Friday, 31 May 2019

Bayangan Reuni SMA



"Selamat Pagi semua, setelah sepuluh tahun berlalu, bagaimana kalau kita adakan reuni lagi menyambung silaturrahmi" bunyi tulisan pesan singkat dari grup Wa.
Mencoba acuh dan melupakannya, sudah sejak lima tahun belakangan ini grup menjadi sepi aktivitas seolah berjalan sendiri-sendiri. Mereka asyik dengan dunianya, tak terkecuali diriku bahkan ini hanya akan menjadi rencana yang tidak terealisasi seperti sebelum sebelumnya.
Fikirku dalam hati sembari membuka kotak nasi biasa yang dulu Ibuku buat untukku kini kubuat untuk buah hati dan imamku. Ini memang masih gelap, mereka masih tertidur lelap. Mahmud mungkin itulah kesibukanku kini, sembari memutar lagu lama khas 80.an yang sejak dulu menjadi kebanggaan keluarga.

"Cengkling..." pesan dari nomor baru tidak berprofil. Ku lupakan lagi memang menyiapkan kebutuhan untuk mereka adalah perioritasku sekarang. Tidak ada yang lain.
"Harum sekali, apa itu Yang?" Sembari mengendus-endus ke arah dapur.
"Ayah.." aku terkaget, tidak biasanya dia bangun jam segini mungkin sop buntut ini penyebabnya. Pagi ini memang aku sengaja memasak kesukaannya agar terbangun lebih pagi dari biasanya, ada hal yang ingin ku katakan.
Dia memang rajin, sejak awal berjanji memang aku sudah mengaguminya, sosok yang sangat rajin untuk mandi dipagi hari sebelum sholat subuh. Tetapi kali ini tidak ini masih sepertiga malam, masakanku siap untuk bersahur seperti yang biasa keluarga kami lakukan.

"Sahur dulu yuk" ajakku
Dia mengangguk, lahapnya membuatku suka membuat masakan ini meskipun aku sama sekali tidak tertarik dengan makanan bernama sop itu. Demi melihatnya tersenyum bahagia tentu aku lakukan itu semua. Semangkuk sop habis seketika, sembari menunggu subuh aku mencoba percakapan.
"Yang, mama ada acara reuni SMA... emm bagaimana ya?" Sedikit bingung mau memulai dari mana.
"Ikut saja ma, papa ikut sekalian ya?" Semangat sekali laki-laki ini. Aku mengangguk dan tersenyum, baiklah aku mengerti apa yang dia inginkan.

Weekend ini menjadi jadwal reuni Akbar SMA, kami yang dulu masih kekanak-kanakan. Sekarang menggendong anak dan bergandengan tangan dengan pasangan masing-masing. Acara lain kami tolak dan tidak lupa konfirmasi kedatangan aku lakukan. Bahkan pesan nomor tidak dikenal berasal dari salah satu anggota grup SMA bermaksud untuk memastikan kedatangan pun sudah terlaksana. Bayangan bertemu rekan seperjuangan. Bunyi telepon seluler suami dihari weekend ini.

"Nak pulang sekarang juga Ibu masuk rumah sakit" Suara Bpk mertuaku pada suami.
Tanpa berpikir panjang kami langsung meluncur ke rumah sakit tujuan. Ambulance bersiap dan surga suami ku telah pergi untuk selamanya. Iya Ibu dari suami ku memang tengah sakit keras, baru berapa hari yang lalu kami berkunjung. Entah apa penyebabnya kami sudah berusaha semaksimal mungkin mencari penyembuhan.
Handphone ku pun tidak berhenti berbunyi, acara reuni menunggu kami. Sekian ratus peserta yang konfirmasi datang tidak satupun terlihat batang hidungnya. Jam sudah semakin siang, aku dan suami tidak memperdulikan handphone kami, duka mendalam menyelimuti keluarga kami.

Tempat reuni bahkan makanan sudah dipesan sedangkan hanya panitia sekitar 20 orang. Bill keluar dengan tagihan yang menegangkan. Bisa jadi ini adalah reuni paling menyedihkan karena THR raip demi tempat yang undangan tidak datang sedang iuran belum juga dilakukan.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day26

Kamu Dapatkan


Kamu diantara sepuluh akhir perjalanan
Malam seribu malam, malam penuh keberkahan
Malam Lailatul Qadar
Penghujung Ramadhan yang dinantikan

Berbondong umat dan insan datang bersama kerinduan
Panggilan Tuhan yang tersampaikan
Bagai hujan yang ditunggu dimusim kekeringan
Air penyejuk jiwa dan seluruh insan

Kamu yang tidak mampu tertunduk dirumah Tuhan
Bukan kamu tidak mempunyai malam keberkahan
Dzikir sepanjang jalan perjalanan
Tugas tidak terhalang, malam keberkahan tetap tersanding dihari kemenangan

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day23

Tunjangan Hari Raya



Kau datang disaat akhir menjelang kemenangan
Membuat mereka berbinar kebanggaan
Kedatangan yang ditunggu semua pejuang
Lelah letih untuk menunggu mu

THR, harapan disaat semua menjelang
Tertata rapi untuk dikenang
Mudah hilang dalam sekejap pandang
Kamu membuat lapar mata insan

Selamat jalan
kepergianmu sekejap dan terkenang
Harap bertemu dipenghujung tahun depan
Sebagai berkah Ramadhan yang dinantikan


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day25

Saturday, 25 May 2019

Satu Tahun Anak Bus Kota

https://www.imgrumweb.com/hashtag/W7094UZ

Saat melangkah dari toko sepatu dan 
accesories itu, semua mata tertuju padaku. Mereka menatapku seperti halnya pecundang yang kalah dalam peperangan. Siapa mereka, mereka tidak berhak atas hidupku. Angkot kuning terlihat mulai mendekatiku, “terminal Pak”. Ia mengangguk, isyaratkan seolah sependapat denganku. Hari itu terasa tidak ada yang berpihak padaku, tidak satupun mata yang melihat penuh kebahagiaan ditengah keputusan besar dalam hidupku. Seperti halnya sore lalu, dua pilihan yang berkecamuk dalam jiwaku hingga tak dapat lagi kutahan derasnya aliran dimataku. Aku hanya tertunduk lesu, malu pada sang malam, tidak ini adalah keputusanku!. “sudah sampai Mbk” sahut Sopir yang menghentikan lamunanku.

Setitik cahaya muncul dalam bus kota beriringan dengan meningginya sang surya. Bus kota arah Surabaya, bukan aku terlahir di bus kota atau hidup sebagai pegawai bus kota, penjual bahkan pengamen. Bayangkan saja jika kalian punya bapak yang tidak tahu asal usulnya, tiba-tiba kau dianggap anaknya. Nah itulah yang terjadi sekitar delapan tahun yang lalu. Seorang laki-laki bermuka seram dengan kerutan diwajahnya nampak semakin dekat dimuka. “boleh saya duduk?” ujarnya padaku dibangku nomor dua bus kota. “silahkan…” sambil mengangguk dan mempersilahkan. Saat itu bus umum masih satu kursi untuk tiga orang, sepertinya sekarang juga masih sama ya.

Suasana bus kota yang ramai riuh dipagi itu membuat laki-laki ini tidak enggan memulai percakapan. Dia sepertinya tahu kalau aku sedikit takut dengan perawakannya. Entahlah, mulai dari mana tiba-tiba dia bercerita bahwa dia ingin memiliki anak perempuan sepertiku. Sontak aku teringat akan kakekku. Sudah lama tidak berjumpa, laut memisahkan kami. Beliau memandangku seakan mengerti bahwa aku perlu cerocosan semangatnya. Muka polosku membuat Bapak Iskhan, iya itu nama beliau, menganggapku sebagai gadis yang hebat. Padahal tidak, aku bukanlah apa-apa, orang tuaku hanya mengajarkanku untuk menghormati semua orang, terutama yang lebih tua.

BERSAMBUNG
#Tugas Kopling

Lanjutan
                                         
Lalu lalang kendaraan bagai semut menyerang gula pasir yang berserakan, mentari semakin meninggi condong ke barat, sesaknya jalan menuju kota pahlawan. Aku yang tengah terburu, lagi-lagi melihat angka waktu dibenda kotak itu.  Kesibukanku membuat Beliau meminta nomor ponselku. Meski cerocosannya berhasil membangunkanku rasa takut masih ada. "Agar bisa Bpk antar ke tempat kerja" sahutnya membuat percaya serayaku menyebutkan angka-angka tujuan.

Tak  lama Bus sampai ditempat peristirahatan sebelum dikembalikan ke kandang. Kamipun bergegas keluar, "Ayo istirahat, minum sebentar" sambil menunjuk salah satu warung. Tanganku mengangkat, menolak sopan ajakannya "Maaf saya puasa, Bpk bisa mengantar saya ketempat bus kota?" Dengan sigap Beliau menuju terowongan seraya ku ikuti langkahnya, itu kali pertama aku kekota sendiri.

"Hati-hati Nak" pesan dari ponselku, tepat dari Bpk tadi. Aku hanya tersenyum kecil, fokusku pada pulau disana, iya pulau garam. Lagu demi lagu beralun ditengah laju bus dengan suara khas Surabaya an. Sesekali ku lihat ponsel, hiru cemas berharap agar ini bukan akhir cerita. Benda besar tertulis Jokotole terlihat disebelah, sebagian berlarian, takut tertinggal aku pun mengikutinya. Sekali lagi terompet berbunyi tanda kapal akan segera berangkat, nafas terengah-engah untung saja langkah kakiku bisa menjadi sepur kilat karena keadaan.

Hamparan kapal bagai tulang belulang tertata rapi nan indah dipandang. Pertama kali dalam hidupku melihat laut sedekat ini. Hembusan angin seolah membawa pergi kekhawatiranku, lepas seluruh penat. Alunan lagu dangdut jamur (Jawa Madura) meramaikan seisinya ditemani lalu lalang manusia, diantaranya ada yang sibuk mencari dermawan untuk sekedar membagi receh di kotak amal pendirian tempat ibadah muslim katanya.

Angkot kuning telah bersiap menjemputku didepan. Keputusan ku!! kalimat itu menghentak tiada henti direlung hati. Tidak lama gang kampus, abang-abang becak menyiapkan diri, berbaris rapi dengan bahasa mereka, sungguh aku tidak mengerti. Langsung saja duduk dan bilang kampus mungkin mereka akan mengerti.

Nama universitas terlihat besar, badanku gemetar, apakah aku akan menjadi mahasiswa?, "Lema..." Kurang lebih seperti itulah yang mengagetkan terdengar setelah berhenti. Aku keluarkan uang 5rb dan dia langsung pergi. "Pak ruang registrasi mahasiswa baru dimana ya?" Tanyaku pada penjaga pintu masuk itu. "Itu Mbk, lurus saja" sambil menunjuk salah satu gedung. Kubergegas sebelumnya ku ucapkan terimakasih sebagai akhiran.  Terlihat tidak banyak antrian sepertinya memang aku terakhir disini. Kuserahkan setumpuk kertas  harapan, sambil menunggu antrian. Sedikit berbincang-bincang anggap salam keakraban. Dia bernama Anis gadis asal Lamongan, kami berbeda jurusan.

Bersambung

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day19
#KotakAmal

Lanjutan

Hari mulai menggelap aku masih menunggu satu orang lagi, beliau adalah dosen. Penantian ku dimulai setelah pesan itu disampaikan lewat jendela kecil bertuliskan BAAK, didalam terdapat tamu tidak mungkin aku langsung nyelonong begitu saja. Beberapa saat kemudian beliau memanggilku dan laki-laki dihadapannya mengenggam tangannya. Aku mengangguk dan tersenyum sebagai sapaan, beliau pun membalas dengan senyuman. "Kamu tahu siapa yang keluar?" Aku menggeleng sebagai jawaban. "Dia sama seperti mu sekarang sudah mau lulus keren kan" aku mengangguk untuk kesekian kalinya. Iya tubuhku memang disitu tetapi tidak dengan otakku, bagaimana cara pulang dengan selamat kalau ada orang jahat bagaimana, kalau yang dikatakan orang-orang benar bagaimana dan sejuta pertanyaan mengiang tak bisa ku ungkapkan. Percakapan berlanjut hingga gedung mulai menggelap. Secercah motivasi, harapan dia tumpahkan pada pundak ini.

Kali ini nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan, becak yang berkeliaran tidak ada dan berjalan kaki satu-satunya cara tetapi Dia, Bpk dosen memberikan secuil tempat dibelakang motornya hingga sampai kapal penyeberangan. Sembari kalimat super dia ucapkan guna menyulut api yang sempat padam. Terimakasih kalimat yang berulang aku katakan dalam hening dan deburan ombak.

Kembali ku tapaki kenyataan bus kota awal teman seperjuangan. Kota ini memang indah bisik nurani pada akal. Semua belum selesai melainkan baru dimulai. Iya aku teringat pesan diponsel beberapa jam terakhir. Ibuku. Pak Lek menjemput mu diterminal, indahnya pertolongan Tuhan tepat disaat kamu butuhkan.

Tidak lama panggilan Tuhan datang menjelma ditengah gelap malam. Hati terhentak menuju sana. Masjid. Terselip toilet masjid disanalah kuselesaikan kewajiban. Tidak lama bersimpuh yang ku tunggu datang saatnya kami pulang.

Bersambung
#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day20

Lanjutan

Lambaian tangan kecil mungil nampak diujung sana, mobil hitam berplat W itu sampai, dia adik sepupu dan Pak Lek ku. Lagu pop indo terbaru diputar berkali-kali, membawa nuansa tenang, syahdu menjadi tegang karena interogasi berlangsung. Mulai jurusan dengan setumpuk gunjingan, letak kampus pedesaan bahkan orang yang baru ku kenal, interview yang seakan ingin ku muntahkan.

Beberapa saat jama'ah tarawih tengah keluar masjid. Rumah terlihat jelas persis disampingnya. Langkah ku memberat, mungkin kelelahan. Rengekan ponakan tidak terhindar kan padahal ini mata mau tenggelam saja.

Ruang berdebu itu berhasil lebih merengek dari ponakanku, baiklah malam yang indah. Bersihkan dan siap untuk tidur, meski bersin tak hentinya. Ponakan masih suka mengikutinku, baiklah aku ajak dia tidur bareng. Ternyata dia hanya ingin aku tahu kalau esok malam ada mabit disekolahnya. Dalam dekap kamipun menuju alam mimpi.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day21

Lanjutan

Dua hari berlalu saat kembali ketoko sepatu dan accesories itu. Warna baru, semangat baru, toko kian ramai diserbu masa. Lebaran semakin mendekat saja.

Takbir berkumandang, semua bersautan menyambut hari kemenangan. Mata kian berbinar esok bertemu emak dirumah. Kini toko lebih sesak dari demo pemilu serentak. Tepat jam 00:00 pintu ditempel pengumuman libur, akan ditutup. "Mas mau beli sendal, jangan tutup dulu ya" padahal kami sudah berbondong bondong dengan seabrek barang bawaan kekampung halaman.  Bisa dibilang setengah terpaksa karena membawa nama toko salah satu senior pramuniaga menunggunya. Beberapa saat mereka keluar, mobil box satu-satunya yang tersisa ya mau tidak mau.

Gelap tidak berlangsung lama, istana big bos telah sampai. Kami berjejer menunggu gaji, THR dan parcel. Dag dig dug door rasanya, iya bos terkenal tergalak seantero jagat ini. Ya mungkin bos mesti begitu biar terlihat berwibawa. Tidak lama namaku disebut, tampak wanita muda dewasa, itu istri tuan muda, anak big bos tepatnya. Gajiku dan teman-teman nya keluar "setelah lebaran bagaimana?" Tanya nya dengan tatapan selayaknya ibu pada anaknya. "Tidak, Maaf Bu saya mau lanjut kuliah" dia mengangguk dan tersenyum. "Gaji saya lebih" lanjut ku "ambil saja" sebelumku keluar penuh lega.

Avanza silver mengantarkan kami ke perkampungan, bersama 9orang lain beserta barang. Mudik yang mengasyikkan jangankan untuk tidur bergerak saja kami dapat sangsi teman. Rasanya jika nafas boleh ditahan akan ku lakukan jua.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day22

Lanjutan

Libur panjang dihari kemenangan, bukan sebenarnya potongan libur dalam cuti tahunan. Tidak untuk diriku yang memilih berhenti dari pekerjaan. Cuti sekali dan seterusnya, seperti itu lah rasa beban lama yang terlepas.

Takbir, tahmid berkumandang menemani perjalanan kekampung halaman. Satu persatu dari kami sampai tempat tujuan. Aku dan ke dua saudara ku adalah penumpang terakhir.

Perjalanan terakhir dengan deretan hutan, sesekali angin menggoyangkan tanaman. Mungkin kalau sendiri bakal lari. Bagaimana tidak penerangan sama sekali tidak ada kecuali lampu mobil Avanza silver ini. Sekali lagi jangan tengok ke belakang karena....

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day24

Friday, 24 May 2019

Berkah Ramadhan yang Khusnul Khatimah


By Google

Lonceng itu sudah ditabuh tiga kali dengan kuatnya oleh petugas, tanda ini waktu istirahat telah tiba. Hari itu terasa panas sinar mentari seperti menyusup kulit tipis ini. Ditambah dengan pakaian merah putih lengan pendek itu. Kantin sekolah tidak ada ditempatku namun warung dadakan yang akhirnya  menetap selalu muncul. Aku adalah pribadi yang introvet lebih senang menyendiri bahkan kewarung pun sendiri. Warung Mbok Nem adalah warung langganan, ramah dikantong. Bayangkan saja nasi pecel lengkap dengan rempeyeknya hanya dibanderol harga 500 rupiah, kecuali aku hanya 300rupiah. Bisa dibilang aku adalah pelanggan kesayangan Mbok Nem, beliau menganggap ku seperti cucunya.

Mbok Nem hidup berdua dengan suaminya Mbah Jan, dua anaknya sudah menikah. Anak Sulung nya yang awal tinggal berdampingan dengannya pindah ke Malang. Biasa cek cok orang tua dan menantu, kurang lebih seperti itulah. Tujuh tahun yang lalu putra sulungnya meninggal, aku tidak tau beliau kenapa. Sedang Anak Ragilnya tinggal didesa sebelah, tiga tahun yang lalu telah pergi juga dari dunia. Stroke. Padahal baru saja diangkat PNS setelah bertahun-tahun mengabdikan diri disekolah taman kanak-kanak itu. Mbok Nem dan Mbah Jan memiliki 3 cucu, 1 dari Anak Sulung dan 2 sisanya dari Anak Ragil, tetapi semuanya berjauhan, usia mereka sepantaran dengan ku. Namun dibalik semua itu sedikit rasa syukurku (bukan karena diskon makan berkepanjangan ya).
"Nduk kamu bisa sholat ya? mau tidak mengajari Mbok?" Sedikit berbisik dan malu-malu. Akupun tersenyum.
"Alhamdulillah dengan senang hati Mbok"
Beliau tersenyum lega, bisa jadi cara ritualku memuja-Nya membuat tergoda, tapi tidak sungguh itu anugerah yang Kuasa. Dari sekian anak yang bermain dan membeli disana memang cuma aku yang terbiasa bantu-bantu sekalian biar boleh numpang sholat (mukenanya baru jadi mesti baik-baik sama Mbok Nem). Lonceng dua kali terdengar jam pelajaran terakhir segera dimulai tepat pukul 12.15 WIB.

Aku sudah kelas VI jadi ada jam tambahan persiapan UNAS setelah pulang sekolah, 13.00 WIB. Diselanya waktu yang tepat membantu Mbok Nem belajar gerakan sholat, sedikit-sedikit sudah bisa berkah Ramadhan di sholat tarawih bulan kemarin.
"Audubillah himinas saiton nirrojim, bismillah hirrohman nirrohim" kurang lebih seperti itulah aku menuliskan catatan kecil untuk Mbok Nem. Kejawen dan mesti  bersahabat dilidah. Berbekal kaca mata kuda Mbok Nem tengah mengejah ayat perayat. Aku biarkan Mbok Nem mengulang sendiri, seperti kebiasaan ku yang tidak pernah menghafal cukup ku baca berkali-kali. Aku pun menerapkan metode itu pada wanita yang sudah mulai keriput itu. Hal ini kami lakukan sampai aku lulus.

Dua tahun kemudian aku main lagi kerumah Mbok Nem bukan lagi membantu belajar tetapi mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Mbah Jan. Mereka pasangan yang serasi ingin ku seperti mereka nantinya selalu bersama dan menguatkan. Kembali ke sholat Mbok Nem yang jauh membaik dari dua tahun lalu, pertanyaannya sekarang beralih ke doa-doa untuk suaminya. Wajah penuh harap Mbok Nem membuat ku tak tega jadi aku memutuskan untuk menemani sekaligus belajar berdoa bersama selama 7hari itu. Pada hari ke 7, pagi itu kami gantian untuk sholat subuh, aku masih menunggu Mbok Nem yang selalu lebih awal. Biasanya selalu memanggilku kalau sudah selesai. Namun sudah setengah jam beliau tidak balik-balik. Karena penasaran akhirnya aku lihat, beliau sujud disajadah merah kesukaannya. Coba ku dekati, kaki mukena terasa dingin. Aku segera keluar memanggil tetangga samping, tempat ibadah yang mini ini membuat ku kesulitan memastikan keadaan Si Mbok ditambah tubuh segernya. Tetangga pun berdatangan dan melihat Mbok Nem, "innalilahi wa innailaihi rojiun" hembusan nafas terakhir Mbok Nem tepat diatas sajadah itu.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day18
#Sajadah

Wednesday, 22 May 2019

Padamnya Bintang



Pantai Tambak Rejo

Gelap malam menyanding derasnya ombak berdeburan
Titik hujan menyempurnakan sang malam
Kau datang bagai bintang berpijar terang
Menghilang ditengah sudut gemerlap kota sebelum fajar

Tertutup awan hitam dan kilat beterbangan
Mendengkur berkali-kali sampai terhentikan
Suaraku menjelma menahan rintikannya, datang dan terus datang menghujam
Saat terhenti lidah tak bertulang mencaci

Tangan tak berdaya mengenggamnya, ingatlah Nuzulul Qur'an
Tunjukkan petunjuk gemaan berkumandang
Jikalau mengerti akan Kalam bagi yang tidak mengetahui
Kau mahal hati menggerakkan naluri tuan
Kegelapan, kegelisahan berjalan lenggang meninggalkanku bersama bintang


Kota Angin, 22 Mei 2019
#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day17


Rumah Nenek Fila Tua



Seorang wanita tinggal didalam gubuk tua yang mulai usang dan reyot. Angin kencang mudah menumbangkan gubuk itu. Dua anaknya tidak mampu membujuk agar tinggal bersama.

Aku cucunya, bulan ramadhan ini menjadi liburan yang mengasyikan. Berkunjung kerumah nenek yang jauh dipelosok desa. Udara sangat sejuk, semilir angin membuatku betah disini. Tempat ini memang indah, dikota tidak ada, seperti berlibur difila.
"Ibu aku tinggal disini ya selama liburan, boleh ya, boleh kan" rengekanku menjadi jadi.
Ibuku hanya menggelengkan kepala tanda tidak.
"Ayolah Bu,"
"Nek" pintaku pada nenekku yang sudah sering pikun (lupa) itu.
"Sudah Nduk biarkan anakmu disini, besok jemputlah dia" ucap nenekku seraya mengelus elus rambuku.
Ku pasang wajah melas anak TK jaman itu dan Ibu mengizinkan. Waktu menunjukkan jam 3 sore, ibuku segera kembali ke kota, memang seperti itu biasanya. Rumah nenekku sampai kota sekitar 2.5jam. 

Aku bermain sendiri dengan kucing-kucing peliharaan Nenek sampai tidak terasa beduk magrib berkumandang. Nyanyian burung mulai bersaut sautan menunjukkan dunia malam yang menyeramkan. Dinginnya angin dan kegelapan seolah menjadi teman. Bersama api kecil dari botol bekas jamu tradisional berbahan kaca itu.

"Le ayo buka puasa dulu, sini buka bersama nenek" tumben nenek tidak lupa kalau aku disini.
Aku bergegas masuk, sejak kecil aku sudah diajari berpuasa meskipun berbukaku lebih dari sekali dalam sehari  tetapi aku rutin melakukannya. Selesai berbuka aku langsung ke mushola tidak jauh dari rumah nenek namun cukup sepi karena rumah nenekku berada diantara ladang warga. Disana ada teman-teman sebayaku kebetulan mereka masih saudara jadi aku mengenalnya. Setelah selesai sholat tarawih aku bergegas pulang mengingat rumah nenekku paling ufuk dan jalan remang-remang. 

Untuk sampei dirumah nenek aku harus  aku melewati gang makam. Itu jalan satu-satunya, menurut warga dan teman sebayaku sering ada makhluk ghaib terlihat disitu. Perjalanan ku terasa menyeramkan, ternyata ada tukang bakso dilampu pertengahan dekat gang berlawanan arah dengan ku segera kupercepat langkah. Sial..Aku terlambat tukang bakso sudah lebih kencang melangkah dariku. Terlihat sosok lelaki dari kejauhan, dengan penutup kepala jantung ku berdetak kencang, ku langkahkan kaki lebih cepat. Dan digang itu. jalan makam. dia berhenti, jalanku semakin cepat dan dia berbalik arah. Aku lari sekencang-kencangnya sampai rumah nenek.
"Assalamualaikum Nek"
"Waalaikumsalam, mana Bpkmu?"
~bersambung~

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day16
#Bukber

Tuesday, 21 May 2019

Adat Pengerat Umat



Bujur sangkar kuning, hijau tua
Janur kelapa bersanding bersama
Kulitmu berlipat-lipat
Bagai rajutan indah terkait erat

Isi beras dan diikat
Lembut membuat ku sehat
Pesonamu memang memikat
Selalu dirindukan umat

Ketupat
Kaulah berkah dalam adat
Pengumpul sanak dan kerabat
Dihari kemenangan umat
Tanpamu semua tidak lah lengkap

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day15
#Ketupat





Sunday, 19 May 2019

Siang menggenang Malam



By RwcOdop

Siang itu begitu panas sampai keringat ku bercucuran, angin yang berhembus seolah menghilang. Padahal aku sudah mendekat ke benda kotak besar seperti pigora tembus pandang itu. Namun dia tidak kunjung datang.

Mataku terbelalak tajam dengan sosok yang melintas, dia Maymunah sahabat ku sejak SD.
"May....!!!" Sambil melambaikan tangan
Dia celingukan mencari arah suara, akhirnya dia tersenyum manis dan pergi begitu saja. Semilir angin baru terasa, rupanya senyuman Maymunah mengantarkan angin ini.

Tepat dari cendelaku terlihat kubah masjid terbesar didesaku. Konon tanah masjid itu hutan angker, sampai sekarang pun para dedemit sering nangkring dikubahnya.

"Hay...sini" sambil melambaikan tangan.
"Maymunah..!". ( diatas kubah masjid itu, suaranya sampai sini) kataku dalam hati.

Jangan-jangan hantu itu menginginkan Maymunah. Segera aku pancal sepeda motor butut kesayangan almarhum ayahku. Aku tidak peduli, nyawa Maymunah lebih penting. Ku tarik gas sekuat tenaga, berharap Maymunah baik-baik saja.

"Alhamdulillah, masjid ramai sekali" rupanya hari Jum'at.

Oh iya Maymunah, ku tapakkan kaki pada keramik Masjid tua itu, dingin tidak seperti biasanya. Kusadari Maymunah tidak mungkin ku selamatkan sendiri. Bpk-bpk yang tengah selesai jama'ah Jum'at ku dekati.

"Bpk maaf apa bisa membantu ku menyelamatkan Maymunah diatas kubah?"

Seluruh jamaah masjid serempak menoleh padaku. Aku terbirit-birit keluar, mata mereka merah bercahaya. Mereka mendekat dan terus mendekat seperti pasukan zombie yang akan membawa ku ke alamnya.
"Tidak...!!!" Aku tersungkur ketanah.
Adzan Ashar membangunkan tidurku.


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day14
#Keramik Masjid


Saturday, 18 May 2019

Kala Nafas Masih Ada Jangan Keluarkan Percuma



By Me

Sepi, pekerja belum datang, sepertinya aku orang pertama. Motorku pelan keparkiran kotak hijau. Absen segera aku lakukan, dengan menempelkan jari dikotak kecil hitam. Sesegera ku langkahkan kaki kegerbong bertuliskan larangan "beracun".

Duduk dengan komputer dan seorang patner kerja. Benar-benar sibuk hari ini jadwal produksi tidak habis seiring perpanjangan surat jahat berwasiat. "Mataku...?"menghilang tulisan di kertas. Sekejap terpejam, menghela nafas panjang.

Ini hari terakhirmu, bisikan setan atau racun, larangan itu aku abaikan. Jueddarrr...!!! kakiku terguyup memeluk patner kerja dalam ruangan. Mataku terpejam "Allah, ini setan gadis dikecelakaan kemarin atau ruang ini?". Hitam, pekat semua menghilang bagai kilat. "Sadar...fly as pecah".


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day13
#Setan


Jalan Bercelah


Secercah Gundah

Toga itu kini mengantarkan bekerja kedunia manufaktur. Karir menjulang, tidak luput dengan cinta yang tertemukan. Toga biru khas universitas ternama dikota tahu telah didapat Iis.  Gadis putih berwajah oriental terlihat cantik dengan balutan kain hitam. bergandengan diiringi kedua orang tua dan adiknya, menyaksikan penyematan benang hitam kearah kanan kain tutup kepala. Rektor universitas berjabat tangan untuk pertama dan terakhir. Buyar sudah ulasan berapa bulan yang lalu, Iis terkaget  akan suara lelaki. Jarinya menari-nari dengan lincahnya di papan kotak hitam berangka dan huruf terhenti.

"Mbk ini datanya, info admin saya ada yang kurang"
"Iya, taruh situ" sambil menunjuk meja sampingnya
"Permisi Mbk, Terimakasih"
"Iya"
Lelaki itu terus memandang si gadis dari kejauhan. Rasa penasaran timbul,  Edi membuntuti Iis saat pulang kerja.
***
Dua bulan berlalu, Edi dan Iis resmi sebagai pacar (bahasa anak muda). Jam kerja Iis terlampau malam karena deadline laporan tahunan. Edi menunggunya didepan ruang yang disebut kantor. Niatnya menikahi Iis sudah bulat, sedikit nekat Edi mengantarkan Iis pulang.

Semua masih baik-baik saja, sebelum Ibu Iis melarang hubungan cinta mereka. 
~bersambung~

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day12
#Cinta

Friday, 17 May 2019

Jejak Kaki



Jejak Kaki

Pagi itu terdengar isak tangis perempuan. Ku lepas kain putih bersih selepas bersujud. Dia ibuku. Ku dekati dan kurekatkan tangan kecil mungil ini meski tak sampai disekeliling tubuhnya.
"Ibu kenapa?" Mencoba menenangkan
"Kenapa kotak nasi tidak berkurang isinya?" 

Aku tertunduk diam. Air mengalir tak tertahankan dipelupuk mata.

"Ibu percayalah aku baik-baik saja, perutku sedikit kurang lega"
Tatapan tajam seolah tidak percaya. Pura-pura dihadapan sejuta orang bahkan sahabat  lain lebih mudah tetapi tidak dengan sahabat ku ini. Dia Ibuku. Sesosok wanita layaknya teman, sahabat dan segalanya.

Sahabatku memang banyak selain Ibu, kupercayakan pada mereka setiap lembar tulisan. Menemui untuk menertawakan disaat sedih, mungkin itulah sahabat. Tugasmu berhasil membuatku melebarkan pipi meski sesaat.  Kalimat kasar, tertawaan, bahkan tamparan berhak kalian lakukan hanya untuk mengingatkan akan kebaikan.

Sejak dua hari yang lalu perutku berasa begah, mata tidak terarah bahkan makanan berbahan tepung tidak lagi tertelan ludah. Persahabatanku berada diujung tombak kehancuran. Masalah sepele yaitu cinta. Tidak ku sangka dia bernama sahabat ,bermain hati dengan orang yang ku cinta. Dia sebenarnya sangat baik, menunjukkan bahwa lelaki itu tidak pantas untukku, kesetiaannya bagai air di atas daun talas. Bersimpuh-simpuh ku meminta maaf tetapi mereka (sahabatku) tidak lagi mendengar, baginya aku hanya salah sangka, salah menduga dan akulah pemilik kesalahannya.


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day11
#Sahabat
*Tulisan ini hanya fiktif belaka bila terjadi kesamaan tempat, tokoh ataupun kejadian semua adalah tanggung jawab anda 😁

Thursday, 16 May 2019

Kami Rindu




Rindu...
Semua masih tentang rindu
Tidak pernah bertatap
Tidak pernah berjabat
Sekali lagi kami rindu

Kami tidak pernah bertemu
Jalan mu petunjuk bagiku
Lagi, dan lagi kami merindu
Rindu sosok itu, Rasulku

Rabiul awal tahun gajah kedatangan mu
Goa Hira petunjuk pertama
Gelar Nabi terdapat setelah itu
Beruntung kami memilikimu


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day10
#Rasul

Wednesday, 15 May 2019

Cahaya Bagi Umat



~Cahayanya~

Dirimu yang sedang merindu
Kemanakah kau jatuhkan hatimu
Sesak nadi tidak menentu
Apakah kau lupa padaku

Nada yang kau ucap saat berangkat
Nada yang kau teriakan bersama sahabat
Memulai senja dengan sholawat
Apakah kau lupa...

Lama tidak berjumpa
Apakah nada lain singgah di hatimu
Ku mohon jangan lupakan aku
Cahayaku akan selalu bersamamu

Petuahmu penerus generasi
Katakan padanya jangan lupakan aku
Jadikan sholawat peneduh hatimu
Dia akan membawa syafaat bersamaku


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day09
#Sholawat

Sunday, 12 May 2019

Rindu MilikMu



~Cahaya masih ada~

Sudah 3 tahun Alifa ditinggalkan Ibu merantau sebagai TKI di Malaysia. Ayahku tidak mampu menghentikan kepergian ibu. Larangan dari Ayah tidak lagi dihiraukan. Waktu kepergiannya umurku masih 7 tahun. Aku baru masuk SD dan Ibuku mengambil kontrak 5 tahun dinegeri orang.  Kini aku tinggal bersama kakek dan nenek.

Ayahku tinggal dengan orang tuanya dikota sebelah. Pekerjaan membuat ayah tidak bisa merawatku. Sebulan sekali ayah menjengukku, sejak kecil aku lebih dekat dengan ayah. Hari ini puasa ke delapan dan ayahku menjenguk untuk jatah bulanan.
"Yah... baru sampai kah?" Sambil mengusap-usap mata yang baru membuka dari tidur. Ayah hanya diam sambil mengangguk, sebagai tanda setuju.
"Mandi sana, sholat... Sudah hampir jam 5" perintah ayah sambil sibuk memegangi handphone. Bau harum terhirup dari dapur, sambal terasi buatan Nenekku menjadi sajak kerinduan akan Ibu. Kuangkat kaki melangkah ke kamar mandi sambil menahan rindu itu.
"Yah...(ayahku mengangkat kepalanya) enak ya baunya" hati kecilku tidak tega melihat ayah, pasti lebih merindukan ibu.

Setengah jam kemudian adzan Maghrib berkumandang, kami berkumpul dimeja makan.
"Sambal terasi Ibu" keceplosan, mulut kecilku terdiam. Ayah dan yang lainnya terlihat kaget.
"Harusnya Ibu disini bersama kita" lanjut ucapan ku. Ayah tidak berdaya, dia mengerti tetapi tidak mampu berbuat apa-apa. 
"Maafkan aku" Air mataku menetes, aku tertunduk.
"Ayo dilanjut makannya" saut Nenekku memecah suasana tegang sore itu.
Tangan ku sibuk menebas air yang keluar dari mata, sepucuk sendok mendarat di mulut, nasi putih bersama sambal terasi bergoyang ria.

***
Keesokan harinya, handphone baru dari ayah sebagai kado ulangtahun ku berbunyi. Nomor baru, langsung saja kutekan warna hijau dilayar ponselku.
"Assalamualaikum" suara ibu-ibu paruh baya terdengar disana.
",Waa... waalaikumsalam Ibu" suaraku berbata-bata, Ibu, ini suara ibuku.
"Selamat ulang tahun sayang, sekolahnya yang pintar, nurut sama kakek, nenek dan bapak ya Nak" suara itu keluar dari ponsel yang 3hari lalu dibelikan oleh ayah.
"Ibu kapan pulang?" Pernyataan Ibu tidak lagi ingin aku jawab, ternyata Ibu tidak lupa hari ulang tahunku.
"Sabar ya Nak, 2tahun lagi Ibu pulang" nada manis merayuku.
"Ineng....!!!" Terdengar suara dari kejauhan memanggil Ibuku.
"Sudah dulu ya Nak, Ibu dipanggil majikan, nanti Ibu telfon lagi, Assalamualaikum" nada cepat terlihat ibu terburu-buru.
"Tet.." belum sempat aku menjawab handphone sudah mati.
Aku ingin berontak, kapan aku punya Ibu? Sosok Ibu seperti teman-teman ku. Ketika pergi main ada yang meminta pulang untuk mandi, untuk makan, menyisirkan rambut setiap pagi sebelum sekolah. Aku tidak dapat semua itu, aku iri pada mereka.

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day07
#Terasi

***********Lanjutan**********

"Brum...Brum....!!" Terdengar suara motor ayah diteras rumah. Aku keluar melihat ayah dengan kantong kresek dimotor.
"Apa itu Yah?" Sambil menghampirinya.
"Ini..." Diulurkan tas kresek padaku
"Yey... Martabak manis" senyumku melebar, sambil menggandeng ayah masuk kerumah. Ayah sengaja  dari tempat kerja langsung kerumah sore itu. Kami duduk bersebelahan sambil menunggu adzan Maghrib.
"Main HP terus... Sini Ayah pinjam".
"Nih..." kujulurkan tangan dengan muka masam tanda tidak suka.
"Nomor baru siapa ini, pagi-pagi sudah telfon, adek sekolah yang pintar" tatapan tajam setengah cuek dan tegas.
"Ibu Yah, coba saja telfon" dengan nada sedikit ketus sebagai bentuk berontak ku.

Ayahku terdiam seperti menyembuyikan sesuatu sambil mengotak atik handphoneku. Isinya cuma game online pengusir kesendirianku. Ayah terpaksa menitipkanku, tidak mungkin meninggalkan Ibunya yang sakit dikota sebelah. Baginya bersama kakek dan nenek akan membuat ku memiliki sosok Ibu dan ayah.

Kakek dan nenekku terlihat semakin hari semakin bertambah kerutan di wajahnya. Kakek sudah pikun (bahasa jawa: pelupa) termakan usia. Nenekku yang selalu mengurusku, dia pun tidak kalah tua dengan kakekku. Meski sudah tidak tegak berdiri dialah yang menemaniku dan membesarkanku sejak Ibu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Waktu itu masih teringat jelas, ibu meminta ku segera tidur. Tengah malam dilelap tidurku dia pergi hingga kini wajahnya sudah tidak lagi terbayang. Tiga tahun bukan waktu yang sedikit bagiku.

***
Satu tahun kemudian usiaku akan genap sepuluh tahun. Pagi itu Nenek tidak seperti biasanya, dia melarangku sekolah sedangkan hari itu adalah hari Ujian Sekolah. Badannya menggigil, rupanya sudah 2 hari nenek tidak makan dan aku tidak tahu. Nenek selalu menyembunyikannya dari ku. Selama ini aku tidak pernah melihat nenek seperti ini bahkan untuk sakit rasanya tidak pernah. Buru-buru aku telfon ayah agar segera membawa nenek ke rumah sakit.

Aku duduk disampingnya, memberikan selimut tebal pemberian ibu sebelum pergi merantau.
"Fa... Jangan nakal ya, jaga sholat, temani kakek dirumah" kalimat sebelum terlepas pelukan terakhir. Rumah inilah saksi bisu hembusan nafas terakhirnya, tempat berbuka paling indah. Jantungku berdegup kencang, tangannya mendingin.

~Bersambung~

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day08
#Rumah






Saksimu


By Google


Dia mengalir lembut di kulit kering dan kerut
Setetes demi tetes terjatuh
Dia pergi kemanapun melangkahnya kaki
Kau mengenggamnya sampai lupa dia hanya air

Air yang mengalir tidak akan mampu tergenggam
Rasakan terpaannya, dia lembut selembut sutra
Rasakan, dia tidak akan menenggelamkan
Genggaman itu hanya akan melukaimu

Biarkan dia mensucikan lewat doa
Niatmu tetap indah dimata-Nya
Dia sejarah dan kenangan
Ketika setetes air wudu menyentuh kalbu

Kesuciannya harus terjaga dan kau jaga
Selayaknya Sang Surya dia akan terus bersinar
Bawalah sampai Tuhan menghentikan
Dia saksi kehidupan saat raga tidak bernyawa


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day06
#Wudu

Saturday, 11 May 2019

Pekerjaan Bukan Alasan



By Google

Malam itu terasa dingin, sunyi, sepi bahkan suara adzan tidak terdengar. Dava membawa sarung dan peci (kopyah), esok puasa pertama pasti semangat nya masih membara. Pemadaman listrik memang sering terjadi didesa kecil ini. 

Musholla sudah ramai mengalahkan toko Pak Surip samping rumahnya.
"Kurang awal, belakang deh" gumamnya
Jangan kan suara adzan, signal handphone ikut hilang bersama sinar malam. Sesaknya musholla itu mambuat Dava sholat beralas tikar. Berapa menit kemudian sholat tarawih pun dimulai. Baru rokaat pertama kaki dan kening Dava sudah jadi korbannya. Tanah dan bebatuan yang tidak rata membuat dirinya kesakitan.

Listrik sudah menyala, Dava kaget dia langsung lari kerumahnya, padahal saat itu belum selesai sholat nya. Kakak Dava bernama Dewi, dia tinggal dikota. Sudah dua bulan tidak pulang menunggu lebaran katanya. Dewi bekerja disalah satu mall terbesar dikotanya. Percakapan pun terjadi via handphone
"Halo Kak Ewi, kapan pulang?" Sambil menempelkan handphone ditelinga nya
"Halo Adek Jele' kaka pulang sebelum lebaran, puasa tidak besok?" Pertanyaan manja si kaka
"Puasa dong, dedek ganteng tarawih lho" suara polos anak TK. Dava bercerita panjang lebar kejadian tadi. Dewi pun terdiam, dipuasa pertama dia tidak bisa mengikuti tarawih dan tidak tau sampai kapan. Banyak yang bilang apa yang sudah pergi baru terasa berarti. Satu tahun sekali hanya satu bulan dan belum tentu akan bertemu lagi. 

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day05
#Tarawih

Friday, 10 May 2019

Tak Bertuah


Taken by Me

Berawal dari ngabuburit, waktu sesukamu buat menunggu buka puasa. Seperti biasa setumpuk kertas telah menunggu dipagi itu, tanpa senyuman. Pekerjaan membuat ku tetap harus terpana meski dia tidak tersenyum sedikit pun. Datanglah cahaya silau dari luar, ternyata si big bos manager sedang memantau kurcaci2 seperti kita. Jeglek,... Listrik bersahabat, kita tidak bekerja

Si bos tiba-tiba menawarkan untuk jalan-jalan. Awalnya kami menolak, si dedek dalam perut teman kerjaku sudah ngantuk berat. Namun setelah panasnya kotak beracun itu, kami memutuskan untuk menerima tawaran si bos berburu baju lebaran.

Waktu terasa lebih cepat dari biasanya, rekan kerja dan customer pun nangkring berkali kali dihp jadul bawaan kantor kerja. Perjalanan terasa biasa sebelum sekitar jam 3, lagu dangdut jawa populer menggoyang gerobak abang-abang getuk dengan girangnya. Sontak mataku terbuka dan melemparkan kata "mblo...itu" sambil menunjuk keluar jendela diiringi siliran angin Ac mobil.  "Ciee...!?" ketawanya seolah mengerti isyaratku, kalimat yang terbiasa dia dan rekan lainnya katakan, saya hanya tersenyum itu lucu. Dia orang paling bahagia itulah kalimat yang teringat dari rekan kerja. Seolah mereka sudah kena candu buat bullying padaku atau memang wajahku yang terlihat biasa saja membuat mereka tidak jemu mengoda. Bahagia semudah dan sesederhana itu, ayunan sepeda onthel lama dengan modifikasi gerobak jualan tidak mengugurkan semangatnya. Ayunan demi ayunan untuk sampai puncak ketinggian fly over yang luar biasa. Salut pada semangatnya, sebagian dari kita memilih produktif diacara ngabuburitnya.
Bagaimana dengan kita?

#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day04
#Ngabuburit

Wednesday, 8 May 2019

PANGGIL SAJA FIFA





Taken By Fifa

Cahaya dari kaca jendelaku tampak redup, tenang, seperti badanku yang terasa lebih tenang dan berat akibat gravitasi kasur. Iya kebiasaan anak FIFA, bukan peserta kesebelasan olahraga itu nama kos tercintah kami. Pagi ini masih sepi kami menikmati akhir pekan dengan bermalas-malasan.

Hari Ini piket kamarku masak, tentunya dengan sohib sekamarku, menu buka puasa. Suara terompet andalan Pak Sayur menjadi  alarm yang memaksaku bangun. Suara tetangga samping yang tidak kalah dengan musik rock and roll tidak mampu membangunkan Emoon (sohib kamarku), efek konser semalam bersama drama korea kesukaannya.

"Sayur...sayur...!!! Nyaring, melengkingnya suara Pak Sayur. Kami pun keluar dengan mata belekan, sedikit sipit seperti keturunan china. Belum apa-apa kacang hijau, gula merah dan teman-teman pelengkap kolak dipesan oleh Emoon (bacanya eMuuun). Aku juga tidak mau kalah, seabrek bahan sayur kesukaan anak FIFA terkumpul. Setelah semua tersiapkan kami melanjutkan aktivitas seperti biasa.

***

Rasanya mataku baru berkedip tetapi senja tidak malu-malunya buruan menyapa. Kami kembali beraksi dengan aneka sayur mentah, Emoon bersiap untuk masakan andalannya oseng jamur krispi sebagi hidangan pembuka. Dia paling jago buat mengotak atik sayuran jadi lauk ala shep Emoon . Hobbynya itu kini berlanjut di cookpad ini. Eich Emoon itu nama panggilan sayang dari ku berawal dari kisah Munaroh dan Bang Ocit ditelevisi. Kita lanjut ke masakan, bagianku adalah memotong-tong mereka hingga siap di masukkan wajan. Si Emoon sibuk membuat bumbu dan menggoreng lauk berbahan kedelai busuk hasil fermentasi itu.

Sekejap saja makanan buka dan sahur besok sudah siap diboyongnya. Kini tugas berganti padaku membuat makanan pembuka, pakai basmallah aja kali ya. Kolak kita sore ini pakai kacang hijau, pasti menunggu seabad buat dia mekar sempurna. Sembari membiarkan dia mengembangkan diri, aku nimbrung bareng dikamar nonton drama korea yang tidak tahu ceritanya. Ngangguk-ngangguk aja biar Emoon senang mesti tidak paham juga. Satu episode selesai, "bau apaan ini" teriak senior ganas dikosan. Eits lupa kacang hijau ku, sudah habis oleh sijago merah dia menghitam pekat.


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day03 #Kolak

Tuesday, 7 May 2019

Satu Gelas Beda Warna "itu biasa"


by Google

Namaku Panda itu namaku bukan julukan, mungkin ibuku ngidam panda saat hamilku atau berharap punya anak selucu panda. Sebagai anak rantauan kali ini tidak berbeda belanja diawal bulan adalah kebiasaan bukan karena baru gajian namun kebutuhan. Sempit dan sesaknya toko retail yang tidak kalah terkenalnya masa kini menjadi pilihan. Deretan sirop tengah berjejer rapi didepan menjadi tranding topik masa kini. Seperti jeritan untuk segera dipinang, seolah dia memanggil manggilku. Aku hanya pecinta sirop bukan penikmat sirop. Wajar saja Panda tidak suka sirop.

Teringat masa kecil kalau sudah iklan sirop bermunculan pertanda puasa disegerakan. Suka membelinya agar orang tersayang sebagai penikmatnya. Setidaknya kalau pulang bisa melihat senyum manis si emak dan bapak semanis delight. Lirik sedikit jadi ingat squash delight. Salah satu merk rekomendasi ini mengingatkanku pada salah satu cerpen yang pagi tadi sempat terbaca olehku.  Iya, si anak kecil atau orang jawa medok seperti ku yang tidak pandai melafalkan bahasa Inggris membaca squash delight menjadi squaas delik. Logat medoknya terbayang diotakku. Sekilas saja cerpen itu membuatku tersenyum senyum tersipu malu.

Sembari memilih-milih si pelangi, sontak teringat kejadian berapa bulan yang lalu, pasti kalian ingatkan ada hal bersejarah di Indonesia, iya pemilu. Hal yang serentak dilakukan berapa bulan lalu, disana hanya ada dua warna tetapi tidak seindah demokrasi sebelumnya. Padahal kita beda warna tetapi tetap dalam satu gelas.
"Hemm...deretan warna warni dunia memang tidak sesingkat warna sirop", gregetku sembari menghela nafas panjang.
Sayangnya aku sendiri gumamkupun tidak ada arti. Empat warna hidup dalam sebotol sirop. Merah tandanya kamu tidak boleh mudah marah, menyerah apalagi sampai hilang arah. Dulu hijau, membuat semangat dan mau maju. Sekarang putih tidak berwarna tetapi tetap gigih dan mampu berfikir jernih. Namun esok adalah favorit karena kuning membuat hatimu tetap bening. Bagitulah celoteh tiruan Panda kecil kesayangan bapaknya. Mereka boleh berbeda warna namun toleransi antar sesama menjadi nikmat dan indah antar sesama.


#RWCodop2019
#OneDayOnePost
#Day02 #Sirop

Monday, 6 May 2019

Jaga Hati Tahan Kata


Taken by Me
Taken by Me

Katakan bahwa teriakan itu sudah tidak mampu terucap
Air mata itu hanya simbol terkuak
Dosa dan dosa menjelma disela denting lantunan Ayat-Nya
Tangan menengadah pelukan itu sangat nyata

Bukankah puasa yang menguatkanmu
Bukankah puasa itu awal nalarmu berat menjadi mudah
Dia tidak sesesak debu hamburan dijalan
Laparmu seolah tiada, makanan bukan hal lezat yang dirindukan

Nikmat puasa terasa lebih dinantikan
Seperti halnya roda, titik tumpu ada padamu
Bukankah nikmat menjalari kata ikhlas dalam jiwa
Dia membersihkan otak dan hatimu


#RWCodop2019 #OneDayOnePost #Day01 #Puasa

Friday, 3 May 2019

Cabai Kalimantan

Shobat semua pasti tidak asing dong dengan cabai. Iya kali ini lagi pengen nih bahas tanaman kecil yang mak...nyess ini.

Sebenarnya ini cabai dijawa juga ada sih, cuma berhubung ketemu nya... Cie, awal jumpa di Kalimantan, tepatnya Singkawang Kalimantan Barat jadi sebut saja cabai Kalimantan.

Nah buat yang mau menanam terutama pemula nih tipsnya :
1. Siapkan benih
Sama saja benih lokal mesti disortir juga, biar gampang cari buah yang matang sempurna. Seperti Gambar 1. keringkan dibawah sinar matahari tujuannya biar tidak busuk dan rusak kan mau transit nih dari Kalimantan ke Jawa. Selain itu bagus juga kalau mau disimpan, ingat tidak bisa lama juga ya.
Gambar 1

2. Siapkan Media Tanam
Media tanam untuk benih banyak banget gaes tapi lebih baik pakai yang gembur dan bebas hama penyakit. Kemarin punya saya cukup pakai tanah, karena tidak mau ribet.

3. Persemaian
Media yang sudah disiapkan "tanah" boleh yang lain yang penting gembur. Siram terlebih dahulu kemudian ditabur benih dan ditutup dengan tanah yang halus (tipis saja). Kurang lebih satu minggu maka bibit sudah terlihat.