Monday, 4 November 2019

Terlena

Kakiku mengayun, menapaki jalanan aspal tanpa alas. Sengatnya tidak terasa oleh kaki, aku menunduk, air mataku mengalir disela-sela lumbung hidung. Sesekali ku usapkan dengan baju abu-abu.

Mataku menyergit pada angkot hijau, dia melambai menertawakanku. "Apa kau! kau tidak mengerti rasaku", angkot itu kian berbahak melaju. Rasanya aku benar-benar bodoh.

Tas ransel masih menempel tepat dipunggungku. Mana mungkin aku meninggalkannya sementara dia satu-satunya tempat yang bisa ku percaya disana. Tempat yang tidak kuinginkan itu.

Lima kilometer bukan lima centimeter, atap itu terlihat anggun tak menyeru. "Apa ini semua salahku!". Aku hanya ingin pulang menuntut mauku. Angin seolah melarang ku, menahan langkah ku dan berusaha menghentikan, tapi tidak mampu. "Punya hak apa kalian atas ku! Aku tidak ingin menyakitinya, aku hanya minta hakku".

"Assalamualaikum", kutekuk wajah lesuku, terlihat kekagetan wajah mereka. Dengan jawaban waalaikumsalam yang senada, bibirku segera bergetar ingin memuntahkan semua rasa.
"Kenapa pulang Nduk? Sama siapa kenapa tidak bilang biar dijemput", wajah itu memelas penuh makna. Oh Tuhan apa yang sudah aku fikirkan. Bagaimana bisa aku melihat dua wajah yang bahkan nyawanya saja rela diberikan untukku.

Aku terdiam, harus kukatakan apa. Mimikku melunak.

Bersambung

2 comments:

Serabut Mimpi

Haruskah ku tuangkan kopi bergula ini kedalam kerongkongan Saat ku lihat kau tengah memikul duri-duri tajam berserat kepedihan Tiada mungkin...