah besar dan berkumpul bersama sejenisnya. Saling melirik satu sama lain. Mereka bercengkrama dengan sesamanya sambil menunggu penuh satu kantong.

Setibanya di pasar kota, Si Merah bertemu dengan beberapa kawannya, seperti bawang merah, sayur mayur dan masih banyak lainnya. Tiba-tiba terdengar suara lagu jawa kian merdu.
"Siapa ini?" Sambil mencari kearah suara
"Aku, dibelakang mu" dibalik kain tipis berselimut itu Si Kotak
"Suaramu bagus seperti manusia, pasti kamu sangat disayang sampai disimpan seperti itu"
"Iya dong, aku mahal lho makanya mereka benar-benar menyimpanku, demi aku mereka mau kehilangan mu" Semakin meninggi suaranya
"Oh...Apa kamu bisa mengeluarkan zat kapsaisin yang mampu membuat manusia meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan berat badan, mengatasi diabetes dan masih banyak lagi"
"Tidak, tetapi mereka senang dengan ku, aku punya game, mereka juga bangga dengan semakin mahalnya diriku" semakin sombongnya Si Kotak
"Aneh, kalau aku dan teman-teman ku semakin mahal mereka demo kesana kemari, giliran kamu malah berbangga diri"

2 comments:

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...