Monday, 4 November 2019

Terlena 2

Wajahku menengadah, kupeluk serta tubuhnya yang kian ringkuh. "Maafkan aku Ibu telah membuatmu khawatir, aku hanya rindu padamu", tangannya mengusap-usap kerudung baruku. Besok aku kembali dalam tekat yang berbeda. Aku tidak akan pulang sebelum menang.

Mereka selalu memaklumiku. Memaklumi sikapku yang jelas berbeda dari tempat itu. Disini, atap ini mengajariku sebagai gadis satu-satunya dari tiga bersaudara. Jelas saja aku adalah pujaan, berbeda dengan disana, aku tidak tahu bagaimana gambarannya.

"Nduk besok diantar Ibu sama Bapak ke pondok lagi ya?", Nada manis bak gulali kesukaanku tersuguh dengan indah. Aku mengangguk tanda setuju. Meskipun aku tidak tau bagaimana hidup disana.
***
"Assalamualaikum Ibu", kata ibuku pada pengesuh dipondok putri ini, kira-kira berusia sepuluh tahun diatasku.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah Lena, kami benar-benar khawatir Ibu"
"Iya Mbk, kami minta maaf".
"Terimakasih ya Ibu atas kerjasamanya, monggo Bu", sambil menunjuk ruang tunggu untuk keluargaku.

Mereka berkumpul diruang tunggu utama sedangkan aku diminta untuk kembali ke kamar. Dikawal senior, sudah seperti tahanan saja. Ditambah dengan dalil dan hadist yang dipaparkan. Mana kamarku paling ujung lagi. Bisa-bisa seisi kitab tumpah dihadapanku.

Sudahlah, aku melangkah lebih cepat dan Ibu pengurus tertinggal. Melihat langkahku yang bersemangat dia hanya melihat dari titik itu sampai aku memasuki ruang ini lagi. Bismillah, kamar lama niat baru, kataku dalam hati sembari membukanya.

Aku pasti dihukum, menunggu dipanggil Bu Nyai dan....

Bersambung


No comments:

Post a Comment

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...